Between The Mountain & The Sea
A Residency Series

Ketika kenaikan permukaan laut memaksa banyak komunitas meninggalkan tanah leluhur mereka dan mengharuskan masyarakat menata ulang hidup di tengah bencana lingkungan, apa peran seniman dalam membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim? Apakah seniman sebatas mengomentari atau mengamati krisis yang berlangsung, ataukah praksis artistik mereka dapat menjadi katalisator untuk “membayangkan beragam kemungkinan”?

Between the Mountain & the Sea © Goethe-Institut Indonesia / Each Other Company

Saat generasi mendatang menoleh ke belakang ke masa Kegilaan Besar, mereka pasti akan menyalahkan para pemimpin dan politisi saat ini karena gagal menangani krisis iklim. Namun, mereka mungkin juga akan menganggap para seniman dan penulis tidak kalah bersalah – sebab bagaimanapun juga, membayangkan berbagai kemungkinan bukanlah tugas politisi dan birokrat.
Amitav Ghosh, The Great Derangement (2016)

Kami mengajak seniman untuk melakukan pertukaran mendalam dengan sejumlah komunitas budaya pesisir, menyelaraskan diri dengan gerakan akar rumput di bidang lingkungan dan keadilan iklim, serta turut dalam pelayaran di atas kapal dalam rangka menyelami narasi panjang perubahan iklim sebagaimana dikisahkan oleh garis pantai dan samudra serta memahami bagaimana narasi tersebut memaksa kita untuk membayangkan ulang kehidupan setelah berakhirnya era antroposen.

Between the Mountain & the Sea: a Residency Series adalah platform residensi baru dari Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan Arka Kinari, sebuah kapal layar berbobot 70 ton yang diubah menjadi platform budaya terapung untuk membayangkan ulang apa yang mungkin dan untuk merancang kehidupan pasca-kapitalisme fosil. Residensi ini akan berlangsung dalam beberapa tahap sehingga memastikan perkembangan seniman peserta. Mengingat kerasnya kehidupan di laut, residensi ini menerapkan pendekatan berbasis proses, yang mengutamakan peleburan seniman ke dalam jaringan pesisir dan lautan di sepanjang lintasan yang dahulu dikenal dengan nama Jalur Rempah.
Pada edisi perdana ini, kami siap menyambut dua seniman Indonesia untuk tinggal dan berkarya bersama Arka Kinari dan jejaring pelayarannya. Kami ingin menekankan bahwa kesempatan ini ditawarkan kepada para seniman yang bersedia dan mampu mendedikasikan diri sepenuhnya untuk karya mereka dan untuk advokasi keadilan lingkungan beserta komunitasnya. Pengalaman ini sendiri merupakan kesempatan unik yang dapat menjadi pengalaman transformatif bagi cara berkarya dan berpikir seorang seniman.

Sebagai langkah orientasi, residensi ini akan diawali dengan melibatkan seniman peserta residensi dalam Coastal Communities Conference (CCC)*, sebuah pertemuan tahunan untuk jaringan seniman, pembuat karya, dan inovator yang berkarya pada irisan seni, kerja kepedulian masyarakat, dan lingkungan di seluruh Nusantara.

Karena konferensi ini sendiri dirancang sebagai panggung terbuka bagi komunitas pesisir untuk mempresentasikan karya, kepentingan, dan rencana masa depan mereka, para seniman peserta residensi didorong untuk berpartisipasi dalam konferensi baik sebagai pengamat maupun untuk menyajikan rangkuman karya mereka sebelumnya berikut rencana berkarya di masa mendatang sebagai bagian dari residensi.

Untuk tahap berikutnya, kami mendorong seniman peserta residensi untuk berinteraksi lebih jauh dengan jaringan CCC sebagai sistem pendukung, kolaborator, dan sumber pengetahuan dengan mengunjungi mitra jejaring CCC untuk riset awal* yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai dampak krisis iklim terhadap komunitas pesisir di Nusantara, di ujung timur Jalur Rempah zaman dahulu.

*Selama riset awal, seniman peserta residensi diharapkan membuat aktivitas yang sejalan dengan minat dan praksis masing-masing guna menjalin hubungan dan membina pertukaran dengan pihak lain, sejauh relevan.

