Akses cepat:

Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Sabine Müller

Sudah dari dulu saya sudah tertarik kepada negeri lain, budaya dan bahasa lain. Ketika saya mulai kuliah etnologi, saya sadar bahwa kita akan semakin banyak tahu tentang sebuah negara dan masyarakatnya jika kita memahami bahasanya. Dalam sebuah perjalanan keliling Asia Tenggara saya antara lain mengunjungi Indonesia dan terpikat oleh keberagamannya yang luar biasa, kebudayaannya yang beraneka, skena teater dan sastranya yang hidup.

Istirahat siang di Bandung - Jawa Barat Istirahat siang di Bandung - Jawa Barat | © Sabine Müller

Karya sastra Indonesia apa saja yang sudah Anda selesaikan penerjemahannya ke dalam bahasa Jerman? dari beberapa karya itu, mana yang menurut Anda paling menantang dan kenapa?

Dalam proses menerjemahkan seorang penerjemah seringkali harus belajar banyak hal dalam waktu bersamaan, tidak hanya mengenai isi karya itu sendiri. Hal apa saja yang Anda pikir penting sebagai penunjang dalam proses penerjemahan sebuah karya?

Saya paling suka menerjemahkan sastra Indonesia, tetapi juga menerima tugas penerjemahan teks non-fiksi berbahasa Inggris mengenai budaya, seni atau musik. Semua karya penulis Indonesia mengandung tantangan tersendiri, dalam satu atau lain hal. Naskah teater memiliki persyaratan tertentu dari segi bentuk, dan di sini ada sejumlah perbedaan di antara langgam Indonesia dan Jerman. Dari segi bahasa, perbedaannya sangat besar.

Biasanya saya tidak berani menyentuh lirik, kecuali kumpulan sajak Don Quixote karya Goenawan Mohammad. Di sini saya bisa berkomunikasi langsung lewat email dengan sang penulis. Memang sangat memudahkan kalau sang penulis masih hidup dan kita bisa berkomunikasi lewat email atau Whatsapp. Sejauh ini saya sudah menerjemahkan naskah teater antara lain karya Iswadi Pratama, Dewi Noviami, Nirwan Dewanto atau Goenawan Mohammad.

Barbara Weidle, Verlegerin Weidle Verlag Bonn, Autorin Leila S. Chudori und Übersetzerin Sabine Müller während der Literaturtage in Zofingen, Schweiz, 2015 Barbara Weidle, Verlegerin Weidle Verlag Bonn, Autorin Leila S. Chudori und Übersetzerin Sabine Müller während der Literaturtage in Zofingen, Schweiz, 2015 | © Sabine Müller Novel "Pulang" karya Leila S. Chudori dan "Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan menuntut perhatian khusus dari segi riset. Ketika menerjemahkan "Pulang", saya banyak membaca perihal latar belakang politik pada masa sekitar 1965/66 dan 1998. Isu utama pada penerjemahan karya Eka Kurniawan adalah latar belakang historis zaman penjajahan Belanda yang berlangsung lama, masa pendudukan Jepang, hingga periode berdarah 1965/66. Terjemahan terbaru saya – kumpulan cerita pendek karya Iksaka Banu berjudul “Semua untuk Hindia” – mencakup 13 kisah yang berlangsung pada kurun waktu dari awal abad ke-18 sampai kemerdekaan Indonesia. Ini berarti: Selain kamus selalu ada buku-buku sejarah Indonesia di meja saya.

Membaca bersama Goenawan Mohammad, presentasi edisi puisi dwibahasa "Don Quixote", di sebuah acara selama Pameran Buku Frankfurt, 2015 © Sabine Müller

Membaca bersama Goenawan Mohammad

Presentasi edisi puisi dwibahasa "Don Quixote", di sebuah acara selama Pameran Buku Frankfurt, 2015 

Adakah perubahan yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari Anda terkait situasi pandemic saat ini?

Krisis corona yang mendunia saat ini membuat saya tidak berani berharap bahwa kondisi pasar buku terkait sastra Indonesia akan membaik. Berhubung saya mempunyai mata pencaharian lain, saya tidak tergantung kepada acara-acara seputar sastra Indonesia, namun saya pun terdampak negatif. Pekan Raya Buku Leipzig dan Temu Penerjemah di LCB di Berlin dibatalkan. Saya kehilangan pendapatan akibat pembatalan beberapa acara pembacaan buku di Köln dan sekitarnya, dan penerbitan buku kumpulan cerpen tadi pun diundur. 

Beruntung saya sebagai pekerja lepas masih mempunyai proyek-proyek lain, termasuk – seperti "Social Translating Project" – yang diselenggarakan online. Seniman, penulis, pemeran, penerjemah – semua pihak yang mengupayakan kekayaan kultural kita – sangat terpukul oleh krisis ini. Banyak di antara mereka menjadi kreatif dan mengembangkan ide dan format baru untuk presentasi dan pertukaran. 

Saya berharap bahwa beberapa di antara inisiatif yang muncul di pasar buku dan dunia sastra di tengah “new normal” ini akan berkembang menjadi alternatif yang berkelanjutan, termasuk sebagai mata pencaharian, dan bahwa berbagai format “tradisional” dapat bertahan dan dikembangkan lebih lanjut. Penampilan online penulis, layanan antar toko buku, pertemuan online dengan kolega, ... ada banyak keasyikan bisa ditemukan di sini – apalagi tanpa corona.

Top