66 Tahun Goethe Ketika Dunia Berputar Semakin Kencang

Goethe-Institut Lomé, 1976 – Dua peserta kursus tengah beristirahat sementara bapak di tengah menjaga peralatan | Foto: Michael Friedel
Goethe-Institut Lomé, 1976 – Dua peserta kursus tengah beristirahat sementara bapak di tengah menjaga peralatan | Foto: Michael Friedel | Foto: Michael Friedel

Goethe-Institut berulang tahun. Ini bukan ulang tahun angka bulat, dan angka bulat itu sendiri cenderung terlalu dibesar-besarkan. Namun yang jelas, hari jadi ini tetap patut dirayakan secara istimewa. Dan bukan hanya karena Lida.

Pada hari seperti hari ini – atau lebih tepatnya: pada hari ulang tahun ke-66 Goethe-Institut– bolehlah kita sejenak menengok ke belakang: misalnya ke hamparan rumput indah di Pegunungan Alpen pada tahun lima puluhan. Yang terlihat bukan sang Förster vom Silberwald (Jagawana Hutan Perak – tokoh utama film berjudul sama), melainkan sekelompok anak muda dari mancanegara yang sedang berjalan-jalan di alam bebas. Mereka menghampiri laki-laki tua yang memakai topi tradisional dan memegang pipa tembakau. Seorang perempuan muda dari Iran bertanya: “Permisi, masih berapa jauh sampai desa berikut?” Jawabannya: “So oanahoib Stund.” Perempuan itu tampak bingung. “Maaf?” Laki-laki berkemeja kotak-kotak angkat bicara dan menjelaskan: “Itu logat setempat. Maksudnya, satu jam setengah. Atau satu setengah jam.” Laki-laki tua tadi memprotes: “Des hob’ I ja gsogt.” (Saya juga bilang begitu).

Ini adalah adegan dari film pendek Lida lernt Deutsch (Lida belajar bahasa Jerman) karya Edgar Reitz semasa muda. Reitz, yang di kemudian hari menjadi terkenal dengan drama keluarga Heimat, ketika itu ditugaskan membuat film untuk mempromosikan kursus bahasa Goethe-Institut di kalangan mahasiswa luar negeri

Saat itu penyelenggaraan kursus bahasa baru saja dimulai. Kursus bahasa pertama di Jerman (Barat) diadakan pada tahun 1953 di Bad Reichenhall di daerah Bavaria Hulu. Sampai akhir tahun enam puluhan pun, cabang-cabang Goethe-Institut terutama berada di berbagai kota kecil dan desa di kawasan rural. Pada masa tersebut, daerah pedesaan diyakini sebagai tempat terbaik untuk belajar dengan tenang tanpa banyak gangguan. Tetapi toilet bersama di luar kamar dan kesempatan mandi dengan pancuran sekali seminggu, sesuai kebiasaan waktu itu, membuat siswa dari kalangan berada – orang lain takkan sanggup membiayai kunjungan ke Jerman – terheran-heran.
 

DARI BAD REICHENHALL SAMPAI NOVOSIBIRSK

Sekarang sudah tidak ada Goethe-Institut di Bad Reichenhall, tapi di 159 lokasi lain ada. Di 98 negara. Dari San Francisco sampai Novosibirsk, dari Helsinki sampai Wellington. Lebih dari 200.000 orang mengikuti kursus bahasa Goethe-Institut pada tahun 2016/2017. Institusi ini kini mempunyai 3.300 karyawan. Dan “Goethe” pun sudah lama menjadi lembaga yang selain membina bahasa juga memperhatikan kebudayaan. Ada 5.000 proyek kebudayaan yang diprakarsai pada tahun 2016/2017.

Tidak mengherankan bahwa di Goethe-Institut ada rasa bangga akan hasil-hasil yang dicapai hingga sekarang. “66 tahun Goethe-Institut, berarti 66 tahun sebagai perantara kebudayaan, pengusung dialog internasional, dan penyedia ruang bebas untuk berpikir dan berdiskusi,” demikianlah rangkuman Klaus-Dieter Lehmann, presiden Goethe-Institut. “Saya berharap Goethe-Institut akan mampu semakin mengembangkan perannya sebagai duta kebudayaan, perantara bahasa, dan pembangun jembatan yang diakui dunia dan bertindak sebagai penjamin kebebasan berpendapat – khususnya di masa sulit ini, ketika dialog dan kerja sama kian penting.”

Pandangan serupa dikemukakan oleh sekretaris jenderal Johannes Ebert: “Dunia sedang berubah, dan Goethe-Institut berada di tengah-tengah perubahan itu. Ini berlaku untuk masing-masing dari ke-66 tahun terakhir. Justru sekarang dunia terasa berputar semakin kencang: tuntutan terhadap kebudayaan dan pendidikan sebagai landasan komunikasi dan bidang pertukaran internasional semakin meningkat. Untung saja pada usianya yang ke-66 Goethe-Institut belum tergolong lansia – justru sebaliknya. Tapi kalau pun begitu? Masih ada syair lagu Udo Jürgens: ‘Mit 66 Jahren, da kommt man erst in Schuss. Mit 66 ist noch lange nicht Schluss’.” (Pada usia 66 hidup baru mulai seru. Usia 66 jangan disangka sudah uzur.)
 

STRAUSS TIDAK BISA TERTAWA

Sepanjang sejarahnya Goethe-Institut telah menghadapi berbagai perubahan. Tujuan semula adalah memulihkan citra Jerman yang terpuruk akibat perbuatan kaum Nazi dan mendukung kembalinya Jerman ke masyarakat internasional. Di zaman Kanselir Brandt, politik kebudayaan luar negeri mengalami perombakan dan berperan penting sebagai “pilar ketiga” di samping diplomasi klasik dan politik ekonomi luar negeri.

Kerja di lingkungan Goethe-Institut menjadi semakin kritis dan semakin memperhatikan aspek sosio-politik. Akibat keruntuhan Tirai Besi, Eropa Timur menjadi fokus perhatian dan, paling tidak sejak peristiwa 11 September, begitu pula dialog antarbudaya. “Dialog antarbudaya merupakan elemen mutlak pada politik perdamaian Eropa dan global,” demikian pernah disampaikan mantan menteri luar negeri Hans-Dietrich Genscher. “Dewasa ini, ketika tesis ‘benturan peradaban’ yang konon tidak terelakkan menjadi buah bibir, ini perlu digarisbawahi dengan tegas.”

Goethe-Institut sendiri sejak awal bekerja secara mandiri dan tanpa tergantung kepada pemerintah – yang kadang-kadang membawa harga yang harus dibayar. Termasuk di sini berbagai skandal – atau apa yang dianggap sebagai skandal pada masa itu. Misalnya saja, ketika Goethe-Institut menyelenggarakan pameran Klaus Staeck dengan poster-poster provokatif mengenai Franz Josef Strauß pada tahun 1974 di London. Politikus tersebut tidak senang. Tetapi Goethe-Institut tidak bertekuk lutut di hadapan kekuasaan.

Menyampaikan prognosis mengenai keberadaan Goethe-Institut pada dasawarsa-dasawarsa berikut akan berkesan lancang. Tetapi dalam satu hal Presiden Lehmann merasa yakin: “Hanya yang berubah yang akan bertahan.”

-db/fg-