Komik Jerman



Weitere Comic-Plattformen

Nichimandoku: 150 Years, 2 Artist, 1 comic
One Japanese mangaka and one German comic artist reflect on 150 years of friendship between Germany and Japan.

Weblog: the city of tomorrow
Comic artists from Germany and East Asia are telling stories from a sustainable future and from our still not quite so ecological present.

Komik berbahasa Jerman
Informasi mengenai perkembangan komik di Jerman, potret artis komik dan tips seputar komik

Komik Jerman hadir kembali – para seniman grafis dan berbagai perkembangan 20 tahun terakhir

Negara Jerman tercatat kembali dalam peta dunia komik. Bermula dari sekelompok seniman grafis ”Berlin-Timur” telah lahir sebuah Comics-Avantgarde (aliran kelompok perintis baru komik) Jerman. Iklim yang ramah terhadap komik pada universitas-universitas Jerman mendukung secara signifikan perkembangan berbagai aliran baru dan rentang yg semakin lebar dalam hal keanekaragaman tema serta gaya dalam komik.

Bahwa negara Jerman kembali tercatat dalam peta dunia komik, itu adalah berkat persatuan antara Republik Federasi Jerman (ex Jerman Barat) dan Republik Demokratik Jerman (”DDR”/ ”Deutsche Demokratische Republik”= ex Jerman Timur). Bagian dari wilayah negara Jerman Timur yang mempunyai andil lebih besar dalam kehadiran kembali ini – terutama apabila perhatian kita ditujukan bukan kepada aspek murni ekonomi belaka melainkan kepada aspek-aspek estetika.

© Ralf KönigTentu saja sebelum tahun 1990 juga sudah terdapat komikus Jerman yang diakui. Tidak peduli apakah orang menyebut Matthias Schultheiss atau Ralf König, bila itu menyangkut seniman-seniman terpandang dalam kancah internasional; atau Walter Moers atau Rötger Feldmann alias Brösel, apabila orang hanya murni mau mendengarkan kisah sukses penduduk setempat saja; atau apakah dengan Hannes Hegen dan Rolf Kauka tahun 50-an dan tahun 60-an lah yang dimaksud --- mereka semua telah mengadopsi beragam bentuk gaya dan cara bercerita dari berbagai negara lain yang sudah lama terbentuk. Contohnya berbagai pengaruh majalah komik satire MAD yang dilahirkan tahun 50-an di amerika oleh Walt Disney, pengaruh yang berasal dari Perancis atau dari aliran Underground Amerika (aliran literatur di amerika serikat yang membahas berbagai tema sosial yang aktual serta tema-tema tabu seperti masalah ”negro” atau ”sex”).

”PGH Glühende Zukunft” (PGH Masa Depan Yang Cerah)

Wilhelm Busch (1832-1908): Selbstbildnis, um 1895; Copyright: Wilhelm-Busch-Museum HannoverCerita-cerita bergambar dari Jerman memang sudah ada mulai dari zaman Wilhelm Busch atau e.o. plauen; Erich Ohser sebetulnya yang menggambar seri komik Vater und Sohn (Ayah dan Putranya) dari tahun 1934 hingga 1937. Namun kita baru dapat menyatakan komik Jerman sebagai sesuatu yang khas dan mandiri dengan adanya Comics-Avantgarde (aliran kelompok perintis baru komik) sejak tahun 1990.

Tempat lahirnya adalah Berlin waktu itu. Bila kita perlu menyebut satu nama antara sekian nama, maka itu akan adalah nama sebuah kelompok kerja : PGH Glühende Zukunft (PGH masa depan yang cerah), begitulah sebuah kelompok seniman Berlin-Timur  menamai dirinya yang berhubungan secara ironis dengan PGH (PGH/ Produktionsgenossenschaften des Handwerks = koperasi-koperasi produksi pekerjaan tangan) yang umum dalam sistem negara Sosialisme. PGH Glühende Zukunft  terbentuk langsung setelah reunifikasi (Persatuan antara Jerman Bara” dan Jerman Timur) tahun 1989 dan terdiri dari Anke Feuchtenberger, Holger Fickelscherer, Henning Wagenbreth dan Detlef Beck.

