Lamaran Kerja Kompetensi Bahasa Jerman pada CV

Pengetahuan bahasa seringkali dijadikan syarat di dunia kerja.

Ada yang mengaku “mampu bernegosiasi dalam bahasa Jerman” begitu bisa memesan secangkir kopi. Ada pula yang menulis: “Deutsch: C2” tanpa penjelasan lebih lanjut. Kompetensi bahasa seseorang memang perlu disebutkan dalam setiap lamaran kerja. Tapi bagaimana menjabarkannya dengan tepat?

Pelamar dari luar negeri yang ingin bekerja di perusahaan Jerman harus mencantumkan dalam berkas lamaran seberapa baik kemampuan berbahasa Jerman mereka, apa bahasa ibu mereka, dan apa saja bahasa asing lain yang mungkin mereka kuasai.  Tapi bagaimana caranya menilai kompetensi bahasa diri sendiri secara realistis? Dan bagaimana cara menjabarkannya di dalam daftar riwayat hidup? Buku pedoman menulis lamaran biasa membuat peringkat mulai dari dasar, baik, sangat baik, lancar, dan mampu bernegosiasi, namun tiap-tiap peringkat tidak selalu didefinisikan. Kriteria pemeringkatan yang lebih jelas terdapat pada tingkat A1 sampai C2 Kerangka Referensi Bersama Eropa untuk Bahasa (GER), yang dikembangkan oleh Dewan Eropa sampai tahun 2001. Dewasa ini sebagian besar penyelenggara kursus bahasa berorientasi pada kerangka referensi tersebut. Pelamar dapat memilih untuk mencantumkan sebutan lama dalam daftar riwayat hidup masing-masing atau menggunakan pemeringkatan GER.
 

Apakah kalangan pemberi kerja mengenal kerangka referensi itu?

Paul Ebsen dari Badan Federal Tenaga Kerja memperkirakan masih ada yang belum mengenal GER di kalangan pemberi kerja di Jerman. Sebab di antara persyaratan yang tercantum pada iklan lowongan kerja jarang ada yang mengacu ke kerangka tersebut. “Sebagian besar iklan lowongan menuntut ‘kemampuan bahasa Jerman yang baik’. Kadang-kadang kemampuan dasar saja sudah dianggap memadai. Kalau begitu sudah cukup kalau pelamar bisa memperlihatkan bukti pernah mengikuti kursus bahasa Jerman. Dan berhubung sekarang pencari suaka semakin banyak, semakin banyak pula perusahaan di Jerman yang sudah puas dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik,” kata Ebsen.

Nadja Fügert telah dua puluh tahun menjadi dosen Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing (DAF) dan memberikan pelatihan melamar kerja untuk orang-orang yang belajar Bahasa Jerman sebagai Bahasa Kedua (DaZ). Ia memberi saran kepada banyak pelamar untuk menggunakan pemeringkatan GER saat menjabarkan kompetensi bahasa dalam daftar riwayat hidup masing-masing. “Di perusahaan kecil dan menengah yang berkecimpung di bidang TI dan jarang berhadapan dengan urusan bahasa, misalnya, bisa saja terjadi sang pimpinan membaca surat lamaran tanpa memiliki bayangan sama sekali mengenai maksud A1 atau B2. Tetapi dalam konteks pekerjaan administrasi atau jika ada penanggung jawab personalia, patut diasumsikan bahwa istilah-istilah itu sudah dikenal.”

Jika suatu iklan lowongan secara eksplisit menuntut kompetensi bahasa, para pelamar perlu menyinggung kemampuan mereka bukan hanya dalam daftar riwayat hidup, melainkan juga dalam surat motivasi. Ijazah dan sertifikat tentu saja memberi kesan yang baik, asalkan sesuai dengan persyaratan yang diminta dan dengan kompetensi pelamar. “Seseorang yang menguasai bahasa Jerman pada tingkat C1, tetapi hanya dapat memperlihatkan Zertifikat Deutsch mungkin lebih baik tidak melampirkannya, karena akan mengaburkan kualifikasi yang sebenarnya,” kata Nadja Fügert.  Ia menyarankan para pelamar menguraikan kompetensi apa saja yang  mereka miliki dan di mana mereka memperolehnya. Di sini berlaku: Semakin konkret keterangan yang diberikan, semakin jelas gambaran yang diperoleh pihak pemberi kerja mengenai kompetensi bahasa pelamar bersangkutan.


Jangan merendah maupun meninggi

“Hal yang sangat penting diperhatikan dalam menilai kompetensi diri adalah jangan terlampau kritis memandang diri sendiri,” Nadja Fügert menjelaskan. Sebagai dosen ia sering mendapatkan pelamar yang bersikap terlalu negatif ketika menaksir kompetensi diri: “Selalu saja ada pembelajar yang menjelaskan dalam bahasa Jerman yang lancar bahwa ia nyaris tidak bisa apa-apa. Karena itu, orang yang cenderung merendah sebaiknya minta pendapat guru bahasa atau paling tidak masukan teman.” Untuk menghindari kejadian tidak mengenakkan saat wawancara, pelamar juga jangan meninggi pada waktu menyusun berkas lamaran, melainkan bersikap sejujur mungkin. “Jika pihak pemberi kerja menuntut ‘kemampuan berbahasa Jerman dengan lancar’ dalam iklan lowongan, atau jika pelamar mengaku memiliki kemampuan tersebut, besar kemungkinan wawancara kerja akan berlangsung dalam bahasa Jerman,” kata Ebsen.

Agar tidak gugup, pelamar sebaiknya memikirkan lebih dulu jawaban yang cocok untuk pertanyaan yang lazim diajukan. Yang terpenting saat wawancara adalah tetap tenang. “Banyak orang yang bukan penutur asli mengira wawancara langsung dianggap gagal begitu mereka menggunakan akhiran yang keliru untuk suatu kata sifat. Tentu saja itu tidak benar. Bagaimana pun, kompetensi komunikasi dan pengetahuan teknis tetap lebih penting,” kata Nadja Fügert. Kalau pun kompetensi bahasa disinggung dalam wawancara, pelamar sebaiknya menanggapi tema itu secara ofensif dengan menjelaskan bagaimana ia akan menangani masalah kebahasaan yang mungkin timbul di tempat kerja, dan mengapa masalah itu takkan mengganggu urusan pekerjaan. Berbagai lembaga menawarkan pelatihan lamaran kerja khusus untuk orang yang bukan penutur asli. Pelatihan seperti itu bisa sangat bermanfaat dan sebagian mendapat dukungan Badan Federal Tenaga Kerja.

 

Daftar Pustaka

Nadja Fügert / Ulrike Richter: Bewerbungstraining: Kursmaterial Deutsch als Zweitsprache. Niveau A2-B1. Stuttgart, 2009

Jasmin Hagmann / Christoph Hagmann: Erfolgreich bewerben mit Migrationshintergrund. Freiburg, 2012.