Pramoedya Ananta Toer - Penulis Terbesar Indonesia Abad ke-20

![]() |
| Pramoedya Ananta Toer |
Ketika Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya, Pram ikut memanggul senjata memerangi Belanda dan sekutunya yang hendak menjajah kembali bangsa muda ini. Pram terlibat dalam bentrokan maut dan sempat menjadi tahanan Belanda selama tiga tahun: masa yang ia hadapi dengan menulis cerita pendek dan novel. Begitu kedaulatan Indonesia sudah dikukuhkan, Pram meninggalkan senjata api dan sepenuhnya memilih aksara untuk untuk merawat dan membangun negeri yang ia ikut dirikan. Ia menggunakan aksara antara lain untuk mengupas penyakit kronis yang mengidap di tubuh Indonesia, untuk menggali sekaligus mengukuhkan akar-akar kebangsaan Indonesia yang tumbuh di tengah pertarungan kekuatan sosial- politik dan sejarah dunia.
![]() |
Pram lahir sebagai anak sulung, pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ibu Pram adalah putri seorang pemuka agama: perempuan keluarga terpandang yang oleh adat dilarang menyapu dan masuk dapur. Kehidupan yang berubah sulit membuat ibu yang sangat dihormati Pram itu harus menopang keluarga dengan bekerja kasar mengolah sawah dan pekarangan, bahkan berjualan nasi. Ayah Pram seorang bangsawan kecil yang sempat mengajar di sekolah dasar milik Belanda. Ia kemudian memilih jadi kepala sekolah “liar” milik organisasi pelopor pergerakan nasional Budi Utomo, dengan gaji yang sangat kecil dan masa depan yang tak pasti sebagai penampik pemerintah kolonial.
Menurut pengakuannya sendiri, Pram bukanlah anak yang dianggap cerdas. Ketika pendidikan dasarnya rampung dan ia hendak lanjut ke sekolah menengah, ayahnya dengan tegas menyuruhnya kembali mengulang di sekolah dasar. Meski sakit hati, Pram tak mundur menempuh pendidikan ulang dan sempat mengenyam bangku Sekolah Teknik Radio di Surabaya. Serbuan Jepang membuat Pram tak sempat diwisuda, dan ia kemudian bekerja sebagai juru ketik di kantor berita Jepang “Domei” sampai tahun 1945. Dari juru ketik yang dianggap bebal bahkan oleh ayahnya sendiri inilah, kelak lahir rentetan paragraf yang pengaruhnya bagi sejarah sastra dan intelektual Indonesia Abad ke- 20 tak akan pernah bisa dihapuskan.
Selama hidupnya, Pram menghasilkan lebih dari 20 karya utama, dan sejumlah terjemahan dan suntingan. Ia menulis dalam semua bentuk utama sastra, kecuali sajak. Esei Panjangnya Hoakiau di Indonesia, yang berusaha membela hak asasi warga keturunan Cina adalah dokumen berharga yang menentang rasialisme negara dan masyarakat. Cerita-cerita pendeknya yang ditulis di sekitar masa Perang Kemerdekaan, punya mutu sastra yang sulit ditandingi. Surat-suratnya yang ditulis selama di pembuangan dan kemudian terbit dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris menjadi The Mute’s Soliloquy) menghadirkan dengan liris kemampuan manusia bertahan di sudut dunia yang menistakan martabat. Tetralogi Pulau Buru membuat Pram kian dikenal luas oleh khalayak sastra dunia dan jadi pahlawan pujaan di kalangan tertentu pembaca muda di tanahairnya.
![]() |
Ketika Pram diciduk di tahun yang penuh darah itu, ia bahkan menawarkan perpustakaan itu kepada penguasa dengan harapan isinya dapat dimanfaatkan. Tapi, penguasa yang memusuhi Pram tak begitu tertarik menyelamatkan sejarah Indonesia dan lebih suka menumpuk kekuasaan, dengan cara apapun, termasuk dengan menghancurkan dan menyelewengkan sejarah. Penguasa milter yang tak cukup terdidik untuk menghimpun sikap yang bermatabat pada aksara itu, bukan hanya membakar buku-buku koleksi Pram; mereka bahkan melarang Pram menyentuh kertas dan kemudian memberangus buku-buku baru Pram, termasuk buku yang dilahirkan di pembuangan. Karena mengedarkan novel Pram, tiga anak muda dibekuk lalu dipenjara 8 tahun; hukuman konyol yang bahkan pemerintah kolonial Belanda pun tak pernah jatuhkan.
Kini Rejim Soeharto sudah tumbang, dan karya-karya Pram, anak-anak rohaninya, telah menyebar, meski secara hukum masih terlarang. Beberapa di antara karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa. Tak semua karya Pram menunjukkan pencapaian mutu sastra yang menakjubkan ─ kadang-kadang kepiawaian berbahasa dan imajinasinya tampak sungguh bersahaja; tapi, karya-karya tersebut memang bukti ketangguhan yang tak tertandingi untuk membangunkan pembaca menyadari kehadiran kaum yang tertindas dan sisi kelam masyarakat, untuk mempererat solidaritas kebangsaan sembari membentangkan wawasan sejarah dan dunia yang rasional buat bangsa muda yang sedang menjadi. Pramoedya Ananta Toer memang milik abad ke-20, tapi dengan warisan yang berharga untuk abad 21.
Nirwan Ahmad Arsuka
Esais, kritikus sastra, editor.
Publikasi dan penerjemahan artikel atas izin penulis.