Pada gilirannya, seniman peserta residensi akan naik ke kapal budaya Arka Kinari sebagai seniman residensi sekaligus pelaut selama 10-14 hari antara akhir Juni dan awal Juli 2026, saat kapal melakukan pelayaran menyusuri ujung barat Jalur Rempah, yaitu kawasan yang kini dikenal sebagai Laut Mediterania Timur, termasuk perairan Turki yang sulit diprediksi. Di sana, mereka akan merangkum pengalaman seputar berlangsungnya krisis iklim di wilayah pesisir dan lautan – mulai dari hilangnya area penangkapan ikan tradisional di Indonesia hingga krisis migran dan pengungsi di Laut Tengah.

Pada akhir residensi, seniman peserta akan diminta melakukan presentasi publik mengenai pengalaman dan wawasan yang mereka peroleh selama mengikuti residensi. Presentasi ini akan diadakan di lokasi dan bersama komunitas tuan rumah pilihan mereka.

Tahap Tuan Rumah Waktu Durasi
1 - Coastal Communities Conference, CCC Arka Kinari 17–24 Mei 2026 (tanggal pasti menunggu konfirmasi). 8 hari (termasuk perjalanan).
2 – Residensi bersama jejaring Coastal Communities Conference Jejaring Coastal Communities Conference Akhir Mei–awal Juni 2026 (tanggal pasti akan dibicarakan dengan tuan rumah masing-masing). 10 sampai 14 hari (di luar perjalanan).
3 – Berlayar naik Arka Kinari Arka Kinari Pertengahan Juni–Juli 2026 (tanggal pasti akan dibicarakan dengan tuan rumah masing-masing). 10 sampai 14 hari (di luar perjalanan).
4 - Presentasi Goethe-Institut / Arka Kinari / komunitas terkait Sebelum pertengahan November 2026 (tanggal pasti akan dibicarakan dengan tuan rumah masing-masing).  

Tentang tuan rumah residensi

Arka Kinari adalah platform budaya terapung, sebuah performans oleh pasangan seniman Grey Filastine (Spanyol) & Nova Ruth (Indonesia). Kapal layar berbobot tujuh puluh ton ini mengarungi samudra untuk mempromosikan ketahanan terhadap perubahan iklim dan menjalin kembali hubungan dengan laut.

Pada siang hari, Arka Kinari menyelenggarakan lokakarya mengenai kelestarian lingkungan dan mengadakan perbincangan dengan komunitas lokal.

Pada malam hari, kapal tersebut berubah menjadi panggung untuk performans oleh Filastine & Nova, yang menggunakan musik untuk membunyikan alarm terhadap perubahan iklim dan memanfaatkan tampilan visual sinematik untuk membayangkan kehidupan pasca-kapitalisme fosil.

Sebagai produksi keliling yang digerakkan oleh angin, ditenagai oleh matahari, dan diagihkan secara cuma-cuma di daerah tepi laut yang terbuka untuk umum, Arka Kinari merupakan sebuah pesan sekaligus sebuah metode. Arka Kinari telah menyinggahi lebih dari 25 negara dan telah tampil di festival seperti OHM Festival (Brisbane, Australia), Sydney Festival (Sydney, Australia), Mona Foma Festival (Hobart, Australia), dan Colomboscope (Colombo, Sri Lanka).

Persyaratan menjadi peserta residensi

  • Berasal dari dan berbasis di Indonesia.
  • Seniman tingkat madya (mid-career) dengan pengalaman minimal 5 tahun dan portofolio yang kuat.
  • Bahasa Inggris merupakan bahasa komunikasi utama selama residensi, karena Arka Kinari adalah komunitas multibahasa. Mengingat seniman peserta residensi diminta berpartisipasi aktif selama residensi, mereka harus memahami dasar-dasar bahasa Inggris dan merasa nyaman berkomunikasi lisan dalam bahasa tersebut.
  • Terlibat dalam kerja komunitas dan pembinaan kepedulian melalui praksis artistik. Seniman peserta diminta melibatkan diri dengan para anggota Arka Kinari, komunitas pelayaran, dan lingkungan komunitas kami yang lebih luas. Harap diperhatikan bahwa kami tidak menyediakan ruang studio dalam bentuk apa pun untuk kegiatan produksi.
  • Fokus pada isu-isu lingkungan, khususnya terkait keadilan iklim, komunitas tradisional, dan komunitas pesisir merupakan keharusan.
  • Harus memiliki karya atau keterlibatan sebelumnya dengan komunitas pesisir atau komunitas yang terdampak oleh krisis iklim.
  • Program residensi ini menuntut kerja fisik berkepanjangan, terutama saat berlayar naik Arka Kinari. Kerja fisik ini mencakup tapi tidak sebatas menaikkan layar seberat 15-20 kg, menjaga keseimbangan di lingkungan yang bergoyang, menaiki dan menuruni tangga setinggi sampai 2 meter, dan berada di bawah terik matahari untuk waktu yang lama. Kami menganjurkan agar para peminat mempertimbangkan apakah persyaratan fisik dan mental tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
  • Pengalaman berlayar bukan merupakan keharusan, tetapi lebih disukai. Sebagai kapal yang relatif kecil, Arka Kinari mengandalkan kemampuan semua orang di kapal untuk menjalani kehidupan sehari-hari di laut. Ini berarti semua awak berbagi tugas dan tanggung jawab, termasuk para seniman. Mengingat keterbatasan ruang pribadi, sikap kolaboratif dan fleksibel mutlak diperlukan.
  • Mandiri, proaktif, dan mampu memimpin riset serta produksi karya masing-masing.
  • Kami tidak menerima aplikasi sebagai pasangan/kolektif karena keterbatasan ruang di kapal.

