di Indonesia

Khatulistiwa Literary Award (KLA): Menyempurnakan yang Prestisius

Bild Medien
Bild Medien
Mikrofon auf Tisch liegend
Khatulistiwa Literary Award (KLA) sulit sekali dibantah merupakan anugerah sastra paling prestisius di Indonesia. Sejak pertama kali diadakan pada 2001, KLA membawa dimensi baru bagi dinamika sastra Indonesia. Penghargaan tersebut berhasil mengangkat peristiwa sastra yang biasanya berlangsung sederhana, di tempat tipikal pesta budaya diadakan, kurang menarik kalangan muda kota yang kosmopolitan, dengan tata cara biasa, berubah menjadi glamor, wangi, berlangsung di pusat perbelanjaan kelas atas, dihadiri sosialita terkemuka, diselenggarakan dengan tata cara yang menarik banyak kalangan. Apalagi jumlah hadiah nominalnya paling besar bagi ukuran acara sastra maupun industri buku Indonesia, yaitu seratus juta rupiah untuk masing-masing pemenang kategori prosa dan puisi. Pada periode 2006-2007 KLA menambah kategori, yaitu Penulis Muda Berbakat, dihadiahi dua puluh lima juta rupiah.

"Tidak ada penghargaan sastra Indonesia sebergengsi KLA, saya rasa," demikian Tony Widjanarko, seorang pembaca, berkomentar. "Baik hadiah maupun tempatnya yang glamor. Sepuluh tahun lalu mana terbayang perhelatan sastra diadakan di mall elite seperti Plaza Senayan. Sastra identik dengan TIM yang kumuh atau Horison yang jadoel (zaman dulu). Itu berkat Richard Oh." Ini juga diakui Hamsad Rangkuti waktu menerima hadiah KLA 2003 berkat buku Bibir dalam Pispot. "Ini penghargaan tertinggi yang pernah saya terima selama 43 tahun masa kepengarangan saya," aku Hamsad.

 

Richard Oh merupakan tokoh di balik penyelenggaraan KLA. Di Indonesia, Richard Oh ajek menjadi salah satu ikon dunia perbukuan karena gebrakan bisnisnya berani, menyasar kelas high end, memadukan toko buku sebagai gaya hidup kaum urban. Dia pernah terkenal karena ungkapan "kutukan 3000 eksemplar" tatkala menyitir standar perbukuan Indonesia yang rendah. Lepas dari fakta bahwa jaringan toko buku QB World Books miliknya kini tinggal satu gerai, sejak semula KLA bisa berlangsung konsisten dan terselenggara baik, bahkan terus mencari cara memperbaiki kualitas. Kemampuan KLA menggandeng sponsor berbagai perusahaan besar agar berperan serta dalam acara ini jelas keistimewaan yang belum bisa disaingi penyelenggara acara sejenis. Hal menarik dalam KLA ialah keterlibatan akuntan publik selama proses penjurian berlangsung. Apa pentingnya lembaga seperti Ernst & Young terlibat dalam kegiatan sastra? demikian publik bertanya-tanya.

Namun rupanya keraguan publik terjawab tuntas. Setiap kali proses seleksi berlangsung, respons terhadap KLA tetap seru, terutama di milis sastra dan perbukuan. Respons itu menyiratkan publik ingin berpartisipasi sesuai porsinya dan mau menyaksikan ada penghargaan sastra yang selain berkualitas juga dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Ada sejumlah penghargaan sastra di Indonesia yang ternyata hanya terjadi sekali. Selanjutnya lenyap. Bahkan ada anggapan minor acara penghargaan bisa diadakan sekadar untuk menghabiskan anggaran kebudayaan maupun untuk memuja-muja seseorang. Kontinuitas dan makna penghargaan jadi sulit dipertanggungjawabkan.

KLA menyeleksi karya sastra Indonesia yang terbit tahun sebelumnya. Pemenang pertama anugerah ini ialah Kumpulan Sajak Lengkap Goenawan Mohamad. Waktu itu hadiah KLA Rp. 35 juta dan semua jenis karya sastra dianggap sama. Dari tahun ke tahun KLA ternyata berhasil memunculkan percik kejutan sendiri. Misal pada 2003-2004, panitia memunculkan kategori fiksi dan nonfiksi, sementara pada periode 2006-2007 menambah kategori Penulis Muda Berbakat untuk penulis di bawah 30 tahun. Seno Gumira Ajidarma juga mengejutkan khalayak karena dialah penulis yang pertama kali memenangi anugerah ini dua kali. Pertama, lewat Negeri Senja, dia berbagi hadiah dengan Linda Christanty, penulis Kuda Terbang Mario Pinto; kedua pada 2004 dia meraih anugerah lewat Kitab Omong Kosong.

Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan karya Sapardi Djoko Damono jadi buku nonfiksi pertama yang mendapat anugerah KLA. Kemudian kategori ini ditiadakan. Menurut seorang mantan panitia KLA, pihak penyelenggara kesulitan mendapat karya nonfiksi yang bagus untuk diseleksi. Sementara Joko Pinurbo merupakan penyair pertama yang tiga kali menjadi nominee sebelum akhirnya meraih anugerah pada 2005 dengan buku puisi Kekasihku. Perempuan lain yang memenangi KLA ialah Dorothea Rosa Herliany; pada 2006 dia menang kategori puisi lewat buku Santa Rosa. Dinamika ini terus terjadi seiring upaya panitia menyempurnakan sistem penjurian.

KLA memisahkan antara juri dan panitia. Nama-nama juri dirahasiakan, namun dewan juri atau koordinator juri disebutkan. Tahun 2007 ini juri dikoordinasi Donny Gahral Adian, dosen Jurusan Filsafat UI, penulis dan kritikus. Tabulasi disahkan perusahaan akuntansi internasional Ernst & Young. Bisa jadi format ini yang belum pernah ditempuh oleh pemberian anugerah lain.

Meskipun takjub, animo publik terhadap anugerah seperti ini secara umum dingin. Daftar karya (short list) yang diumumkan jarang mengundang perhatian pembaca maupun memicu orang tertarik meresensi, mendiskusikan, mempengaruhi penjualan buku jadi lebih naik, masih kurang mendorong rasa ingin tahu publik. Bisa jadi akses publik terhadap buku tersebut terbatas, bahkan dikhawatirkan sulit, terutama bila distribusi buku itu buruk. Contoh pemenang kategori prosa tahun 2006, Mandi Api (Gde Aryantha Soethama), yang bisa jadi sama sekali lolos dari perhatian pembaca kebanyakan.

“Buku heboh pun kalau tak dikirimkan ke KLA tak akan masuk penjurian. Banyak-sedikitnya buku yang dibaca juri tergantung kiriman penerbit,” kata Jamal, penulis lima buah novel. Sebenarnya panitia juga aktif mengakuisisi buku yang terbit pada periode tersebut. Richard Oh menegaskan, “Para juri yang memilih karya sastra yang terbit dari Juni hingga Mei tahun berikut.” Wajar panitia berharap mendapat kiriman buku dari penerbit karena penerbit biasa menyediakan buku komplimenter terutama untuk promosi dan ulasan media massa.

Perhatian penerbit pada karya yang terpilih dalam daftar nominee bisa dibilang kecil. Tak ada respons positif, termasuk niat makin mempromosikan buku tersebut. Penerbit mestinya memberi perhatian yang pantas pada setiap buku, atau semacam kebanggaan, bahwa terbitannya siap-siap menerima anugerah sastra paling prestisius di negeri ini, apalagi penerbit sering tak menyediakan dana promosi untuk judul tertentu. “Saya kira mempromosikan karya-karya yang menang KLA seharusnya tugas penerbit buku bersangkutan,” kata Richard Oh. Menulis sinopsis setiap judul yang masuk short list agar publik lebih kenal tentang buku tersebut juga tak dilakukan.

Ada komitmen KLA yang kini belum terwujud, yaitu menerbitkan kembali buku yang masuk short list dan menang disertai logo KLA di kover atau bahkan mengemas ulang buku tersebut, termasuk menerbitkan karya pemenang dalam edisi bahasa Inggris. Ini diakui Richard. “Memang sejak awal ada rencana untuk menerjemahkan karya-karya yang menang KLA ke bahasa Inggris, namun belum dapat mitra yang tepat.” Buku pemenang seakan-akan belum bergaung kuat maupun punya keistimewaan di tengah industri, atau membuat buku itu langsung jadi perhatian publik dan laku di pasar. Penulis dan buku seolah-olah kaget sehabis dapat hadiah begitu besar. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi Khatulistiwa Foundation agar membuat buku pemenang punya signifikansi besar di dunia sastra Indonesia.

Sejumlah kekurangan itu menuntut KLA harus memperbaiki diri di masa depan. Meski sistem penjurian sudah dijelaskan, kalangan peminat sastra masih kurang yakin pada transparansi dan parameter yang digunakan KLA. Sepintas, kecenderungan KLA barangkali mudah ditebak, yakni lebih berpihak pada reputasi, kematangan, maupun pengaruh penulis senior. Ini tampak dari penulis generasi tua yang jadi pemenang, dari Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Sapardi Djoko Damono, dan Hamsad Rangkuti. Meski selalu ada karya kontemporer dari penulis generasi muda dalam short list di setiap periode, generasi muda penulis Indonesia baru berhasil muncul lewat Linda Christanty, kelahiran 1970. Sisanya para pemenang lebih tua dari dia semua.

KLA 2007 diumumkan pada 18 Januari 2008 di Atrium Plaza Senayan; Gus tf Sakai, penulis yang tinggal di Sumatera Barat, memenangi kategori prosa dengan Perantau; Acep Zamzam Noor, penyair yang tinggal di Tasikmalaya, memenangi kategori puisi lewat Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan), sementara Penulis Muda Berbakat diraih Farida Susanty lewat Dan Hujan Pun Berhenti(Grasindo).

Anwar Holid
Kontributor Forum-Buku
tinggal dan bekerja di Bandung

    Literature for children and youth

    German language literature for children and youth

    Signandsight

    Information on new German books