Sastra kontemporer Jerman pasca pameran buku di Frankfurt 2005 dan di Leipzig 2006

Sulit untuk dipercaya, namun pada musim semi 2006 telah terjadi sesuatu yang mencengangkan dalam industri sastra Jerman, sesuatu yang hanya disinggung sedikit di sini: kita sedang melihat sebuah renaisans politik yang menyedot perhatian dalam dan di sekitar sastra. Sebuah perkembangan yang tidak hanya dibuktikan dengan kontroversi tentang keterlibatan sejumlah penulis dalam kampanye pemilu legislatif lalu.Ada upaya untuk menghidupkan kembali hubungan antara sastra dan politik. Ada banyak gerakan baru, tapi tidak ada lagi upaya keras dan kegelisahan tahun-tahun sebelumnya ketika orang selalu mencari label baru untuk hal-hal yang tidak baru dan seringkali yang banal (Fräuleinwunder/semacam sastra wangi di Indonesia, Ostalgie/karya sastra yang mengangkat tema Jerman Timur pasca reunifikasi). Atas latar belakang inilah, pada musim panas yang lalu Helmut Böttiger, seorang kritikus sastra, menilai bahwa sastra kontemporer Jerman terlalu „berperilaku baik“, teratur dan monoton. Tapi kemudian beberapa minggu kemudian sejumlah buku baru yang brilian tampaknya telah mengubah total citra ini.
Selanjutnya ada tren ke arah roman keluarga dan akhir-akhir ini juga Bildungsroman. Sejarah tetap menjadi tema, kejermanan makin kerap menjadi tema: misalnya yang digarap secara klasik oleh Wolfgang Büscher dalam Deutschland, eine Reise (Jerman, Sebuah Perjalanan) atau buku karya Reinhard Jirgl, Abtrünnig (Durhaka). Wawancara dengan Daniel Kehlmann Ich wollte schreiben wie ein verrückt gewordener Historiker (Saya ingin menulis seperti seorang sejarawan yang jadi gila) menegaskan hal ini. Ada suatu „hype“ yang tak bercontoh tentang sastra kontemporer Jerman di dalam dan luar negeri, bahkan di pasar-pasar yang sulit seperti di Amerika.
Roman karya Daniel Kehlmannn tentang Alexander Humboldt dan Carl Friedrich Gauß Die Vermessung der Welt (Pengukuran Dunia) yang sebenarnya roman tentang dua tema, yakni „orang Jerman dan usia tua“, telah terjual sekitar 600.000 eksemplar dalam waktu beberapa minggu. Kabarnya buku ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa. Roman atau „roman anti keluarga“ karya Anno Geiger Es geht uns gut (Penghargaan Buku Jerman) sudah terjual sekitar 200.000 eksemplar, juga buku Neue Vahr Süd karya Sven Regener, Der Schachautomat (Mesin Catur) karya Robert Löhr dan buku-buku lainnya diterima baik di luar negeri.
Penjelasan atas hal ini tidak cukup hanya dengan fakta bahwa para penulis muda ini menulis dengan lebih sederhana, tidak terlalu berbelit-belit dan susah dipahami kalau dibandingkan dengan rekan tua mereka. Sebab di sini gambarannya sangat tidak seragam.

Sastra kontemporer Jerman makin menjadi hidup. Ia memeroleh pembacanya melalui keragaman tema, motif dan subyek dan tentu saja jangkauan narasinya. Tampak jelas munculnya aliran-aliran dan tren-tren tertentu. Ini adalah ekspresi sastrawi dari perkembangan dan keadaan masyarakat. Sastra kontemporer Jerman sekarang ditandai oleh suatu – hampir bisa dikatakan – kekuatan bercerita yang mencengangkan yang kembali didapati para penulisnya. Apakah tendensi lahirnya kembali politik dalam sastra akan menguat dan terus berkembang, tinggal menunggu waktu. Banyak hal mendukung ke arah sana, dan menarik untuk melihat perkembangannya. Dan mungkin kita lihat bagaimana nanti dalam pameran buku Frankfurt 2006.
Clemens-Peter Haase
adalah kepala bagian sastra dan dukungan promosi terjemahan di Goethe-Institut
Terjemahan: Arpani Harun
Copyright: Goethe-Institut, Online-Redaktion
Juli 2006
Links
- Reinhard Jirgl: Abtrünnig (Renegade) and Arno Geiger: Es geht uns gut (We Are Doing Well), published by Hanser

- Daniel Kehlmann: Ich wollte schreiben wie ein verrückt gewordener Historiker (Saya ingin menulis seperti sejarawan yang jadi gila), Harian Frankfurter Allgemeine Zeitung tanggal 9.2.2006)

- Robert Löhr: Der Schachautomat (The Mechanical Turk)









