di Indonesia

Sekilas Sastra Indonesia

Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di bumi. Negeri ini menghampar di Sabuk Khatulistiwa antara Asia dan Australia, dan antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karena letaknya di antara dua benua dan dua samudra, republik yang terdiri dari 13,677 pulau (sekitar 6000 pulau berpenghuni) ini disebut juga sebagai Nusantara (Negeri Antara). Terbentang dalam tiga zona waktu; pada koordinat 97” - 141” Bujur Timur, 6” Lintang Utara dan 11” Lintang Selatan, wilayah Indonesia menghampar 5 kali lebih luas dari wilayah Republik Federasi Jerman. Sebagaimana bagian dunia lain yang dimuliakan oleh kebudayaan, sastra telah tumbuh di negeri ini sejak waktu yang tak tertulis.

Cerita-cerita rakyat kuno, yang berupaya memberi tempat yang pasti pada manusia di tengah lautan ruang dan waktu yang tak berbatas, bertebaran di Nusantara, berenang di arus sejarah yang bergerak deras. Sebagian besar cerita masyarakat tradisional yang digubah dan diwariskan secara lisan itu tenggelam di bawah permukaan sejarah. Sebagian lagi mengambang terselip di antara cerita-cerita besar yang lebih mutakhir. Bagaikan tanaman anggrek langka yang hanya bisa ditemui di ceruk ekologis tertentu, cerita-cerita itu bertahan dari gerusan waktu, berjuang menunggu tumbuhnya para penulis dan pembaca baru yang sanggup menghidupkan cerita-cerita kuno itu. Sastra tradisi yang kini relatif lebih siap menyumbang pembentukan alaf jumlahnya terus bertambah. Salah satu di antara khazanah ini adalah Bujang Tan Domang, sebuah prosa liris yang sangat panjang, yang dituturkan di antara orang Petalangan, suku asli Provinsi Riau.

Sekitar seribu tahun yang silam, peradaban Cina dan terutama India, adalah peradaban yang paling berpengaruh di sekitar kawasan Nusantara. Peradaban Hindu-Budha meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam khazanah sastra klasik Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali. Sastra Jawa Kuna, ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, muncul baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Beberapa di antara karya kuno itu adalah Kakawin Ramayana (digubah sekitar 870), Kakawin Arjunawiwaha (disusun oleh Mpu Kanwa sekitar 1030), Kakawin Bharatayuddha (oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada sekitar 1157), Kakawin Nagarakrtagama (oleh Mpu Prapanca sekitar 1365), Kakawin Arjunawijaya dan Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular yang digubah di masa jaya kerajaan Majapahit di paruh kedua abad ke-14. Sebagian besar gancaran dan kakawin yang diketahui, yang jumlahnya cukup banyak itu, tak meninggalkan keterangan jelas mengenai identitas penyusunnya dan waktu penggubahannya.

Peradaban India memang meninggalkan pengaruh besar di Nusantara. Namun demikian, karya sastra klasik terbesar di Nusantara, justeru tampak terlepas dari pengaruh besar Hindu-Budha. Kalaupun ada, pengaruh itu tampak minimal saja. Sastra terbesar tersebut memang muncul di luar pulau Jawa dan Bali, yakni di Pulau Sulawesi, dan dikenal dengan nama La Galigo. Tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam Bahasa Bugis arkaik dengan berbagai cerita berangkai, La Galigo adalah narasi besar yang dapat dianggap sebagai genesis manusia dan kerajaan tertua yang dijunjung di Tanah Bugis: pusat yang dengannya masyarakat Bugis Lama menjangkarkan dan menata diri. Epik mitologis yang lebih panjang dari Mahabharata ini, mulai dituliskan kira-kira sejak sekitar abad ke-13. Epik ini antara lain telah mengilhami sutradara teater avant gard Robert Wilson, yang mementaskan cuplikan karya besar itu di beberapa kota besar dunia.

Sejak berabad-abad, Bahasa Melayu telah menjadi lingua-franca di Nusantara. Sebagian besar karya sastra berbahasa Melayu ditulis dalam bentuk syair, pantun, gurindam dan hikayat. Sampai pada kurun di sekitar peralihan abad ke-19 dan abad ke-20, karya-karya sastra ini mekar subur di lingkungan masyarakat Sumatera seperti Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sekitar semenanjung Malaysia. Mula-mula sastra ini rimbun di kalangan istana raja-raja Melayu, tapi kemudian berkembang juga di masyarakat luas dengan karakter yang berbeda. Di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa, sastra berbahasa Melayu menemukan juga lahan persemaian dan kemudian tumbuh jadi vegetasi yang cukup lebat. Seperti semua khazanah yang mengalami perkembangan, karya adaptasi dan terjemahan banyak juga ditemukan dalam khazanah sastra berbahasa Melayu. Karya asli sastra Melayu yang menonjol antara lain adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Abdullah, Hikayat Putri Djohar Manikam, Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, Syair Raja Mambang Jauhari, dan Gurindam Duabelas.

Di awal abad ke-20, sejumlah pemuda terdidik mengupayakan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia: bahasa yang selain bisa mengikat tubuh dan batin seluruh anggota bangsa jajahan yang hendak merdeka, juga bisa menjadi bahasa yang bisa membantu bangsa muda itu ikut membentuk realitas dunia. Semangat pembebasan memang terasa pada karya-karya terpenting sastra berbahasa Indonesia. Semangat pembebasan itu, dengan berbagai gradasinya, membimbing para sastrawan Indonesia yang muncul bagai gelombang yang bersusulan. Dari bahasa inilah lahir penyair seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, W. S. rendra, Taufik Ismail, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Joko Damono, Goenawan Mohamad, Sutarji Calzoum Bachri, dan banyak lagi penyair lainnya. Dari bahasa ini juga muncul penulis prosa seperti Takdir Alisyahbana, Armyn Pane, Idrus, Umar Kayam, Y. B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari atau yang paling menonjol: Pramoedya Ananta Toer. Nama-nama yang disebutkan ini hanyalah segelintir dari lapisan penulis senior berusia lebih dari setengah abad (sebagian besar bahkan sudah meninggal) yang karya-karyanya menghiasi khazanah sastra Indonesia. Semangat pembebasan itu diteruskan oleh para penulis yang lebih muda. Dua di antara penulis yang paling menonjol di lapisan ini adalah pengarang-jurnalis Seno Gumira Ajidarma, dan penyair-aktifis Wiji Thukul yang diculik di sekitar peristiwa kejatuhan Soeharto dan sampai sekarang tak diketahui kabarnya.


Nirwan Ahmad Arsuka
Esais, Kritikus sastra, Editor, tinggal di Jakarta.
Publikasi dan penerjemahan artikel dilakukan atas izin penulis.

    Literature for children and youth

    German language literature for children and youth

    Signandsight

    Information on new German books