Sastra Indonesia: Kaum Muda dan Perempuan
Di simpang abad ke-20 dan ke-21 ini, denyut nadi sastra Indonesia tetap masih sangat tergantung pada anak-anak muda. Kaum tua, yakni mereka yang di masa mudanya telah menulis dan memberi sumbangan penting bagi perkembangan sastra berbahasa Indonesia; mereka ini tetap berkarya, dan karya mereka tetap sangat menonjol. Tetapi, bukan mereka, melainkan generasi penulis di bawah mereka, yang membuat kehidupan sastra berbahasa Indonesia di awal abad ini tampak bergerak relatif sangat dinamis.
Tahun-tahun awal dekade pertama abad ke-21 merupakan kurun yang menunjukkan beberapa aspek menarik dalam perkembangan sastra Indonesia. Sejak 5 tahun terakhir, setiap tahun lebih dari 100 karya fiksi (novel dan puisi) terbit. Dalam sejarah sastra Indonesia, angka ini sangat berarti, karena inilah angka yang tertinggi selama ini. Bukan hanya jumlah judul buku yang terbit yang mengalami peningkatan besar. Jumlah eksemplar buku yang terjual juga mengalami peningkatan. Beberapa penulis yang berusia muda (di bawah 30 tahun) mencatat penjualan buku di atas 10.000 eksemplar dalam setahun. Angka tersebut tentu mengejutkan. Beberapa belas tahun yang lalu, seorang penulis sudah dianggap hebat jika bukunya terjual sebanyak 3000 eksemplar dalam 5 tahun. Pendek kata, di tahun-tahun awal abad ke-21 ini, kehidupan sastra Indonesia memperlihatkan gerak yang semarak, dan yang bertanggungjawab atas kesemarakan itu adalah para penulis muda.
Jika penulis-penulis fiksi paling laris di dasawarsa 1980-an adalah umumnya lelaki, penulis-penulis fiksi paling dicintai pasar di simpang abad ini sebagian sangat besar adalah perempuan. Kaum perempuan memang menduduki tempat yang istimewa dalam kazanah sastra dan pemikiran Indonesia modern. Gagasan-gagasan tentang modernitas dan kesetaraan yang kelak ikut mengilhami tumbuhnya kesadaran akan kemajuan dan kebangsaan Indonesia, ditulis pertama kali oleh perempuan: Raden Ajeng Kartini. Manusia Bebas (Buiten het Gareel), novel terpenting sebelum kemerdekaan Indonesia juga ditulis oleh seorang perempuan: Soewarsih Djojopuspito. Di awal abad ke-21 ini, kaum perempuan menghembuskan energi baru ke tubuh sastra kontemporer Indonesia. Dimulai oleh Ayu Utami dengan Saman (cetakan I: 1994) dan disusul oleh Dewi Lestari dengan Supernova (cetakan I: 1999), penulis-penulis muda perempuan tumbuh bermekaran begitu menonjol sehingga kaum lelaki tampak lebih cocok untuk jadi catatan kaki saja andaikan ada kajian panjang lebar tentang para penulis fiksi laris di periode ini.
Ayu Utami, lewat Saman dan Larung, menyajikan penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik. Kemampuan naratifnya juga menarik: ia sanggup menyusun narasi yang kuat menggambarkan suasana dan detil. Dewi Lestari, lewat seri Supernova, memperlihatkan percobaan dan perkembangan literer yang juga layak dicatat. Ia bergerak dari komposisi dengan plot melingkar pada seri pertama, ke narasi dengan plot linier pada seri kedua. Oka Rusmini menuliskan prosa dan puisinya dengan semangat kuat yang diilhami oleh tradisi Bali dan juga aspirasi kesetaraan gender yang menyala-nyala. Aspirasi kesetaraan gender ini terasa kuat pada banyak penulis perempuan yang lain, dan mereka menghadirkan aspirasi itu dengan strategi literer yang berbeda-beda. Rosa Herliany, Nukila Amal, Dinar Rahayu, Linda Christanty, Lakmi Pamuntjak, Djenar Maesa Ayu, Intan Paramaditha, Fira Basuki, Herlinatien, Dina Oktaviani, Nova Rianti Yusuf, Rieke Dyah Pitaloka, untuk menyebut beberapa nama saja, menghadirkan karya dengan isi dan bentuk yang bisa menarik untuk dibahas tersendiri.
Selain mereka yang berkarya secara sendiri-sendiri, sejumlah penulis muda perempuan berkelompok membentuk komunitas sastra yang dianggap lebih mampu mewadahi aspirasi mereka. Di antara kelompok ini adalah Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh perempuan penulis Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Mutmainah. Kabarnya anggota forum ini lebih dari 5000 orang, tersebar di dalam dan di luar negeri. Forum ini terbuka untuk lelaki dan perempuan, namun usia muda dan dorongan menulis dengan nafas religius menjadi alat perekat yang menyatukan mereka. Jika seksualitas – yang ditulis secara terbuka oleh sejumlah penulis muda perempuan – bisa dilihat sebagai balas dendam sastra pada kebudayaan yang hipokrit, maka sastra religius seperti yang disiarkan oleh Forum Lingkar Pena ini dapat dianggap sebagai perlawanan agama terhadap sejarah yang tidak adil: perlawanan lembut yang lebih suka menyalakan kisah ketimbang meledakkan bom.
Para penulis lelaki yang berusia di bawah 40 – misalnya AS Laksana, Zen Hae, Raudal Tanjung Banua, Puthut EA, Gunawan Maryanto, Eka Kurniawan, Ugoran Prasad, Azhari, Binhad Nurohmat, Iswadi Pratama, Emil Aulia dan banyak lagi nama lain – relatif agak lebih rileks dengan isu kesetaraan gender. Beberapa di antara mereka, sampai batas tertentu, menyentuh juga soal besar itu. Mereka ini memang tak memperoleh liputan media seluas yang diperoleh rekan-rekan mereka yang perempuan, tetapi mereka juga menawarkan sesuatu yang tak kalah menarik.
Para penulis di bawah usia 40 ini, lelaki atau perempuan, memperlihatkan permainan bahasa yang relatif lebih enak dari kebanyakan penulis yang lebih senior. Tema-tema yang mereka sentuh juga tampak lebih beraneka ragam. Kegiatan literer mereka juga memperkaya lanskap yang ada. Sebagian di antara mereka bertemu secara rutin di café-café, sebagian lagi lebih sering berinterkasi di dunia maya, sebagaimana yang misalnya terlihat pada masyarakat Cybersastra. Jika para penulis muda ini terus berkarya dengan tekad besar untuk melampaui apa yang sudah mereka capai, dan terus menerus membandingkan diri dengan penulis-penulis terbaik di dunia, dengan kesadaran akut akan bahasa sebagai medium, dan dunia sebagai kawan hidup sekaligus lawan tanding sastra, maka tak mustahil di antara mereka akan hadir sekian sastrawan dengan karya yang benar-benar melampaui cakrawala ekspektasi pembaca yang paling ajaib.
Nirwan Ahmad Arsuka
Esais, kritikus sastra, editor.
Publikasi dan penerjemahan artikel dilakukan atas ijin penulis.








