Fokus: Konsep Monumen Kontemporer di Jerman

Jalur Tembok Berlin sebagai Tugu Peringatan

Monumen Tembok Berlin, Copyright: picture-alliance/ dpaTembok Berlin sebagai tempat peringatan menampakkan berbagai tingkatan makna. Di satu sisi setiap tugu peringatan yang berdiri sendiri yang tak terhitung jumlahnya mengingatkan orang pada korban pemisahan Jerman; di sisi lain jalur garis batas di sana merupakan tugu peringatan yang unik dari sejarah Jerman.

Kalau melihat makna yang dimiliki Tembok Berlin dulu, baik dalam konteks fungsinya sebagai tembok pemisah maupun sebagai pertanda nyata atas konfrontasi dua sistem masyarakat antagonis, maka 15 tahun setelah tembok pemisah itu dibongkar sulit untuk memahami fakta betapa sedikitnya jejak pemisahan itu yang masih bisa dialami secara langsung pada saat ini, kalau tak mau dikatakan hampir tak berbekas. Terlepas dari perbedaan kondisi sosial dan mental antara Timur dan Barat, tampaknya pembangunan tembok yang dulu sempat menjadi luka antara Timur dan Barat itu kini telah sembuh sama sekali. Jarang sekali terlihat kenangan yang tampak akan tembok pemisah tersebut.

Menghapus jejak-jejak tembok

Reruntuhan Tembok Berlin 1961-1989; Copyright: Deutscher BundestagBegitu tembok dibuka pada November 1989, langsung dimulai pembongkaran tembok yang sebagian dirayakan sebagai kejadian politik dengan melibatkan masyarakat. Seiring dengan reunifikasi Jerman ada pernyataan kehendak politik – di samping penyatuan politik dan ekonomi – untuk menyatukan kembali secepat mungkin kota Berlin yang terbelah. Ini khususnya harus dilakukan pada tempat-tempat penting dan utama seperti Pariser Platz (Lapangan Paris) di Brandenburger Tor, wilayah dekat sungai Spree tak jauh dari Gedung Parlemen atau Lapangan Potsdam. Dengan dibangunnya kembali jalur tembok ini secara padat diharapkan orang tidak hanya akan mengingat makna tempat-tempat ini sebelum perang, tapi juga dalam rangka mengekspresikan bahwa pemisahan Berlin telah bisa diatasi. Awalnya hanya sedikit politisi dan kaum cendikiawan yang memikirkan bahwa jalur tembok Berlin itu pantas untuk dijadikan monumen peringatan. Hanya beberapa tahun setelah penghancuran tembok garis batasnya sudah menghilang dari pemandangan kota Berlin, kecuali sedikit sisa. Hanya tiga bagian besar di wilayah dalam kota yang tak hilang, yakni fragmen-fragmen tembok sepanjang Jalan Bernau, bagian di daerah yang disebut „East Side Gallery“ serta di bagian „Topographie des Terrors“ sepanjang Jalan Käthe-Niederkirchner.

Tembok-Tempat peringatan

Checkpoint Charlie; Copyright: Berlin Partner/FTB-WerbefotografieSebelum 1989 saja sudah ada sejumlah besar tempat peringatan di sebelah barat yang mengindikasikan nasib korban dari tembok Berlin. Sederetan palang peringatan dekat gedung parlemen misalnya menunjukkan hingga hari ini nasib warga bekas Jerman Timur yang dalam pelarian mereka dari Timur ke Barat telah meninggalkan hidup mereka. Sebelum 1989 dekat peralihan batas Checkpoint Charlie yang ditentukan sekutu juga didirikan sebuah museum-tembok yang dikelola secara pribadi. Setelah penyatuan Jerman didirikan sebuah Pusat Dokumentasi Tembok Berlin di daerah Jalan Bernau. Selain pameran sejarah, Pusat Dokumentasi ini juga memungkinkan orang menikmati pemandangan dari sebuah menara ke arah jalur Tembok Berlin. Di seberang pusat dokumentasi ini sejak 1998 terdapat Tempat Peringatan Tembok Berlin yang dirancang oleh arsitek dari Stuttgart, Kohlhoff dan Kohlhoff. Di sana mereka merekonstruksi potongan pendek dari garis batas, termasuk tembok bagian barat, tembok bagian pedalaman dan jalur kematian yang berada di antaranya. Kedua tempat peringatan ini dibuat atas dorongan pihak pemerintah. Tak jauh dari tempat peringatan diresmikan pada tahun 2000 kapel perdamaian yang dirancang oleh arsitek dari Berlin Reitermann/Sassenroth. Kapel yang pembangunannya diprakarsai para jemaat gereja itu berdiri di atas tanah gereja perdamaian yang bersejarah yang di tahun 80-an dibongkar karena perluasan perbatasan. Dalam bangunan kecil berbentuk oval yang terbuat dari tanah liat dan lempeng kayu itu orang diingatkan pada bangunan gereja yang dihancurkan dan juga pada jalaur perbatasan. Pada 1998 didirikan sebuah instalasi berdasarkan rancangan Frank Thiel dekat Checkpoint Charlie yang menunjukkan foto seorang tentara Soviet atau tentara AS di sisi depan dan belakang sebuah papan besar dan dengan demikian mengingatkan orang pada konfrontasi kedua negara adidaya tersebut dalam Perang Dingin.

