Quick access:
Go directly to content (Alt 1)Go directly to second-level navigation (Alt 3)Go directly to first-level navigation (Alt 2)

Alur Bunyi - 2019
Ata Ratu

Ata Ratu Anton Toba Lenda Duto Hardono © Goethe-Institut Indonesien



Ata Ratu

Ata Ratu lahir di Sumba, sebuah pulau kecil di Nusa Tenggara Timur. Sejak berusia 13 tahun, ia telah memainkan alat musik petik Jungga dengan empat dawai dan menulis serta bernyanyi dalam bahasa aslinya, Kambera.

Musik Ata Ratu bisa dianggap sebagai bentuk modern musik rakyat/populer Sumba. Struktur utama lagu-lagunya adalah sajak kuplet yang dalam bahasa setempat dinamai “lawiti”— sering digunakan dalam pidato upacara ritual di Sumba. Tak jarang, atas permintaan warga, ia tampil dan spontan mencipta lagu dengan cara bernyanyi dan membuat sajak baru berdasarkan sajak sebelumnya.

Sekitar 20 tahun yang lalu, Ata Ratu menjadi bagian dari album kompilasi Smithsonian/Folkways “Indonesian Guitars” yang menampilkan lagu tentang panen padi berjudul “Ludu Parinna”. Kini, ia dianggap sebagai salah satu tokoh budaya Sumba yang paling dihormati dan telah tampil di berbagai kota di Indonesia dan Eropa.



Anton Toba Lenda

Anton Toba Lenda adalah salah satu guru tari dan musik senior di Sanggar Ori Angu. Ia adalah seorang penyanyi dan multi-instrumentalis yang memahami dan mempraktikkan tradisi dan ritual di Sumba. Selama puluhan tahun, Anton telah aktif tampil bersama banyak grup dan membimbing anak-anak di ragam acara kebudayaan di Sumba. 
 


Duto Hardono

Duto Hardono adalah seorang seniman konseptual, musisi eksperimental dan dosen yang berbasis di Bandung, Indonesia. Karyanya telah dipamerkan dan dipertunjukkan di ruang-ruang kesenian bergengsi, termasuk Stedelijk Museum voor Actuele Kunst (Belgia), Hara Museum of Contemporary Art (Jepang), Haus der Kulturen der Welt (Jerman), dan National Gallery of Australia (Australia). Ia juga pernah terlibat di the Shanghai Biennale (2012), Biennale Jogja (2013), Saitama Triennale (2016), Europalia Festival (2017), dan Contemporary Worlds: Indonesia (2019) untuk menampilkan instalasi bunyi dan kolase yang diciptakan khusus bagi setiap kesempatan serta, yang belakangan ini, karya nonfisik seperti aktualisasi notasi tekstual. 

Sebagai musisi, praktiknya meliputi mulai dari komposisi minimalis menggunakan tape loops hingga musique concrète, dan improvisasi dengan modular synthesizers. Ia mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, dan aktif menjalankan platform publikasi dan label musik Hasana Editions.

 

Back to Alur Bunyi
Top