AI - Kecerdasan Buatan Yang Menjawab

AI - Kecerdasan Buatan
AI - Kecerdasan Buatan | Foto (detail): © Adobe

Mengenai perbedaan tidak terjembatani antara manusia dan mesin – sebuah esai.
Oleh Peter Glaser.

Apakah hak-hak asasi kita masih merupakan perlindungan yang memadai di zaman big data, jejaring sosial dan algoritme pengambil keputusan? Untuk memastikan adanya perlindungan itu, pakar-pakar digital dari Jerman memperjuangkan Piagam Hak-Hak Asasi Digital Uni Eropa.

Keputusan yang diambil oleh orang-orang cerdas berdasarkan logika mereka bukan hanya membawa dampak yuridis dan praktis, tetapi juga dampak etis. Karena itu, sebuah komisi etik antara lain membahas masalah tanggung jawab sendiri pada kendaraan autonom.

Kemampuan bot penggiring opini juga diamati secara kritis: Sejauh mana program-program tersebut mampu memengaruhi proses-proses politik? Melihat kampanye-kampanye pemilu yang lalu, ada banyak alasan untuk berdiskusi.

Secara keseluruhan, perdebatan mengenai  efektifitas algoritme diwarnai oleh tuntutan akan transparansi di satu pihak dan peningkatan pada pemanfaatan layanan Google, Facebook dan penyedia jasa lainnya.

Semakin luasnya jangkauan teknologi digital sudah terlihat di banyak bidang kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, robot semakin sering digunakan di segala jenis perusahaan – bukan hanya di pabrik, tetapi juga di bidang perawatan. Selain menimbulkan risiko bagi ketersediaan tempat kerja, perkembangan tersebut juga memberi peluang untuk lebih banyak ruang bebas dan peningkatan efisiensi.

Yang bukan lagi sekadar utopia adalah konsep smart city – sebuah kota yang berkat teknologi cerdas menjadi ramah lingkungan dan sekaligus hemat sumber daya. Namun ada harga yang harus dibayar untuk kebersamaan cerdas seperti itu: Ruang publik dan orang-orang yang bergerak di dalamnya hampir sepenuhnya terpetakan.

Dan bagaimana dengan kunst? Seni pun semakin sering memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mencapai tujuannya. Semakin banyak orang kreatif yang melalui karya-karya mereka menyoroti hubungan antara kode, seni dan kehidupan di dunia digital. Pada tahun 1997, ahli sibernetika Kevin Warwick mengawali bukunya yang berjudul “March of the Machines” dengan skenario masa depan yang suram. Warwick berpandangan bahwa sejak pertengahan abad ke-21 penduduk Bumi bisa berada di bawah kekuasaan jejaring kecerdasan buatan (KB) dan robot-robot unggul, sedangkan kegunaan manusia terbatas sebagai pemicu sedikit kekacauan pada sistem.

Mungkinkah mesin kelak merasa malu karena diciptakan oleh manusia, sama seperti manusia merasa malu ketika mengetahui ia merupakan keturunan monyet? Pada tahun 1980-an, pelopor KB asal Amerika Edward Feigenbaum membayangkan bagaimana buku-buku di perpustakaan masa depan buku akan saling berkomunikasi  dan dengan begitu terus menambah pengetahuan masing-masing. Marvin Minsky, seorang koleganya, berkomentar: “Bisa jadi kita akan dipertahankan sebagai hewan peliharaan.” Pada tahun 1956, Minsky menjadi salah satu ko-penyelenggara sebuah konferensi di Dartmouth College di New York yang pertama memunculkan istilah “artificial intelligence” – kecerdasan buatan.
Sampai sekarang masih kita yang memandang mesin sebagai piaraan. Mulai kapan keadaannya akan berbalik? Foto (Zuschnitt): © picture alliance / dpa Themendienst / Andrea Warnecke

Kemajuan yang sempat dijanjikan oleh perluasan kecerdasan melalui komputer tergolong spektakuler. Segala jenis persoalan konon akan segera dapat dipecahkan oleh otak-otak elektronik. Sebagian besar harapan tersebut tidak terwujud, atau baru terwujud setelah beberapa dasawarsa dan itu pun pada bidang yang sangat terbatas, seperti pada permainan catur dan pengenalan pola. Namun kemajuan teknologi dalam beberapa tahun terakhir melahirkan dinamika baru pada perkembangan tersebut. Teknologi penyimpanan baru, komputer super yang semakin canggih, konsep baru pangkalan data untuk pengolahan data dengan volume raksasa, investasi besar-besaran oleh perusahaan internet, dan sekarang juga perlombaan antarnegara memperebutkan kekuasaan atas dunia melalui “keunggulan algoritme” membangkitkan kembali ketakutan lama akan kecerdasan buatan.

