Kritik Sastra

Kritik sastra

Catatan-catatan tentang perubahan makna

Koran-koran berbahasa Jerman; Copyright: Goethe-Institut 1983 dunia tampaknya masih beres. Dalam buku kumpulannya Germanistik als Literaturkritik (Germanistik sebagai Kritik Sastra) Walter Hinck melukiskan kritikus sastra sebagai „Orang di detik-detik awal“ yang baginya buku baru seperti pulau yang baru ditemukan“.

Selanjutnya Hinck melihat makna kritik sastra tampak pada fungsinya sebagai wadah yang membantu sebuah buku (baru) sampai ke tangan publik, atau „memperluas lapisan masyarakat yang tertarik pada karya sastra“.

Lima tahun kemudian Hans Magnus Enzensberger menulis tentang „jaman kegelapan peresensi“ dan dalam konteks ini ia mengeluhkan hilangnya kritikus klasik yang kompeten. Menurut Enzenberger, kini yang dilihat hanyalah tren yang jadi biang keladi perkembangan ini. Bentuk resensi tidak bisa diselamatkan lagi, „jurnalis sastra pun hidup dari materi yang ditinggalkan oleh si kritikus untuknya. Dan manakala materi ini sudah habis dibahas, yang tersisa hanyalah pepesan kosong.“

Kritik yang paling pedas terhadap kritik sastra kontemporer dilontarkan Daniel Kehlmann pada April 2002 di majalah volltext: orang yang sama yang dulu mengutip Adorno pada setiap paragraf tulisan mereka yang mirip cerita, kini kehilangan tajinya akibat sikap antusias mereka menerima gambaran-gambaran yang paling sederhana dan realistis dari cerita-cerita yang menampilkan kehidupan sehari-hari. Mereka tak begitu mau tahu tentang apa yang telah mereka tulis sebelumnya mereka seperti halnya di masa depan mereka juga tak akan mau tahu tentang tulisan mereka hari ini. Kritik sastra Jerman kini […] telah betul-betul kembali ke sikap manasuka pelakunya – sang kritikus – sehingga ia tak lebih dari obrolan ringan yang memang punya pengaruh, tapi tidak bermakna. Suatu saat tulisan mereka terkesan membela kelompok pengarang avantgarde yang tak mereka pahami, di saat lain membela kelompok tradisi yang tak mereka ketahui. Artinya, mereka lebih mengikuti arah pasar, apa yang sedang „ngetrend“, itulah yang diikuti.“

Daya normatif dari kritik sastra telah hilang. Walaupun sekarang ada banyak kritikus yang brilian, tetap saja mereka tidak bisa memberikan efek yang kuat seperti pendahulu mereka. Tentu saja perkembangan ini juga berhubungan dengan telah berubahnya isi dari kritik sastra itu sendiri. Kalau dulu dengan membaca kritik sastra orang bisa mendapat informasi tentang situasi humaniora di Jerman dan tentang aliran-aliran paling aktual dalam perkembangan sastra dan dengan demikian juga memperoleh semacam pandangan sosial, maka kini kritik sastra kita terikat erat dengan terbitnya buku baru dan hanya berkutat dengan itu saja tanpa mengupasnya dari seluruh aspek.

Industri sastra makin komersial

Mario Adorf di Pameran Buku Frankfurt 2005; Copyright: Pameran Buku Frankfurt; Fotografer: HirthApabila di bidang kesusasteraan kritik sastra yang klasik didesak oleh jurnalisme sastrawi, maka kini pembahasan teks secara intensif telah tergantikan oleh hal-hal diluar teks itu sendiri seperti potret, wawancara, home stories. Perkembangan ini menjadi fenomena baru dimana penulis dan gagasan mereka menjadi lebih penting daripada buku mereka. Industri sastra nyata-nyata telah mengalami proses komersialisasi. Memang kritik sastra masih diperlukan dalam kesusasteraan, namun pasar hanya membutuhkannya dengan syarat tertentu: membantu pemasaran buku. Mekanisme dan strategi untuk membawa buku kepada pembaca menjadi lebih beragam. Kini ada acara-acara kesusasteraan, agen-agen sastra, gedung-gedung sastra, aksi-aksi spektakuler seperti „kereta promosi sastra“ yang menempuh perjalanan ke seluruh Eropa, festival-festival sastra yang besar. Pendeknya, seluruh bidang penyelenggaan acara dan pemasaran kini makin menjadi model dalam menyebarluaskan karya sastra.

Bentuk tradisional kritik sastra masih ada, tapi ia dilengkapi dengan bentuk-bentuk presentasi yang lain yang lebih didasari pada gagasan pelayanan kepada konsumen. Contohnya tip membaca, kritik pendek, rekomendasi dari tokoh-tokoh terkenal. Resensi yang bagus di mata kalangan penikmat atau kritikus sastra dengan uraian-uraian yang ngejelimet, yang hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu, adalah sebuah relik yang makin kurang diminati surat kabar. Alasannya adalah para pembaca tidak lagi menyukai tulisan yang cenderung rumit.