Mereka semua berasal dari Jerman Timur dan dapat menikmati preferensi sebuah pendidikan grafis yang mempunyai dasar kuat sewaktu zaman DDR (Deutsche Demokratische Republik= Republik Demokratik Jerman/ Ex Jerman Timur), yang mengajarkan teknik-teknik tertentu dimana teknik ini telah lama sekali dilupakan di berbagai perguruan tinggi kesenian Jerman Barat dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Pekerjaan pada mesin cetak manual, seni pemotongan kayu atau Linoleum, lukisan dengan huruf dan pekerjaan lay-out buku merupakan dasar seni keempat seniman Berlin tsb. – demikian juga para  komikus dari generasi lebih muda asal ”Jerman Timur” seperti Georg Barber alias Atak dan Kat Menschik masih mendapatkan manfaat dari pendidikan bertradisi ex Jerman Timur.

Rasa Penasaran Terhadap Komik

Mosaik VerlagPara seniman tersebut menjadi terkenal terutama dengan berbagai karya poster atau karikaturnya, namun itu artinya hanya melanjutkan apa yang memungkinkan juga saat itu dalam wilayah ex Jerman Timur. Sebelumnya untuk komik bernilai seni tidaklah terdapat forum umum, karena karya cerita bergambar di wilayah ex Jerman Timur  hanya sebatas majalah Mosaik yang terbit bulanan dan seri yang berdiri sendiri-sendiri dalam berbagai majalah anak muda Atze atau Froesi yang terikat pada partai. Komik (yang bahkan tidak boleh disebut demikian) dalam mata pimpinan negara saat itu merupakan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Dengan itu potensi untuk berkisah dengan cerita-cerita bergambar telah salah dinilai saat itu di wilayah ex Jerman Timur

Maka para anggota kelompok PGH Glühende Zukunft pun memiliki rasa penasaran terhadap jenis cerita ini. Mereka terutama memproduksi komik, meskipun mereka hanya bisa bertahan hidup berkat pekerjaan grafis lainnya. Ketidaktergantungan dari keuntungan finansial yang datang dari cerita-cerita bergambar inilah yang telah memungkinkan berbagai eksperimen yang bahkan sama sekali tidak berani dicoba oleh para komikus Jerman Barat yang sudah mapan agar tidak membahayakan kesuksesan komersial mereka. Secara sadar keempat seniman Berlin ini mengaitkan diri dengan ekspresionisme sebagai orientasi seni zaman modern yang berarti yang boleh dikatakan spesifik khas jerman.

Berbagai Cerita Bergambar Yang Suram

Aliran tradisi ini diterima dengan sangat baik sekali di mancanegara, karena orang tiba-tiba menemukan kembali sesuatu di dalam komik asal Jerman, sesuatu yang orang telah lama kenal sebagai hasil pencapaian negara ini dari sejarah keseniannya. Cerita-cerita bergambar yang kebanyakan suram dari karya seniman PGH diwarnai dengan dasar mereka yang mengandung filosofi Existentialismus  (= suatu gerakan filosofi modern yang membahas manusia dalam kaitan dengan eksistensinya) atau sinisme-satire yang kelihatan secara langsung ada relasi dengan abad tertentu itu. Abad tsb. telah membuat kota Berlin selama satu dekade menjadi Ibukota dunia untuk bidang seni : hal ini pada tahun 1920-an selama masa Republik Weimar.

Wurf © Anke FeuchtenbergerAnke Feuchtenberger, yang terutama mentransformasikan karya literatur penulis Katrin de Vries kedalam cerita-cerita bergambar yang beraliran feminisme. Dan Henning Wagenbreth dengan piktogram nya (gambar-gambar dengan arti tertentu yang dimengerti secara internasional ) yang tiada duanya menjadi ikon comics-Avantgarde (aliran kelompok perintis baru komik) Jerman pertengahan tahun 1990-an – satu di Perancis, satu di Amerika. Sementara Fickelsherer dan Beck sebaliknya tidak berhasil menembus kancah internasional. Namun untuk itu dua seniman asal Jerman Barat secara bersamaan telah berhasil, mereka itu adalah Hendrik Dorgathen dan Martin tom Dieck.

