Interview “Mutual Unknown”: Pameran Eksperimental; Pemberdayaan Pelaku Seni dan Publik

Pameran; Mutual Unknown - Jakarta
Pameran; Mutual Unknown - Jakarta | © Goethe-Institut Indonesien

Dari tanggal 2 sampai 17 Juni 2017, sembilan seniman dari seluruh Asia Tenggara mempresentasikan karya-karya mereka dalam rangka pameran eksperimental “Mutual Unknown”, sebuah proyek yang digagas oleh para kurator yang tergabung dalam CuratorsLAB, di Jakarta. Selama tiga minggu sebelumnya mereka telah mengembangkan ide-ide mereka, untuk kemudian dituntaskan di hadapan publik. Pemikiran di balik pendekatan ini: “Mutual Unknown” menghadapkan para kurator, seniman, serta publik sebagai orang yang mula-mula asing satu sama lain. Dengan melanjutkan karya masing-masing dan melalui umpan balik terbuka mereka akhirnya mulai saling mengenal. Berikut cerita empat di antara para seniman mengenai ekspektasi, pengaruh, dan pengalaman masing-masing:

 


Bagaimana pandangan kalian mengenai proyek “Mutual Unknown”?
 
Nuttapon: Proyek ini sangat interaktif. Setiap hari kami belajar sesuatu dari orang lain, dari para pengunjung. Kerja dan pemikiran saya berubah setiap hari karena saya memperoleh ide-ide baru dari kesibukan di sekitar saya dan dari perbincangan dengan para pengunjung.
 
Tan Vatey: Proyek ini merupakan tempat yang mempertemukan seniman, kurator dan publik. Ini sesuatu yang istimewa, karena kami dapat berinteraksi dengan publik dan saling berjumpa.

Leonard Yang: Ini merupakan proyek bertempo tinggi yang membuka mata kami. Ini menantang, tapi sekaligus memperkaya. Waktu kami sangat terbatas untuk menciptakan sesuatu dan mengembangkan ide tertentu lebih lanjut. Biasanya saya tidak bekerja secepat ini kalau berada di Singapura. Menghasilkan seri atau karya baru dalam waktu tiga minggu saja menjadi tambahan pengalaman tersendiri.

Sejauh mana “Mutual Unknown” mengubah sudut pandang kalian mengenai Asia Tenggara dan seni di sini?
 
Tan Vatey: Seni di sini berbeda. Menurut pengamatan saya, yang penting di sini adalah pengembangan hubungan, interaksi dengan publik. Jadi, saya berkarya tidak seorang diri: Saya berkolaborasi dengan seniman lain, dengan publik. Keramaian di sekeliling saya memberi ilham dan membuat seni saya tetap hidup.

Thuy Thien Nguyen: Sebetulnya saya tidak pernah melabel seni sebagai “seni dari Asia Tenggara”. Saya bahkan tidak melihat perbedaan yang terlalu besar di antara para seniman. Saya tidak berkata, itu Renz Lee dari Filipina, itu Fajar Abadi dari Indonesia, dan ini saya dari Vietnam. Suasana kebersamaan ini sangat seru. Tapi bekerja seperti ini juga mengubah diri saya. Dulu saya selalu membahas identitas, kali ini saya memperhatikan hal lain. Tema utama saya sekarang waktu, masa lalu dan masa kini. Ini tema yang sama sekali baru, dan saya bisa belajar banyak dari para seniman lain.

Nuttapon: Saya tidak tahu banyak mengenai Asia Tenggara, hanya mengenai Thailand dan Indonesia. Menurut saya, pengunjung dan seniman di sini berbeda. Banyak seniman di Thailand menggarap pernyataan politik, begitu juga saya, kalau saya di sana. Di sini semuanya lebih santai. Kita bisa berbicara mengenai apa saja, dan publik pun memahaminya. Dalam berbagai percakapan saya menyadari bahwa kita berasal dari generasi yang sama dan berpikiran serupa.
 
Apa ekspektasi kalian pada awal proyek ini?
 
Leonard Yang: Saya mengira akan bekerja secara individual, yang dalam hal tertentu memang terjadi. Banyak di antara para seniman di sini bekerja secara individual dalam pengertian bahwa mereka berkonsentrasi pada gagasan dan karya masing-masing. Walaupun begitu saya akhirnya mengenal mereka dengan lebih baik, bukan karena kolaborasi atau sebuah proyek, melainkan karena sehari-hari kami bekerja di lingkungan yang sama.

