Ingatan yang Menyembuhkan

Yang segera terlihat dari Larung dan The God of Small Things adalah hadirnya hal-hal kecil, benda-benda yang terlalu sepele namun konkret yang dengan kuat membentangkan “suasana”. Bahkan sejak di halaman-halaman awal, sudah terlihat betapa kedua novel ini menjanjikan sejumlah cerita kecil yang dapat berdiri sendiri bagai intan yang terbentuk oleh observasi dan wawasan tajam atas hal-hal yang tampak sepele itu. Dengan cara bertuturnya; dengan metafor, ritme dan liriknya, kedua novel ini mengaktifkan imajinasi dan menghidupkan pengalaman kita yang berhubungan bukan hanya dengan hal-hal sepele itu. Mengalami sesuatu, kita tahu, adalah membuka diri bertaut ke dalam bagian-bagian dari alam – sesuatu itu; sengaja atau tidak. Kita seakan-akan mengarungi dan menampung berbagai sifat alami sesuatu itu, beberapa di antaranya tertinggal, menetap, lalu perlahan-lahan tenggelam menjadi bagian dari bawahsadar. Pada saat-saat istimewa, apa yang tertinggal itu, menjadi hidup kembali dan berkembang memperkaya khazanah hidup kita, mengangkatnya setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.
![]() |
Selain kenikmatan bahasa, “ketercekaman kognitif” adalah kualitas paling menonjol pada novel-novel Ayu Utami. Pada bagian pertama Larung, ketercekaman itu muncul dalam upaya panjang seorang cucu membunuh dan memotong-motong neneknya. Seorang nenek yang mengajari cucunya mencari pada senja kumbang merah yang muncul dari dalam tanah, yang membukakan arti kekosongan dari segala nilai ataupun harapan, yaitu keadaan di mana tak ada bahasa untuk mengerti. Saya menangkap tanda (atau lebih tepat, mengharap) ketercekaman lain yang lebih hebat ketika membaca sepotong kalimat di Larung, sebuah kalimat dengan muatan ontologis yang berat dan menjadi sumber pertengkaran paling seru di ranah filsafat dan agama. Kalimat tersebut adalah "bahwa alam tak punya tujuan" (hlm. 10). Sayang bahwa kalimat ini tertinggal sebagai kalimat saja, dan Larung tak menjadi cerita yang memaparkan betapa alam (yakni seluruh alam yang kita kenal) memang tak punya tujuan.
Namun demikian, cerita Larung yang berliku-liku menyusuri masa silam neneknya, sampai ia membongkar dan mengobok-obok tubuh tua yang begitu mencintai kehidupan, tampil mencekam dengan level yang rasanya belum pernah dicapai oleh novel-novel Indonesia. Kalaupun ada, hanya segelintir sastrawan Indonesia yang mampu menulis semencekam sekaligus seliris Ayu. Bagian pertama Larung yang terentang sepanjang 74 halaman ini, buat saya, tak kalah mendebarkan dari halaman-halaman The God of Small Things yang memenangkan hadiah prestisius The Booker Prize.
Pengalaman “membaca” di bagian pertama Larung, tak lagi saya peroleh di bagian kedua. Bagian yang “bermula dari selangkangan” itu, praktis merupakan lanjutan dari Saman. Bagi pembaca yang telah menamatkan Saman, bagian ini tak lagi mengejutkan. Malah bisa jadi agak mengecewakan. Terutama jika ia mencari kembali sensasi yang dirasakan ketika menikmati pelan-pelan halaman-halaman yang bercerita tentang “keajaiban” di Prabumulih, ketika “Saman masih belum bernama Saman”, ketika ia masih hidup dengan “seorang ibu yang demikian cantik sehingga dicintai bukan hanya oleh manusia”.
Yang lumayan menarik dibagian kedua Larung adalah kian hancurnya stereotype tentang perempuan, dan tentang perselingkuhan. Bagi yang keberatan, cerita syahwat yang memang terasa agak kebanyakan di bagian ini, bisa terbaca sebagai semacam “estetisasi seks” doang. Secara substansial, “perselangkangan” ini tak memberi sumbangan penting bagi perkembangan novel tersebut, kecuali mungkin membentangkan ruang bagi pelampiasan dari sejenis histeria seksual. Cukup banyak paragraf Ayu, lewat narasi tokoh-tokoh perempuannya, yang blak-blakan bahkan terasa obsesif memain-mainkan soal yang satu ini. Begitu banyaknya sehingga rasanya bukan hanya Ayu yang mengaku merasa mual dengannya. Tapi ada juga bagian di mana soal ini di sampaikan Ayu dengan halus dan puitis.
![]() |
Dibanding dengan Larung, struktur naratif The God of Small Things tersusun lebih bagus dan taat-asas. Struktur itu teranyam bolak-balik antara masa kini dan masa silam, meramalkan tanpa menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang menjelang muncul di masa depan. Isyarat-isyarat yang tersaji di depan, memancing pembaca untuk waspada, tapi tak bisa serta merta yakin pada apa yang disarankan oleh isyarat-isyarat tersebut. Pembaca juga ditarik kembali ke bagian-bagian sebelumnya, begitu cerita tersingkap satu-persatu. Dengan itu pembaca melepas lapis-lapis – dan menjelajahi – makna sepenuhnya dari keseluruhan novel ini. Sudut pandang kanak-kanak – imajinasi dan keingin-tahuannya, pemahamannya yang lugu dan tak lengkap, ketergantungan dan ketakutannya, tekad untuk mandiri, kerentanan, persahabatan dan rasa iri yang kompetitif, juga ketakjubannya – tak hanya disajikan Arundhati dengan menarik. Sudut pandang ini dipertahankannya terus dari awal hingga akhir. Dan karena Estha dan Rahel tak pernah benar-benar tumbuh dewasa dan sebab itu hidup “di-luar-ruang-waktu” yang umum, The God of Small Things memang bisa dianggap sebagai anti-Bildungsroman, yang digarap dengan inovasi bahasa dan muslihat stilistik yang bagus. Hasilnya adalah sebuah novel yang tak saja menjadi best-seller dunia. Ia juga menjadi pertanda betapa kebudayaan dan tradisi kreatif India memang tetap menggeliat dengan daya hidup yang besar.
Yang pasti, sebagaimana Rahel Kochamma mengenang hal-hal yang indah dari masa silamnya, untuk menyembuhkan lukanya yang dalam, saya pun mengenang bagian-bagian terkuat dari Larung, juga Saman. Memang, halaman-halaman “Pembunuhan Simbah” pada Larung, “Keajaiban di Prabumulih” pada Saman, dan sejumlah cerita kecil yang mandiri pada kedua novel tersebut, adalah halaman-halaman istimewa dalam khazanah novel Indonesia, dengan mutu yang tak kalah dari halaman-halaman terbaik Arundhati Roy.
Nirwan Ahmad Arsuka
Esais, kritikus sastra, editor.
Tulisan ini adalah ringkasan dari sebuah esai yang lebih panjang.
Penerjemahan dan publikasi artikel atas izin penulis.










