Fokus: Konsep Monumen Kontemporer di Jerman

Counter-Monuments - Kritik terhadap monumen tradisional

Jochen Gerz, Esther Shalev-Gerz, `Monumen Harburg menentang Fasismus´, 1986; Seorang pejalan kaki sedang membubuhkan tanda tangannya, 1986; Copyright: Kulturbehörde HamburgPakar anglistik dan budaya dan sejarah Yahudi asal Amerika, James E. Young, cukup memengaruhi perdebatan tentang konsep tugu peringatan yang cocok pada tahun 90-an dengan memunculkan istilah counter-monuments.

Istilah yang dipakai Young merujuk pada kritik artistik terhadap tugu peringatan yang secara sadar meninggalkan ikonografi monumen yang tradisional atau membuktikan ketidakbermaknaan dari citra tugu peringatan seperti itu. Dengan mengarahkan pada „hilangnya“ makna tugu peringatan ini ia ingin mengingatkan bahwa tugu-tugu peringatan memang memberikan petunjuk pada konteks-konteks sejarah, tapi mereka tak pernah akan bisa menggantikan tanggung jawab publik dan individu untuk mengenang secara kritis dan dengan bertanggung jawab merenungi makna dari tugu-tugu peringatan tersebut.

Gugatan terhadap tugu peringatan tradisional

Gagasan mendasar Young yang ia kemukakan sebagai alasan atas konsep tugu peringatan alternatifnya ini adalah asumsi tentang banyaknya penetapan pembangunan tugu peringatan tradisional yang „substansi sejarahnya berpotensi untuk direvisi“. Pemikiran yang provokatif ini dilatarbelakangi pengamatan bahwa banyak tugu peringatan kurang memberikan rangsangan untuk menelaah kembali, mendiskusikan secara intensif obyek-obyek sejarah yang kompleks. Tapi mereka lebih cenderung hanya sekadar ekspresi dari proses interpretasi yang final dan karenanya bersifat satu-dimensi. Jalan pikiran Young merefleksikan tema-tema penting dari diskusi kontemporer tentang tugu peringatan – dan tentang kualitas kesadaran publik akan sejarah.

Perdebatan tentang Neue Wache

Neue Wache Berlin; Copyright: Land Berlin/Gläser Perdebatan ini menjadi hangat dipicu oleh pembangunan kembali Die Neue Wache di Berlin sebagai tugu peringatan. Awalnya bangunan yang dirancang oleh Karl Friedrich Schinkel tahun 1816 ini digunakan sebagai gedung jaga kerajaan dan sejak Republik Weimar, yakni sejak 1931, menjadi tugu peringatan. Di masa Republik Demokratik Jerman Die Neue Wache berubah fungsi menjadi tugu peringatan antifasis. Pada 1993, di bawah pengaruh besar mantan kanselir Jerman Helmut Kohl, gedung ini kembali dirombak dan dirubah menjadi „tugu peringatan melawan perang dan kelaliman“. Dengan memberikan embel-embel „perang“ dan „kelaliman“ itu saja para kritikus melihat adanya kecenderungan untuk membuat semacam generalisasi terhadap pokok masalah dan tidak adanya makna yang tepat dari monumen itu sendiri. Ditambah lagi pembuatan patung plastik dengan mengikuti model dari Käthe Kollwitz yang menunjukkan figur seorang ibu dengan putra yang mati. Memang dengan cara demikian rekayasa monumen ini menjadi punya karakter keseluruhan yang memancing emosi pengamatnya, tapi ditilik dari sisi sejarah ia tidak memiliki makna yang kuat. Alih-alih membuat perbedaan yang yang jelas antara pelaku dan korban serta antara sebab dan akibat, apa yang hendak ditampilkan di sini adalah ekspresi universal tentang kesedihan dan berdamai. Kritik keras dari pihak politisi dan pakar tugu peringatan juga telah membuat dibangunnya papan-papan tambahan di pintu masuk gedung yang menunjukkan berbagai kelompok korban.