Melampaui batas-batas negara

Dorgathen meraih keberhasilan pertama sebagai seorang ilustrator, sebelum ia menggambar sebuah komik tanpa kata-kata dengan Space Dog yang diterbitkan oleh penerbit Rowohlt, salah satu penerbit literatur tersohor dalam wilayah Republik Federasi Jerman, dan yang kemudian juga membu at sensasi internasional. Sedangkan Martin tom Dieck asal kota Hamburg memperoleh kedudukan dalam masyarakat terutama dengan cerita bergambar yang diberi teks oleh Jens Balzer dengan judul Salut Deleuze. Dalam Salut Deleuze dikisahkan filosofi ”poststrukturalismus” (Pasca modern) dari Gilles Deleuze, Roland Barthes, Michel Foucault dan Jacques Lacan dalam bentuk cerita luar biasa intelijen tentang perjalanan menuju alam neraka keempat pemikir yang telah wafat ini. Komik ini mula-mula diterbitkan tahun 1998 di Perancis, sebelum sebuah Penerbit Swiss dua tahun kemudian menerbitkannya juga dalam bahasa Jerman.

Barbara Yelin: Le Visiteur. Editions de l'An 2, 2004Ini adalah sebuah contoh, yang besar kemungkinan sampai kini masih boleh mendapatkan pengakuan dan perhatian:
Sejumlah seniman Jerman terutama yang secara materi cerita memiliki standar kualitas sangat tinggi jauh lebih gampang bergerak dan berkarya di luar negeri, terutama di wilayah Perancis daripada di kampung halaman sendiri. Ulf Keyenburg alias Ulf K., Barbara Yelin atau Jens Harder telah mempublikasikan jauh lebih banyak karya mereka di luar perbatasan daripada di Jerman sendiri. Memang ini juga berkat pilihan topiknya yang dalam pemahaman internasional dapat diakui di masing- masing negara sebagai sesuatu yang khas Jerman dan oleh karena itulah sangat luar biasa diterima di negara-negara lainnya.

Zaman Romantik dan Zaman Modern

Karya Ulf K. dengan kedua tokoh terpentingnya, Monsieur Mort dan Hieronymus B. mempertunjukan referensinya kepada sejarah kesenian Jerman dengan pembahasan berbagai tari orang yang meninggal (Penggambaran kekuasaan maut terhadap umat manusia melalui sebuah tari) atau lelucon-lelucon. Kesemua ini pernah dimunculkan Hans Holbein d.J. atau Hieronymus Bosch dalam contoh-contoh mereka yang sangat mengesankan sekali dalam periode waktu awal Zaman Baru ( Zaman Baru = kira-kira tahun 1500 hingga kini). Dan setidak-tidaknya itu terkait dengan keistimewaan karya seniman Arnold Böcklin (1827 hingga 1901) atau Max Klinger ( 1857 hingga 1920) yang periodenya berada pada peralihan dari zaman Romantik menuju ke zaman Modern. Kedua seniman tsb. mengambil berbagai motif mimpian, motif surrealisme dan ejekan mitos sebagai tema mereka.

Jens Harder: Alpha © Carlsen VerlagSementara Barbara Yelin menggambar komik yang struktur-struktur dan tema-temanya sudah pasti berkat inspirasi zaman Romantik, dan Jens Harder menghubungkan proyek-proyek besarnya Leviathan dan Alpha  selama ini dengan upaya ahli ilmu hewan Ernst Haeckel (1834 hingga 1919) dalam mengeksploitasi alam semesta dengan grafis secara sistematik. Haeckel telah melakukan percobaan mengikuti jejak Darwin untuk menggambarkan proses evolusi dengan menggunakan skema yang rumit. Proyek-proyek tersebut telah menimbulkan kehebohan terutama pada seniman dan filsuf. Demikian juga sesuatu yang dirasakan sangat khas Jerman dalam sejarah seni, maka hal tersebut menemukan respon heboh sebagai komik di luar negeri. Alpha umpamanya meraih penghargaan di daerah Angoulême- Perancis Januari 2010 pada festival komik eropa yang paling bergengsi, penghargaan Prix de l”Audace (Penghargaan untuk keberanian)