Tan Vatey: Ekspektasi pribadi saya adalah pertukaran di antara para seniman dan kurator dari Asia Tenggara. Saya berharap bahwa saya bisa belajar lebih banyak mengenai kebudayaan Indonesia dan Asia Tenggara, bahwa para seniman menemukan jalan sendiri untuk berekspresi, bahwa kami akan mengunjungi galeri bersama-sama. Syukurlah semua itu memang terjadi dan kami pun belajar banyak.
 
Apa saja tantangan yang harus kalian atasi selama berlangsungnya proyek?
 
Thuy Tien Nguyen: Waktu persiapannya sangat singkat, kurang dari satu minggu. Karena itu sulit untuk mengembangkan sudut pandang baru, karena pemahaman kami belum memadai untuk mengembangkan sudut pandang. Semua yang saya lakukan dan pikirkan itu ibarat sebuah sketsa. Mula-mula saya kira ini suatu kekurangan, tapi sekarang saya pikir ada memang ada baiknya. Waktu yang terbatas memaksa kita mengambil keputusan: Mana yang penting? Mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak? Dan kita harus selalu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang membuat saya tertarik untuk mengembangkan proyek ini? Jadwal yang ketat mula-mula melelahkan, karena kami harus ke sana-sini, tapi semuanya yang sangat menantang dalam arti yang positif.

 
Menurut kalian, peluang atau kesempatan apa saja yang diberikan oleh pameran ini kepada kalian dan para pengunjung?
 
Leonard Yang: Para pengunjung berkesempatan mengenal para seniman dengan baik, dan mengetahui lebih banyak mengenai apa yang mereka sajikan langsung dari tangan pertama. Ini penting, karena tidak setiap hari kami berkesempatan berbincang dengan publik yang melihat karya-karya kami. Sering kali karya kami dipamerkan oleh sebuah galeri atau oleh institusi lain, oleh orang lain, atas nama kami. Untuk saya, dan saya kira juga untuk sebagian pengunjung, sangat menarik untuk memperbincangkan karya saya, apa yang saya kerjakan dan apa yang ingin saya ungkapkan.

Nuttapon: Banyak pengunjung datang dan mengambil foto, tapi tidak mengatakan apa-apa. Saya ingin mendorong orang untuk bersikap aktif dan melakukan sesuatu. Mereka jangan sekadar mengamati proyek, tapi juga berbicara dengan saya dan membahas konsep di balik karya saya. Dengan cara ini mereka akan memperoleh lebih banyak lagi dari pameran ini.

Thuy Tien Nguyen: Bagi publik, pameran seperti ini tidak terlalu mengintimidasi. Kalau kita mengunjungi museum dan melihat karya seni, selalu ada jarak. Tapi kalau kita bisa mengamati proses penciptaannya, filter itu akan semakin larut.
 

 

Leonard Yang © Leonard Yang Leonard Yang:dalam karya-karyanya, Leonard Yang dari Singapura menyoroti perubahan ruang luar yang terjadi sehari-hari, ketiadaan area tidak terpakai pada wajah kota, serta alienasi terhadap warisan budaya. Ia telah menyajikan karya-karyanya pada “ASEAN-Korean Multimedia Competition Exhibion” 2014 dan menjadi finalis pada pameran penghargaan seni yang diselenggarakan oleh majalah “Harper’s Bazaar” pada tahun 2016.

Nuttapon © Nuttapon Nuttapon: Kerusuhan politik di Thailand pada tahun 2006 mendorong Nuttapon untuk berkonsentrasi pada tema politik – terinspirasi oleh gagasan Phumisak mengenai seni dan budaya sebagai perangkat untuk perdebatan mengenai masalah sosial. Nuttapon meyakini bahwa setiap bidang studi mempunyai proses belajar dan representasi tersendiri. Menurutnya, di bidang seni terdapat kaitan erat antara belajar, bereksperimen, gagasan dan praktik.

Tan Vatey © Tan Vatey Tan Vatey: belajar di Sa Art Projects dan selanjutnya bekerja suka rela sebagai guru seni dan desainer pada berbagai LSM di Phnom Penh. Vatey meraih tempat ketiga pada lomba Art On Aids dalam rangka Kongres Internasional AIDS Asia-Pasifik ke-11 yang berlangsung tahun 2013 di Bangkok. Ia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan live-painting di Phnom Penh dan pada pameran bersama di Siem Reap.

Thuy Tien Nguyen © Thuy Tien Nguyen Thuy Tien Nguyen: Seniman Thuy Tien Nguyen dari Vietnam bereksperimen dengan berbagai media seperti fotografi, video, teks, instalasi, dan performance. Ia bercerita tentang sisi yang paling dalam dan paling peka dari diri, raga, jiwa, dan eksistensinya sendiri.