Apa yang akan diperoleh selama residensi

  • Seniman peserta residensi akan melakukan sampai dengan dua pertemuan pendahuluan dengan Arka Kinari dan Goethe-Institut untuk membahas dan menyelaraskan ekspektasi, proses, dan pelaksanaan residensi, terutama dari segi minat, tanggung jawab, dan logistik.
  • Seniman peserta residensi akan didampingi dan difasilitasi oleh Filastine & Nova dan tim pendukung Arka Kinari dalam mengembangkan visi, riset, jadwal dan keluaran artistik selama residensi. Mereka juga akan mendapat akses ke penasihat teknis.
  • Seniman peserta residensi dan Arka Kinari akan bersama-sama mengembangkan visi dan jadwal untuk residensi.
  • Seniman peserta residensi akan ditampung oleh Arka Kinari dan krunya selama 10 sampai 14 hari masa residensi, dan menjadi bagian dari kru kapal serta terlibat dalam kegiatan pelayaran, navigasi, dan kerja kapal ringan sebagaimana diperlukan.
  • Komunitas terpilih dari jejaring Coastal Communities Conference akan menampung para seniman peserta residensi selama 8 sampai 10 hari sebelum residensi utama di atas kapal Arka Kinari, dan akan mendukung seniman peserta residensi dengan akomodasi, diskusi berkala mengenai materi pilihan, dan dukungan logistik sebagaimana diperlukan.

Apa yang kami tawarkan

Goethe Institut akan menanggung biaya perjalanan (tiket pesawat internasional, transpor lokal), akomodasi, konsumsi yang disediakan, uang harian, dan visa (jika perlu) selama berlangsungnya residensi. Seniman peserta residensi akan menerima anggaran produksi sebesar Rp 19.500.000. Seniman peserta residensi juga akan menerima honorarium sebesar Rp 30.000.000.

Perjalanan, akomodasi, dan konsumsi selama residensi akan diadakan dan diatur melalui para tuan rumah residensi. Mohon perhatikan bahwa kami akan berusaha mengatur urusan logistik dengan sebaik mungkin, tetapi harap maklum jika opsi yang tersedia ternyata terbatas.

Proses pengajuan aplikasi

Jika residensi ini relevan dengan minat dan perjalanan karier Anda, silakan isi formulir berikut:
Pendaftaran ditutup tanggal 10 April 2026 pukul 23:59 waktu Jakarta (WIB).

Setelah mengajukan aplikasi, Anda akan menerima konfirmasi otomatis bahwa aplikasi Anda telah diterima oleh kami. Semua aplikasi akan dievaluasi oleh Arka Kinari, juri independen, dan wakil Goethe-Institut. Sampai dengan lima calon yang masuk daftar pendek akan diundang untuk wawancara daring tanggal 20-24 April 2026. Seniman peserta residensi yang terpilih akan mendapat pemberitahuan tanggal 27 April 2026.

Untuk memastikan penilaian yang adil dan seragam, aplikasi akan dievaluasi berdasarkan kriteria berikut: kualitas pribadi, konsistensi artistik, dan riwayat karir, kontribusi potensial bagi tuan rumah, potensi belajar bagi residen, serta kontribusi bagi scene lokal dan di luarnya. Pengalaman berlayar merupakan nilai tambah, tetapi tidak wajib. Kami juga mempertimbangkan asal geografis, jenis kelamin, dan bidang keahlian untuk memastikan keragaman selama residensi.

Ikuti kami