Pameran Buku Frankfurt 2005; Copyright: Pameran Buku Frankfurt; Fotografer: HirthIni bukan berarti bahwa tingkat kritik sastra sekarang menjadi lebih rendah. Perkembangan ini hanya mengikuti keinginan pasar yang harus gesit melihat gelagat. Buku-buku yang tak terjual dalam waktu empat sampai enam minggu, langsung diganti dengan buku lain. Jadi para kritikus pun sulit mengikuti irama ini. Biasanya mereka tidak punya kesempatan lagi untuk menulis kritik yang mendalam untuk kemudian menghubngkannya dengan buku yang keluar atau mendiskusikan rujukan yang lebih rumit. Selain itu, apa yang tidak dibahas dalam suplemen literatur yang diterbitkan berkenaan dengan pameran buku di Frankfurt dan Leipzig, peluangnya di pasar bisa dikatakan sangat kecil. Artinya, pembahasan dalam kritik sastra umumnya diorientasikan pada isi dan topik. Pertimbangan-pertimbangan estetik dikurangi dan diganti dengan kata-kata standar seperti „cukup luas dilihat dari aspek epiknya“ atau „piawai dan punya gaya khas“ dan frasa-frasa serupa yang tidak menyatakan apa-apa. Pembahasannya umumnya cenderung positif ketimbang negatif karena jarang si kritikus bisa mengunkapkan hal yang kritis tentang isi buku. Dan untuk menilai aspek yang paling penting, yakni pembahasaan sebuah bahan jelas membutuhkan waktu dan ruang yang banyak yang sejatinya tidak ada. Lagi pula, kurangnya tempat membuat kritik yang menjatuhkan cenderung dibuang. Raibnya para kritikus Masalah ini diperparah oleh kenyataan bahwa kritikus profesional yang independen dalam waktu dekat tidak akan ada lagi. Perkembangan ini dipicu oleh alasan ekonomis. Para editor melahap sendiri mutiara (baca: buku-buku bagus) di antara buku-buku yang baru terbit dan dengan demikian resensi mereka sudah banyak makan tempat sehingga tak tersisa lagi bagi kritikus profesional. Sekarang malah mereka terpaksa membahas banyak judul buku karena tidak ada dana untuk membayar honor kritikus lepas.

Alasan kedua atas menghilangnya lambat-laun kritikus lepas adalah masalah pembayaran honor penulisan artikel yang tidak sejalan lagi dengan perkembangan biaya. 35 sen – kira-kira 3.500-an rupiah - per baris bila dipublikasikan di koran nasional sangat sedikit untuk pekerjaan yang akan memakan waktu 1-2 hari. Ke depan – selain editor tetap – akan ada banyak kritikus muda yang masih bernafsu tulisannya dicetak, dan juga para guru besar yang diangkat yang suka menulis di rubrik sastra surat kabar. Perkembangan ini tentu saja berpengaruh terhadap kualitas kritik.

Mengukur potensi dan batasan kritik sastra

Kalau dibandingkan dengan negara lain, kritik sastra yang ditulis dalam bahasa Jerman masih cukup bermutu meskipun di banyak surat kabar halaman sastra sudah ditiadakan. Bagaimana pun juga, saya tidak melihat banyak inovasi dalam penulisan kritik sastra sekarang. Di setiap musim ada kanon (baca: buku-buku laris) yang dibahas di mana-mana dan setumpuk judul lainnya tak perlu dilirik. Menurut Thomas Steinfeld, kepala rubrik sastra pada harian Süddeutsche Zeitung, dari enam sampai tujuh ribu judul karya sastra yang terbit setiap tahunnya sekitat 2000 dibaca dan dari jumlah ini lebih dari 1000 judul dibahas di harian FAZ (Frankfurter Allgemeine Zeitung) dan 500 di harian Süddeutsche Zeitung.

Koin Euro; Copyright: Pixel Quelle; Fotografer: Stefean WilludaGenre kritik sastra jelas tidak bisa memberi pembaruan pada perkembangan sastra. Bidang ini semacam disiplin level atas karena di sini para kritikus bekerja dengan dan dalam media yang sama, bentuk paling bagusnya semi-literer, bahasa merespon bahasa, teks merespon teks. Mengukur teks pada klaimnya, pada konsepnya dan memilih kriteria dari teks yang bisa dioakai si perensi dalam menulis kritiknya, tampaknya menjadi resep yang bisa dipakai.

Banjir buku; Copyright: Pixel Quelle; Fotografer: Dietmar Meinert Kritik sastra tidak boleh melulu menjadi semacam instrumen PR, melainkan kendaraan untuk mengerakkan dan memelihara dialog tentang sastra di lingkungan kesusasteraan. „Memperluas“ – seperti kata Hinck – „kelompok masyarakat yang tertarik dengan sastra“ memang merupakan salah satu tujuan sastra, tapi ia juga bisa menyebabkan perkembangan sebaliknya: tekanan akan kuota, waktu yang mepet, kondisi kerja yang buruk untuk kritikus profesional, tuntutan akan penyederhanaan dalam menyampaikan kritik, baik bantuk maupun isinya, memicu menurunnya mutu kritik sastra itu sendiri. Apabila pembahasan karya sastra melalui kritik berbobot dan serius kembali lagi ke permukaan dan kritik sastra meninggalkan kehebohan yang sifatnya musiman, lalu bila potensi dan batasan kritik sastra direfleksikan dan ketertarikan umum pada jenis kritik serius itu meningkat, maka harusnya orang tak perlu takut pada kritik sastra.

Dr. Thomas Kraft
adalah kritkus sastra dan kolumnis

Terjemahan: Arpani Harun

Copyright: Goethe-Institut, Online-Redaktion

September 2006

Links

Literature for children and youth

German language literature for children and youth

Signandsight

Information on new German books