Literatur dan Politik
Bahwa mantan kanselir Jerman Gerhard Schröder dulu senang mengundang penulis ke rumahnya sesekali waktu dan berfoto bersama mereka, itu bukan rahasia lagi, dan bahwa beberapa dari penulis menyukai acara ini, itupun sama-sama kita ketahui. Akan tetapi, sejak beberapa waktu ini ada perkembangan lain yang muncul dalam hubungan antara literatur dan politik yang bukan ditandai oleh persetujuan yang ramah terhadap kebijakan kanselir (Kanzlerplausch) . Kiranya terlalu sederhana kalau kita hanya berbicara dikotomi kaum kanan dan kiri.
Dalam buku barunya Alles auf dem RasenKein Roman Juli Zeh menampik kejenuhan umum akan politik, ia mengklaim ruang bagi perancangan politik dan menghimbau dikaitkannya lagi sastra dengan politik. Pada pemilu legislatif 2005 lalu Eva Menasse, Michael Kumpfmüller, Feridun Zaimoglu, Benjamin Lebert dan banyak penulis lain menyerukan secara terbuka untuk memilih SPD (Partai Sosial Demokrat) yang cenderung beraliran kiri yang kemudian memprovokasi munculnya arus kontra dari penulis seperti Thea Dorn
atau Monika Maron yang aktif menghimpun suara untuk memilih calon kanselir Angela Merkel dari CDU (Partai Uni Kristen Demokrat) yang konservatif. Uwe Timm dan Ingo Schulze merekomendasikan untuk lebih memperhitungkan partai kiri. Sebaliknya beberapa penulis dari generasi muda dan menengah disebut-sebut menunjukkan „kerinduan reaksioner“ akan rekonstruksi konservatisme otoriter. Beberapa dari mereka - seperti pemenang penghargaan Bachmann dan sopir tank
Uwe Tellkamp – dituduh memiliki kedekatan intelektual dengan Revolusi Konservatif tahun 20- dan 30-an, sebuah gerakan yang menginginkan kembalinya fasisme. Sementara yang lain seperti Matthias Politycki dianggap berkecimpung dengan proyek dionisis, sebuah dunia inderawi, dunia ekstase yang di dalamnya di balik setiap sudut tidak hanya ada ujian dan kegembiraan yang meluap-lupa, tapi juga bahaya dan kematian – dan kedekatan dengan kematian adalah harga dari kehidupan yang intensif.
Konsep narasi yang realistis
Pada Tellkamp yang dengan romannya Der Eisvogel (Sang Burung Es) mengajak kita ke lingkungan kanan dan kanan-baru kita dikejutkan dengan pengetahuannya yang sangat dekat dengan lingkungan seperti itu, walaupun ini tidak bisa dijadikan alasan untuk memunculkan „kecurigaan umum“ tentang kedekatannya dengan Revolusi Konservatif.
Ketika berdiskusi tentang motif-motif politik Politycki orang tidak hanya merujuk pada buku baru pengarang ini, Herr der Hörner/Tuan Tanduk, tapi juga pada komentar-komentarnya yang berbau "programatis": dalam sebuah Manifesto untuk realisme relevan yang ditulis Matthias Politycki bersama-sama dengan Thomas Hettche, Michael Schindhelm dan Martin R. Dean, para penulisnya di satu sisi menentang tendensi-tendensi tertentu dari sebuah literatur yang mereka anggap ceroboh atau banal dan beralih kepada konsep narasi realistis, di sisi lain banyak dari teori mereka tampak dekat dengan posisi „nilai konservatif“ yang terlalu politis yang juga tak disangkal oleh Matthias Politychi meski ia membantah telah bermaksud memberi karakter manifesto pada naskahnya.
Dari dulu memang „yang politis“ itu dalam sastra kontemporer Jerman selalu memiliki beberapa wajah. Ia terartikulasikan dengan berbagai cara. Seminar-seminar dan kongres-kongres tentang tema „Sastra dan Politik“ muncul di mana-mana bagai jamur di musim hujan. Akan tetapi, dua atau tiga tahun yang lalu ketika banyak penulis mengangkat tema-tema sosial kemasyarakatan – mungkin kita ingat karya Michael Kumpfmüller Durst (Haus) atau karya Angelika von Klüssendorf Aus allen Himmeln (Dari Semua Langit) – sudah ada petunjuk bahwa latar belakang politik seperti fenomena sosial dan
kemasyarakatan serta kontradiksi juga menjadi perhatian dalam sastra. Pada Raul Zelik ini terlihat dalam roman barunya Berliner Verhältnisse. Unterschichtenroman (Kondisi di Berlin. Roman Lapisan Bawah). Latar belakang politik ini juga terlihat jelas pada roman terbaru karya Thomas Palzer Ruin (Puing) yang mendapatkan penghargaan Tukan (Penghargaan Sastra Kota München). Gaya ekspresi kedua roman sangat berbeda: yang satu agak kasar dan provokatif, roman yang satu lagi lebih terasa melankolis, demikian komentar seorang kritikus. Tapi kedua roman ini punya kesamaan, yakni penggambaran dampak-dampak kerusakan dan kehancuran jiwa yang mengembangkan „pengolahan semua bidang kehidupan“ dalam individu.
Bahkan pada contoh roman-roman yang ditulis Clemens Meyer Als wir träumten (Ketika Kami Bermimpi), Claudia Klischat Morgen. Später Abend (Pagi. Kemudian Malam) dan Kirsten Fuchs Die Titanic und Herr Berg (Titanic dan Tuan Berg) Jana Hensel, sang kritikus, melihat bahwa sastra kontemporer Jerman sedang bergerak ke „wilayah-wilayah masyarakat yang secara sosial terpinggirkan“ dan telah menemukan „pahlawan-pahlawan dari lapisan bawah“. Saat ini ia melihat munculnya sebuah literatur yang kembali mempersoalkan orang-orang yang ditentukan (statusnya) secara sosial dan determinasi-determinasi sosial yang muncul dalam pemerintahan koalisi Merah-Hijau dan dalam bayang-bayang „kantor tenaga kerja, Ich-AG (semacam usaha sendiri, perseroan yang hanya terdiri dari satu orang, yaitu si pelaku usaha), pengangguran, tunjangan sosial dan Hartz IV (program untuk pengentasan pengangguran di Jerman yang dinamai berdasarkan ketua tim yang situnjuk pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran, cat. pen.) dan yang berpihak. Perkembangan yang sama bisa juga dilihat pada penulisan naskah drama Jerman sekarang.
adalah kepala bagian sastra dan promosi penerjemahan di Goethe-Institut
Terjemahan: Arpani Harun
Copyright: Goethe-Institut, Online-Redaktion
September 2005Links
- Juli Zeh: Di Padang Rumput. Bukan Roman

- Gerrit Bartels: Siput-siput Mulai Bergerak Tentang keterlibatan Günter Grass dalam kampanye pemilu legislatif 2005; dalam harian taz tanggal 13-8-2005

- Richard Kämmerlings: Memalukan, Bung! Pengarang berkampanye, dalam harian Frankfurter Allgemeine tanggal 14-9-2005

- Manifesto dari Politycki serta jawaban antara lain dari Tellkamp, Zeh dengan judul Apa fungsi roman sebenarnya? Dalam Die Zeit edisi 23 Juni 2005

- Michael Kumpfmüller: Kehausan

- Angelika von Klüssendorf: Dari Semua Langit dan Clemen Mayer: Ketika Kami Bermimpi

- situs Thomas Palzer