Tanda di sepanjang jalur tembok

Monumen Tembok Berlin dengan kapel di dalam kompleknya. Copyright: Berlin Partner/TFB-WerbefotografieAkan tetapi, semua intervensi artistik ini hanya sebatas di ruang kota, sementara bagian yang lebih besar dari alur bekas tembok itu saat ini hampir tak bisa lagi ditentukan. Awal tahun 90-an muncul gagasan untuk menjadikan jalur perbatasan sebagai wilayah hijau, tapi gagasan ini tak bisa direalisasikan seluruhnya, hanya di segelintir tempat saja. Salah satu yang menjadi wilayah hijau itu misalnya adalah „Taman Tembok“ antara wilayah Prenzlauer Berg dan Wedding. Wilayah hijau termasyur lainnya muncul di jalur perbatasan antara Kreuzberg dan Mitte di mana sebuah taman bersejarah dibangun kembali di tanah lapang bekas „kanal kota Luisen (luisenstädtisches Kanal)“. Pada 2003 dilontarkan pemikiran – yang merupakan aksi yang sangat provokatif bagi banyak pengamat – untuk melaporkan jalur tembok Berlin dan sisa-sisa tembok yang bertahan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO. Upaya yang sampai saat ini paling konsekuen untuk menjaga ingatan pada jalur sepanjang tembok adalah membuat berbagai markah yang dipasang di atas berbagai jalan di Berlin. Sebuah pita tembaga atau rangkaian ganda batu plester mengajak para pejalan kaki yang teliti untuk melihat bekas perbatasan dan kedua media ini mencoba dengan cara yang subtil, yakni sebagai tanda kenangan, guna merangsang orang memikirkan kembali lokasi peringatan yang saat ini hampir tak terlihat lagi.

Monumen Tembok Berlin; Copyright: Land Berlin/Thie

Kini, perdebatan tentang bagaimana caranya menyikapi jalur tembok Berlin dan mengenang korban pemisahan Jerman kembali menjadi aktual berkat pembangunan tugu peringatan. Alexandra Hildebrandt, kepala museum „Haus am Checkpoint Charlie“yang dikelola secara pribadi ini, telah meminta dibangun kembali potongan tembok dekat bekas jalur perbatasan – walaupun tidak di lokasi otentiknya. Dengan pembangunan ini ia melengkapi instalasi dengan menyusun palang-palang peringatan untuk para korban pemisahan Jerman. Aksi Hildebrandt diizinkan oleh senat Berlin sebagai instalasi seni yang sifatnya sementara hingga akhir tahun 2004. Bagaimanapun juga, aksi ini mengundang komentar-komentar kontroversial. Banyak kritikus mencela ketidakotentikan serta karakter yang sangat memancing emosi dari aksi tersebut. Di pihak lain melalui instalasi yang kini telah dibongkar kembali itu jadi jelas bahwa tidak ada cukup konsepsi pembangunan tugu peringatan yang meyakinkan berkaitan dengan peristiwa pemisahan Jerman. Senat kota Berlin yang membidangi budaya menjadikan kenyataan ini sebagai alasan untuk mengembangkan suatu rencana dasar yang diharapkan bisa menghubungkan berbagai jejak sejarah dan tugu peringatan yang sudah ada sekarang yang berkaitan dengan Tembok Berlin dan mengintegrasikannya dalam sebuah konsep situs tugu peringatan yang sifatnya luas.

Paul Sigel
Sejarawan seni dan arsitektur

Copyright: Goethe-Institut e.V., Online-Redaktion

Ada pertanyaan lain tentang artikel ini? Silakan kirimkan pertanyaan Anda kepada kami.
online-redaktion@goethe.de
November 2005

Links