di Indonesia

Pemahaman Jender:
Santeut, Sebuah Gugatan

Sebuah buku bukanlah sekumpulan huruf mati. Teks yang tercetak di dalamnya dihidupi oleh pemikiran yang membuatnya menjadi penanda suasana pada suatu masa, yang dapat dibaca ulang kapan saja. Santeutdapat dibaca dalam konteks itu.

Santeut: Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh, yang diterbitkan Penerbit Aneuk Mulieng (2007) ini menarik karena ditulis oleh para pelajar sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) menyangkut isu-isu yang sangat peka.

Lebih 20 judul yang ditulis oleh 16 pelajar itu mempertanyakan hubungan-hubungan antarmanusia, laki-laki dan perempuan, serta mereka yang berada di luar jender itu dengan perspektif kesetaraan. Menjadi lebih menarik karena ditulis oleh pelajar dari Nanggroe Aceh Darussalam, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariah Islam secara formal.

Isu ini, jender, adalah isu yang pelik, ujar Lies Marcoes-Natsir, aktivis akar rumput yang menemani beberapa komunitas di Aceh, di antaranya adalah Komunitas Tikar Pandan. Jender dalam buku itu digunakan sebagai peneropong keganjilan sosial dengan cara-cara yang unik.

Santeut artinya setara, sejajar, dilahirkan melalui sebuah proses yang sifatnya tidak sekadar teknis menyangkut cara dan gaya penulisan. Proses yang lumayan panjang itu adalah titik awal pembangkitan penyadaran; sesuatu yang sangat krusial dalam proses penyadaran.

Komunitas Tikar Pandan didirikan sekelompok anak muda dari universitas di Aceh pada tahun 2002. Kelompok ini menggunakan kebudayaan untuk menepis kesesakan yang lahir dari berbagai aturan formal. Melihat mereka kita melihat Aceh yang sangar teduh, sambung Lies. Kelompok itu memiliki beragam kegiatan tetap, di antaranya menyelenggarakan pelatihan penulisan Do Karim, kelompok kajian budaya, menerbitkan jurnal kebudayaan Gelombang Baru dan kampanye keliling untuk isu-isu kesetaraan dan keadilan.

Menurut Reza Idria, editor tetap Penerbit Aneuk Mulieng, salah satu bagian kegiatan komunitas itu, pelatihan menulis yang melahirkan buku Santeut tersebut berlangsung selama enam bulan. Reza pula yang terus mendorong mereka untuk mengekspresikan tanpa ragu apa yang mengganggu rasa kemanusiaan mereka.

Pemahaman Matang

Anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Tikar Pandan itu tampaknya memahami sulitnya menghubungkan antara tugas mencari nafkah dan kepemilikan alat kelamin yang asali.

Lelaki mencari nafkah dan perempuan mengolahnya adalah tafsir manusia atas perbedaan kelamin biologis lelaki dan perempuan, yang melahirkan pembagian peran di dalam keluarga. Mereka memahami pembagian kerja semacam itu terlahir dari kebudayaan yang sifatnya tidak ajek dan selalu bergerak mengikuti perubahan waktu.

Pemahaman yang matang itu membuat anak-anak didiknya tak hanya memiliki keterampilan daya ungkap, tetapi terutama adalah kejelian membongkar struktur ketidakadilan, tak hanya pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki. Seperti tradisi meugang, suatu tradisi yang menganggap aib laki-laki yang sudah berumah tangga kalau tak mampu membeli daging pada hari meugang. Tradisi meugang terjadi antara satu sampai dua hari sebelum bulan Ramadhan, hari Idul Fitri dan Idul Adha. Novia Merdhatillah yang menulis fakta itu dalam gaya bertutur literer, berjudul Memanusiakan Tradisi. Pada halaman terdepan Santeut, Reza mengantarkan persoalan itu dalam tulisan berjudul Pada Hikayat Sapi Betina dalam gaya bertutur personal, sarat ideologi, tetapi ditulis dengan sangat indah.

Raisa Kamila yang memberi judul tulisannya Penjahat Kelamin, juga Putri Arimbi yang mengemukakan pendapatnya di bawah judul Pink Tak Lagi Cantik. Juga ada tulisan yang menyangkut isu kontemporer. T Oryza Keumala mempertanyakan berbagai peraturan yang ia nilai tak esensial di dalam Islam dengan sangat berani dan dalam gaya bertutur yang lugas dalam tulisan yang berjudul Pemisahan Kelas: Syariat Islam dan Pendapat Remaja.

Dari isu-isu yang diangkat, para remaja itu tampaknya berhasil menepiskan kebimbangan dan ketakutannya menguak isu-isu yang dianggap tabu. Proses pembangkitan kesadaran tampaknya bekerja dengan baik ketika membaca Antara Aku, Dia, dan Mereka yang ditulis Mohammd Haekal. Tulisan itu mengupas kehidupan seorang trans-seksual, jenis kelamin yang dengan mudah dianggap sebagai liyan dalam masyarakat yang meyakini hanya ada dua jenis kelamin. Ditulis dengan jurnalistik empati, Haekal tidak menjadikan subyeknya sebagai korban yang harus dikasihani. Ia berhasil menggambarkan persoalan para waria di NAD dengan penggalian psikologis yang lumayan dalam, menggunakan metode antropologi.

Namun, tak mudah mengungkapkan kepada publik pemikiran-pemikiran yang menerabas tradisi berpikir arus utama itu. Dalam diskusi, seorang guru, M Kamal, tak setuju dengan gagasan jender. Yang penting baginya adalah perlindungan perempuan.

Pandangan itu segera ditanggapi oleh Amrina Habibie dari Yayasan Putra Kandee, yang menyatakan bahwa perlindungan perempuan tak bisa dilakukan kalau tak dianalisis relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki.

Aisyah, seorang guru, memaparkan realitas perempuan di masyarakat yang tidak dilihat setara dan kontribusinya di ruang domestik yang mendukung produktivitas di ruang publik tak pernah diperhitungkan.

Maria Hartiningsih
Wartawati
Kontak: maria@kompas.com

Artikel ini telah terbit di KOMPAS, edisi 12. November 2007
Copyright: KOMPAS

Links

Literature for children and youth

German language literature for children and youth

Signandsight

Information on new German books