Barbara Yelin

HAL SANTIAGO

BARBARA YELIN

  • Born in Munich in 1977.
  • 1999–2000 Course of study in illustration at the Bildkunst Akademie Hamburg.
  • 2000–2004 Course of study in illustration at the Hamburg University of Applied Sciences (HAW), master’s degree for her thesis work, the pictorial narration Le Visiteur.
  • She has been living in Berlin since 2004, and works there as a comic artist and illustrator.
  • Since 2005 she has worked for and contributed to SPRING, a magazine for women illustrators and comic artists.
  • 2011 Guest at the Goethe-Institut Cairo. Leads a three-part workshop with Egyptian comic artists, project title: Revolution Comics. The blog Comic-Reisejournal Kairo arose during her stay
  • 2011-2012 Daily comic strip Riekes Notizen for the daily newspaper Frankfurter Rundschau
  • 2011/2012 Guest professor at the Saar Academy of Fine Arts (Hochschule der Bildenden Künste Saar / HBK, Saarbrücken)
  • 2012 Goethe-Institut New Delhi: Documentation of Indo-German Urban Mela
  • 2015 Designing the multi-part web comic Der Sommer ihres Lebens (i.e. the summer of her life) together with author Thomas von Steinaecker

Awards and prizes:

  • 2016 Max and Moritz Prize as „Best German-Language Comic Artist“
  • 2016 Prix Cheminots de la BD historique et sociale (i.e railway association award for historical and social comic art) for Irmina, awarded by the French railway company SNCF
  • 2015 Bayerischer Kunstförderpreis (Bavarian state award for the advancement of the arts) 2015 in the category of literature for Irmina
  • 2015 Peng! – The Münchner Comicpreis (Munich comic award) for Irmina in the category Best German-Language Comic“
  • 2015 Prix Artemisia 2015 for Irmina, awarded by the Association Artemisia, which promotes women comic artists.
  • 2014 Tagesspiegel-Jurypreis (Tagesspiegel jury award) „Best Comic of 2014“ for Irmina
  • 2008 Bernd Pfarr-Sondermann-Prize as „Best Newcomer“, awarded by the daily newspaper Frankfurter Rundschau at the Frankfurt Book Fair
  • 2005 Sonderpreis (special award) bei  „The Art of Der Spiegel“, Berlin
  • 2003 The Hans Meid Foundation’s incentive award for illustration, Hamburg

Barbara Yelin

Barbara Yelin mau tidak mau harus diakui piawai menggunakan pensil. Seniman yang lahir di München pada tahun 1977 dan sekarang tinggal di Berlin ini telah membuktikan kehebatannya dalam komik Gift (Reprodukt Verlag, Berlin 2010), yang lahir melalui kerja sama dengan penulis skenario Peer Meter. Kisah mengenai Gesche Gottfried, perempuan pembunuh asal Bremen yang meracuni korbannya, berkesan terutama karena kesuraman yang dihadirkan dengan cara yang sangat artistik. Yelin telah menemukan ciri khas untuk gambar dengan teknik pensil, dan di kawasan berbahasa Jerman mungkin hanya Isabel Kreitz yang telah meraih pencapaian serupa.



Dalam Gift kita menemukan kontras hitam-putih yang kuat. Dengan cara itu Yelin berhasil secara efektif menghadirkan suasana yang serba padat. Tetapi pada waktu yang sama ia pun memanfaatkan kelebihan lain teknik pensil: Garis-garis pensil bisa digosok sehingga menjadi tidak tegas. Dengan demikian kontras tajam pun sering kali berbaur menjadi serba kabur. Bagian langit pada pemandangan jalanan, misalnya, tertelan kabut yang tak tertembus mata, ruang tangga atau ruang bawah tanah menjelma sebagai labirin yang menyesatkan dan dibayangi kegelapan yang tidak menyisakan terang sedikit pun...

Kedekatan dengan media film

Yelin sangat terampil dalam hal mengolah medan cahaya. Gift menampilkan ruang-ruang yang bermandikan cahaya, ruang-ruang yang terbentuk berkat cahaya, ruang-ruang yang digali ke dalam kekelaman yang mencekam dan direbut dari kegelapan. Karena itulah gambar-gambarnya membawa kesan tiga dimensi dan teriluminasi, sebuah efek estetis yang mengingatkan kepada gambar penjara bawah tanah yang terkenal karya Piranesis, atau kepada gambar teatrikal yang kaya kontras. Dengan cara ini Yelin mampu menemukan gambar yang megah di tengah kengerian yang paling gelap sekalipun.

Namun referensi sejarah seni ini janganlah mengaburkan fakta bahwa Gift merupakan komik, suatu bentuk seni yang hanya sedikit lebih tua daripada film dan yang dalam kaitan dengan perubahan pada cara pandang kita, khususnya, sangat dekat dengan film. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa rangkaian gambar Yelin sering kali menyerupai gerakan kamera: Dari atap-atap kota lama Bremen kita perlahan-lahan turun ke level jalanan dan sekaligus masuk ke dalam cerita.