Iklim ramah terhadap komik

Ausschnitt aus Flix: Da war mal was ... Copyright: Carlsen VerlagNamun sejak lama bukan hanya gaya baru pionir dalam bercerita yang membuat komik Jerman sukses. Semenjak generasi seniman yang lebih tua dipertugaskan mengepalai institut-institut perguruan tinggi kesenian – Feuchtenberger di kota Hamburg, Wagenbreth di kota Berlin, Dorgathen di kota Kassel, tom Dieck di kota Essen, Atak di kota Halle – akhirnya iklim ramah terhadap komik tumbuh berkembang pada universitas- universitas dalam wilayah Jerman yang pada umumnya menguntungkan bercerita kisah dalam gambar. Beberapa komik Jerman yang paling sukses selama dekade terakhir belakang ini  berasal dari tugas akhir akademis, dimana terutama dapat disebut Held oleh Felix Görmann alias Flix dan Wir können doch Freunde bleiben  oleh Markus Witzel alias Mawil.

Judul pertama diatas adalah otobiografi Jerman Barat yang fiktif, judul kedua sebuah otobiografi Jerman Timur yang otentik. Dan rentang keanekaragaman topik dan gaya dalam dunia komik semakin hari semakin lebar adanya.

Dua pusat komik sementara telah terbentuk: Kota Berlin, dimana terutama kelompok komik Monogatari (Kata Jepang untuk berbagai cerita) menjadi topik pembicaraan orang, dan kota Hamburg, dimana pengadaan perkuliahan Anke Feuchtenberger pada perguruan tinggi bidang desain telah memungkinkan berkembangnya sebuah kelompok komikus muda, yang juga diuntungkan oleh keberadaan tiga seniman lain yang sudah menetap di Hamburg yaitu Martin tom Dieck, Markus Huber dan Isabel Kreitz.

Prinsip bercerita yang tak dikenal

Line Hoven: Liebe schaut weg, Reprodukt 2007 © Reprodukt
 
Murid-murid Feuchtenberger -- Sascha Hommer dan Arne Bellstorf -- telah menciptakan sebuah forum bagi seniman berdomisili di Hamburg yang kini kebanyakan sekitar umur 30-an dengan Orang --  antologi yang terbit tahunan. Line Hoven dan Moki dua perempuan ini termasuk dalam kelompok juga yang dalam kaitan seni pemotongan kayu klassik (teknik karton untuk sablon a la Hoven) dan estetika Manga (dunia fantasi yang tergambar oleh Moki) mengeksploitasi kedua ekstrim tsb. ini. Diantara kedua ekstrim ini kini para komikus Jerman yang muda berkarya.

Arne Bellstorf: Der Tagesspiegel-Comicserie © Der Tagesspiegel
 
Perihal Monogatari di kota Berlin telah tumbuh berkembang suatu aliran dokumentasi komik, dimana anggota-anggota Monogatari nya termasuk Jens Harder, Mawil, Ulli Lust, Tim Dinter, Kathi Käppel dan Kai Pfeiffer. Dalam aliran dokumentasi tsb. model menceritakan otobiografi yang sangat sukses tidak  berdiri sendiri dalam pusat sorotan, namun pengamatan fenomenologi memainkan peran pentingnya juga. Proyek reportase komik Jerman-Israel  Cargo, dimana Harder dan Dinter ikut berpartisipasi, memberikan contoh yang baik selama ini di Jerman untuk ”prinsip bercerita yang tak dikenal”. Prinsip ini pula yang dipertahankan oleh Ulli Lust dan Kai Pfeiffer dalam cerita pengembaraan mereka menelusuri kota Berlin.

