Mawil

Mawil

Mawil

Mawil
  • 1976 lahir di Berlin Timur
  • 1995 Abitur (kelulusan sekolah setara SMA)
  • 2002 Diplom Design Komunikasi di Perguruan Tinggi Seni Berlin Weißensee
  • Sejak lulus Perguruan Tinggi Seni Berlin Weißensee Mawil bekerja sebagai tenaga lepas
  • Aktivitas terkini: diantaranya secara berkala mengisi halaman komik di koran Berliner Tagesspiegel, yang secara bergiliran diisi oleh 4 desainer grafis (selain Mawil, diisi juga oleh Flix, Tim Dinter, Arne Bellsdorf)
  • inggal dan bekerja di Berlin

Penghargaan dan Kejuaraan:

  • 1998 ICOM Penghargaan Independent Comic sebagai Funny terbaik untuk “Adventure 0815”
  • 2003 ICOM Penghargaan Independent Comic sebagai Funny terbaik untuk “Strand Safari”
  • 2004 ICOM Penghargaan Independent Comic sebagai Funny terbaik untuk “Wir können Freunde bleiben”
  • 2007 ICOM Penghargaan Independent Comic sebagai Independent Comicterbaik untuk “Meister Lampe”

Markus Witzel alias Mawil, penggambar komik asal Berlin, mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya dapat dilakukan oleh segelintir orang saja. Dalam waktu sesingkat-singkatnya dan langsung dengan karya-karyanya yang pertama ia berhasil merebut hati komunitas pembaca komik sambil membuat para kritikus yakin akan kemampuannya. Salah satu alasan untuk itu tentu tutur katanya yang luwes dan jujur ketika ia bercerita mengenai berbagai pengalamannya sendiri.

Setelah rajin memublikasikan karya-karyanya melalui majalah tidak resmi dan penerbit mini, Mawil memutuskan belajar desain komunikasi di Sekolah Tinggi Seni Weißensee. Bersama rekan-rekan mahasiswa yang sepaham ia mendirikan kelompok komik Monogatari, yang dalam bahasa Jepang berarti “menceritakan kisah”. Sebagai paguyuban studio, enam sekawan itu menerbitkan secara mandiri komik-komik mereka dan mencoba berbagai kemungkinan baru bernarasi melalui komik. Untuk album bertema yang diberi judul Alltagsspionage (Mata-Mata Keseharian – 2001) masing-masing menghasilkan reportase komik yang khas dalam kata dan gambar mengenai Berlin. Cerita Mawil mengenai “Wie wir uns mal 'ne 3er WG suchen wollten” (Bagaimana kami mencari teman untuk menyewa apartemen bertiga) begitu disukai oleh profesor pembimbingnya saat itu, sehingga komik itu langsung diterima sebagai bakal proyek diploma. Wir könne ja Freunde bleiben (Kita Berteman Saja – 2003) menandai akhir masa kuliah bagi Mawil dan sekaligus mengawali masa depannya sebagai penggambar komik. Dalam empat episode, dengan penuh humor dan sambil menertawakan diri sendiri, ia bertutur mengenai kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang dialaminya sejak masa kanak-kanak.

Kisah-kisahnya yang sangat personal disajikan dengan terampil dan mengalir dalam tata letak istimewa, yang secara cerdik menampilkan sudut pandang yang berganti-ganti. Cerita-cerita keseharian remaja karya Mawil merupakan potret generasi awal dua puluhan yang tengah mencari identitas sendiri. Dalam komik Die Band (2004) ia menceritakan pengalaman bermusik semasa remaja sebagai pemain bas dalam sejumlah band anak muda. Dengan gaya yang menghibur karena lancang namun memikat, ia menggambarkan impian menjadi idola pop indie di antara ruang latihan dan tempat hangout anak muda. Di dalam karya-karya komiknya Mawil juga mengangkat masa kanak-kanaknya di bekas Jerman Timur dan bagaimana ia sebagai remaja mengalami penyatuan kembali Jerman. Action Sorgenkind (Aksi Anak Bermasalah – 2007) menyajikan dalam beberapa episode bagaimana Mawil berusaha menyaingi remaja Barat setelah runtuhnya Tembok Berlin dengan mencoba mengabadikan namanya melalui grafiti di jalanan kota itu. Episode lainnya bercerita mengenai perjalanannya keliling Eropa untuk mendatangi festival komik dan koloni kaum hippies, baik dengan mobil Skoda-nya yang berwarna biru kehijauan maupun dengan menumpang mobil orang lain.

Sebagai aku kedua Mawil menciptakan tokoh Supa-Hasi (Superkelinci). Kelinci yang menarik simpati karena serba kikuk itu sudah lama meninggalkan alam bebas, dan lebih suka merambah kota besar Berlin bersama kedua sobatnya “Michalke si Beruang” dan “Wolf (Serigala) Szaniec”. Mereka bersenda gurau dengan remaja tanggung, bermain sepak bola meja, menenggak alkohol, dan berulang kali tidak kuasa menolak daya tarik perempuan muda. Si Kelinci berperawakan kecil dengan kaca mata dan telinga besar adalah buaya darat tragis, yang patut bermain dalam film garapan Woody Allen. Supa-Hasi terhuyung-huyung dari bencana ke bencana dan dari perempuan ke perempuan. Mawil secara piawai mengawinkan slapstick dan tragedi dengan memindahkan pengamatan dan pengalamannya dalam kehidupan nyata ke dunia komik yang dilebih-lebihkan. Untuk Das große Super-Hasi Album (2005) dan Meister Lampe (2006) dikumpulkan cerita komik dari fanzine yang sudah lama tidak beredar serta dari berbagai antologi.

Berulang kali sang penggambar komik juga turut ambil bagian dalam proyek yang tidak lazim: Pada satu kesempatan ia berpartisipasi dalam proyek komik 24 jam, pada kesempatan lain ia pergi ke luar negeri untuk menyelenggarakan lokakarya, atau menjadi peserta dalam sebuah “Comic-Battle” – dan menggambar pada OHP sambil berlomba dengan seniman.

Matthias Schneider
sarjana ilmu budaya, jurnalis budaya lepas, kurator program film dan pameran seputar tema komik.

Copyright: Goethe-Institut e. V., Online-Redaktion
März 2013

Links