Konsep tugu peringatan alternatif

Contoh Neue Wache ini membuat kritik atas makna tugu-tugu peringatan jadi jelas. Perdebatan tentang hal itu juga mengundang munculnya pertanyaan apakah mungkin untuk mengembangkan konsep tugu peringatan yang membebaskan diri dari bahaya penyempitan fakta sejarah dan yang lebih bisa memberikan makna daripada hanya sekedar ungkapan interpretasi sejarah yang sifatnya final dan juga sangat berbau ideologi. Oleh karena itu, gugatan atau kritik terhadap tugu peringatan tradisional dan upaya untuk menunjukkan konsep alternatif juga menjadi obyek kerja dari sederetan seniman yang dalam waktu 20 tahun belakangan ini telah membuat orang melirik konsep-konsep alternatif yang pantas diperhatikan.

Sumur di depan Gedung Balai Kota Kassel tahun 1908; Copyright Stadt KasselSisa bangunan sumur di depan Gedung Balai Kota Kassel sekarang, di Obere Königsstraße 8; Copyright Stadt Kassel

Monumen sebagai tempat kosong – karya-karya Horst Hoheisel dan Jochen Gerz/Esther Shalev-Gerz

Salah satu seniman yang paling menyita perhatian dalam konteks ini adalah Horst Hoheisel. Pada 1987 “Monumen Negatif” ciptaannya di Kasel dijadikan konsep tugu peringatan untuk „Aschrott-Brunnen“(Sumur-Aschrott) yang dihancurkan dan disebut oleh NAZI „Sumur-Yahudi“ (Juden-Brunnen). Awalnya bangunan ini adalah sebuah yayasan milik perusahaan Jerman-Yahudi Sigmund Aschrott dan pada 1908 disusun menjadi piramid sumur yang representatif. Ketika membuat karyanya Hoheisel mengangkat bentuk piramid ini , tapi pada saat yang sama membenamkannya sebagai corong begitu dalam sehingga bangunan di permukaan tempatnya hampir tak muncul lagi. „Pengunjung adalah monumen“, demikian komentar Hoheisel tentang refleksi gambar „negatifnya“ dari bangunan tersebut. Dengan cara ini Hoheisel tidak hanya membuktikan ketidakbermaknaan konsep tugu peringatan tradisional, tapi juga menunjukkan tanggung jawab historis sehari-hari dan kemampuan refleksi warga.

Contoh lain yang juga pas adalah karya pasangan seniman Jochen Gerz dan Esther Shalev-Gerz. Di sebuah jembatan penyeberangan di Hamburg-Harburg mereka pada 1986 membangun sebuah tugu setinggi 12 meter dengan pembungkus timbal. Dengan karakter anak panahnya, obyek yang disebut sebagai „monumen melawan fasisme dan perang“ ini pada awalnya sedikit mengingatkan orang pada monumen tradisional. Pada saat yang bersamaan para pengunjung diajak oleh kedua seniman itu untuk menulisi permukaan tugu itu dengan catatan pribadi atau politis. Dalam tahun-tahun berikutnya tugu peringatan ini dibuat makin rendah, dan sejak 1993 ia sama sekali hilang dari permukaan dan orang hanya bisa melihat ke dalam melalui jendela. Tugu peringatan ini, demikian ujar Gerz, tidak bisa menghapus tanggung jawab rakyat terhadap kesadaran politik yang aktif dan kritis, karena – seperti yang bisa dibaca di satu plat di lantai di samping tugu yang tenggelam itu – „ tidak ada yang bisa menggantikan kita secara terus-menerus dalam melawan ketidakadilan“. Dengan konsep ini kedua seniman telah menciptakan sebuah gambaran yang tepat tentang „hilangnya tugu peringatan“.

Jochen Gerz, Esther Shalev-Gerz, `Monumen Harburg menentang Fasismus´, 1986; Pemendekan keempat pada Februari 1990; Copyright: Kulturbehörde Hamburg Jochen Gerz, Esther Shalev-Gerz, `Monumen Harburg menentang Fasismus´, 1986; Pemendekan kelima pada Desember 1990; Copyright. Kulturbehörde Hamburg

Ruang atau tempat kosong dari monumen-monumen negatif karya Hoheisel dan Gerz ini tidak hanya menunjukkan adanya celah dan sesuatu yang hilang dalam sejarah; tapi mereka juga langsung mendelegasikan kembali tugas mengenang dan sikap yang dilandasi moral kepada para pengunjung.

Paul Sigel
Sejarawan seni dan arsitektur

Copyright: Goethe-Institut, Online-Redaktion e.V.

Ada pertanyaan lain tentang artikel ini? Silakan kirimkan pertanyaan Anda kepada kami.
online-redaktion@goethe.de
November 2005

Links