Sukses besar di luar negeri

Masih ada satu hal lain yang mencengangkan mengenai karya seni Yelin: Sampai sekarang hanya sedikit karyanya yang diterbitkan di Jerman (namun paling tidak ia telah dianugerahi Hadiah-Komik-Sondermann oleh Pekan Raya Buku Frankfurt). Rupanya ia justru lebih dihargai di Prancis. Di sanalah diterbitkan karya-karya awalnya yang lebih panjang. Misalnya saja Le Visiteur (Éditions de l’An 2, Angoulême 2004), sebuah kisah mengharukan mengenai persahabatan antara burung gagak dan gadis cilik, yang juga digambar dengan teknik pensil. Di sini pun, hal yang paling mengesankan adalah cara ia menyajikan cahaya.

Tetapi preferensi estetik Yelin tidak terbatas pada teknik pensil semata. Tahun 2006, misalnya – lagi-lagi di Prancis – terbit Le Retard (Éditions de l’An 2, Angoulême), sebuah komik yang dibuat dengan teknik pensil berwarna. Di sini, warna-warnilah yang memunculkan kesan hidup di hadapan latar belakang kelabu suram. Sebuah skenario dramatis seputar kisah cinta orang-orang yang hanyut terbawa arus kehidupan, penuh gejolak, menyerupai perjalanan daun-daun rontok yang tersapu badai musim gugur yang dingin.

Warna juga berperan penting pada reportase komik dari negeri-negeri jauh: Tahun 2011 Yelin sempat tinggal dan berkarya di Mesir selama beberapa bulan. Sebagai tamu Goethe-Institut Kairo ia secara langsung mengalami Musim Semi Arab dan mendokumentasikan hari-hari menegangkan menjelang pemilu itu melalui gambar, sketsa dan adegan singkat. Tiga minggu kemudian ia memimpin lokakarya bertema Revolution Comics yang diikuti oleh sejumlah penggambar komik Mesir. Pada musim gugur 2012 ia memenuhi undangan Goethe-Institut di India. Di New Delhi, Yelin selama dua minggu mengamati konferensi Indo-German Urban Mela dan mengabadikan kesan-kesannya dalam blog online yang penuh warna. Berbagai pengalaman itu kemudian melahirkan cerita komik Riekes Notizen (Catatan Rieke) yang sangat personal dan penuh humor, dan yang dari Oktober 2011 dan Juni 2012 setiap hari terbit dalam harian Frankfurter Rundschau.

Permainan cahaya dan warna yang dinamis

Akibat penggunaan warna, gambar Yelin memang menjadi lebih datar, tetapi juga lebih dinamis. Hal ini terlihat jelas dalam komik Stand-By (diterbitkan dalam antologi Pomme d’amour, Die Biblyothek, 2008). Cerita mengenai anak perempuan yang kabur dari rumah ini tampil istimewa berkat nuansa cahaya dan warna yang diterapkan oleh Yelin pada berbagai adegan berbeda. Warna di sini menjadi semacam barometer suasana hati.

Dengan demikian tujuan Yelin bukan sekadar membuat ilustrasi untuk suatu cerita. Ia justru tengah mengembangkan perbendaharaan bentuk komik. Estetikanya selalu mengikuti logika di luar alur naratif belaka. Bahwa warna juga dapat dijadikan indikator emosi tidak berarti bahwa fungsinya sekadar menandai sesuatu. Warna juga “dipahami” dalam kaitan dengan spektrum warna-warna lain. Kaitan ini mencabut hal yang ditampilkan dengan warna tersebut dari tempatnya yang “alami” dan membuka jalan menuju dunia khayalan yang luas.

Karena itu, karya Yelin dengan teknik pensil selalu menyimpan suatu keseriusan, sementara gambarnya yang berwarna dicirikan oleh ketidakpedulian yang menawan atau, dalam hal bentuk estetis, oleh suatu sikap bermain-main. Ini terlihat terutama pada cerita-cerita yang lebih pendek atau tergolong eksperimental, seperti yang ditemui dalam antologi komik Spring, di mana Yelin bertindak sebagai ko-editor. Mudah-mudahan saja di masa mendatang karya-karya Barbara Yelin akhirnya akan memperoleh penghargaan yang lebih besar di Jerman.

Yelin secara berkala memberanikan diri menggarap tema-tema baru. Bersama penulis Mona Horncastle, pada tahun 2011 ia mengembangkan dua komik seni untuk Prestel-Verlag: Riwayat hidup Vincent van Gogh dan Albrecht Dürer yang disajikan dalam bentuk gambar diharapkan dapat memperkenalkan kedua seniman tersohor itu kepada anak-anak.

Christian Schlüter
memegang gelar S3 filsafat dan bekerja sebagai redaktur ulasan seni pada harian Frankfurter Rundschau.

Copyright: Goethe-Institut e. V., Internet-Redaktion
Januar 2013
Links