Berbagai kesuksesan internasional

Reinhard Kleist: Cash – I See A Darkness, Carlsen Verlag 2006 © Carlsen
 
Dengan biografi Johnny Cash oleh Reinhard Kleist yang sama halnya tinggal di kota Berlin telah terciptakan sebuah aliran lain – komik dengan suatu bidang pembahasan. Karir Reinhard Kleist bermula dibawah pengaruh kelompok perintis baru komik tahun 1990-an. Cash secara internasional juga telah meraih sukses besar, begitu juga halnya komik Isabel Kreitz yang secara historis cermat mendalam meneliti tentang mata-mata Richard Sorge. Richard Sorge ini adalah staf kedutaan Jerman di kota Tokyo yang telah membocorkan rencana-rencana penyerangan Hitler dalam perang dunia kedua kepada pihak Uni Soviet.

Isabel Kreitz tidak menggunakan elemen-elemen gaya Manga – gaya komik Jepang – dalam ceritanya yang berkisah dibawah langit negara Jepang. Sebaliknya, tidak terhitung berapa banyaknya seniman Jerman dari generasi dari generasi yang lebih muda yang telah menemukan contoh teladan mereka di Asia Timur : Perjalanan kemenangan Manga yang berlanjut sejak tahun 1990-an telah membiarkan tumbuhnya sebuah segmen yang sungguh baru, yang sementara waktu telah memunculkan seniman-seniman lokal tersendiri. Bersamaan dengan itu sungguh pantas diperhatikan, berapa banyaknya perempuan bekerja sebagai Mangaka, yakni seniman perempuan Manga. Contoh-contoh umpamanya sebut saja Anike Hage, Christina Plaka, Judith Park, Nina Werner, Olga Rogalski atau seniman-Duett Dorota Grabarczyk dan Olga Andryenko, yang memakai nama samaran DuO.

Berbagai Cerita sendiri dan Berbagai gaya

Christina Plaka: Yonen Buzz © TokyopopYang merupakan unsur bersama antara mereka adalah, bahwa berlawanan dengan seniman yang disebut terlebih dahulu, mereka tidak mengenyam pendidikan di bidang seni, melainkan memulai pekerjaannya sebagai penggemar dari seniman tersebut dan telah berhasil naik daun melalui kompetisi-kompetisi yang menjaring talenta. Oleh karena itu bagi Mangaka tidaklah begitu penting pengelompokan kedalam ”sekolah”(perguruan) atau sesuai tradisi-tradisi mana apabila dibandingkan dengan komikus lainnya. Struktur budaya ini yang lebih terbuka telah mendatangkan ”banyak elemen segar” ke dalam dunia komik Jerman tepat di bidang komersial yang sedang populer. Estetika Manga yang sejak lama berhasil meraih kesuksesan di seantero dunia mempunyai dampak, bahwa para seniman muda akan terkenal bahkan melewati batas-batas negara mereka.

Apabila kemudian dengan cakap yang dimaksud itu adalah sejarah negara Jerman, seperti dalam hal Christina Plaka dengan judul seri suksesnya Prussian Blue (biru ”Preussisch”, nuansa warna biru sintetik tertentu yang berasal dari Jerman, yang menjadi terkenal melalui seri seni pemotongan kayu 36 pemandangan pegunungan Fuji  oleh Hokusai di Jepang)  atau dalam komik Anike Hages Gothic Sports yang mengangkat topik sepak bola, maka rasa penasaran terhadap budaya akan dibangkitkan lebih lanjut pada pembaca-pembaca berbahasa asing. Demikianlah komik Jerman lolos ujian juga sebagai Manga terutama dalam hal mencari dan menemukan cerita dan gayanya sendiri.

Andreas Platthaus
Redakteur bagian budaya koran F.A.Z. (F.A.Z.= koran ”Frankfurter Allgemeine Zeitung”)

Artikel ini terbit pertama kalinya dalam katalog pameran sebagai pelengkap pameran berjalan ”Comics, Manga & Co.” dari Goethe-Institut.

Copyright: Goethe-Institut e. V.
Juli 2010