Pada bulan Mei 2014, empat ilmuwan terkemuka – pemenang Hadiah Nobel Fisika Frank Wilczek, pakar kosmologi Max Tegmark, ilmuwan komputer Stuart Russell dan ahli fisika yang mungkin paling terkenal di dunia, Stephen Hawking – menyampaikan imbauan kepada para pembaca surat kabar Inggris The Independent.  Mereka mewanti-wanti agar mesin-mesin cerdas jangan diremehkan sebagai fiksi sains semata-mata: “Meluncurkan kecerdasan buatan secara sukses akan merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah manusia. Sayangnya, peristiwa itu mungkin juga akan menjadi yang terakhir, jika kita tidak belajar bagaimana menghindari risiko-risiko terkait.”

PEMUSNAHAN UMAT MANUSIA?

Patut dicatat bahwa penelitian KB didominasi oleh kaum pria, dan bahwa dorongan menggebu-gebu di antara mereka untuk menciptakan sesuatu mungkin dipengaruhi oleh bentuk kebalikan dari penis envy, sebutlah sebagai birth envy. Ini menyangkut keinginan tak terbendung untuk menghadirkan ciptaan sendiri sebagai tandingan bagi sebuah organisme hidup, yang sejak 400 juta tahun – sejak awal mula kehidupan – telah berkeliaran di dunia dalam bentuk yang kian canggih berkat proses evolusi. Ciptaan itu diharapkan tidak sekadar setara dengan manusia, melainkan melampaui manusia dan mendegradasinya menjadi suatu bentuk peralihan antara monyet dan puncak pencapaian teknologi terkini dari proses penciptaan.

Versi ini dinamakan “KB keras” dan didasarkan atas anggapan bahwa setiap fungsi keberadaan manusia dapat dikomputerisasi, terutama bahwa otak manusia bekerja serupa dengan komputer. Semua peringatan mengenai mesin-mesin yang lepas kendali bertemu pada satu titik, yakni singularitas. Ini adalah momen ketika sebuah mesin dapat menyempurnakan dirinya secara otonom dan kemampuannya meningkat seolah-olah meledak. Sementara orang mewanti-wanti bahwa sekali bergulir, mesin hiper seperti itu dapat mengembangkan jati diri independen. Sebuah kedirian yang cerdas.

Kekhawatiran bahwa objek-objek yang mampu berkehendak dapat menghancurkan umat manusia memiliki akar yang dalam. Kekhawatiran itu terkait dengan ketakutan, tetapi juga dengan harapan, bahwa benda mati dapat menjadi hidup, misalnya dengan bantuan sihir. Orang Mesir kuno menaruh boneka-boneka kecil – ushebtis, mereka yang menjawab – di makam kerabat yang meninggal, agar melayani mereka di alam baka. Ini adalah kemunculan pertama konsep komputer dalam sejarah: agen yang siap menjawab dan siap mengerjakan setiap perintah. Instruksi yang dituliskan pada boneka-boneka kecil itu sangat mirip dengan urut-urutan algoritma pada program komputer modern:

Boneka gaib, dengarkan aku!
Jika aku dipanggil
untuk bekerja...
ketahuilah, kau sebagai penggantiku
ditentukan oleh penjaga alam baka
untuk menyemai ladang
mengisi kanal dengan air
mengangkut pasir kemari...


Pada bagian akhir dikatakan:

Inilah aku dan aku menuruti perintahmu.

Mereka yang menjawab di Zaman Antik: Ushebtis dari Mesir, yang ditaruh di dalam makam untuk melakukan pekerjaan di alam baka Mereka yang menjawab di Zaman Antik: Ushebtis dari Mesir, yang ditaruh di dalam makam untuk melakukan pekerjaan di alam baka | Foto (Zuschnitt): © picture alliance / akg / Bildarchiv Steffens

Pada zaman sekarang kita akan menyebutnya “panduan pengguna berbasis dialog” – sedangkan kepercayaan bahwa sebuah mantra dapat menghidupkan boneka tanah liat akan dikatakan sebagai takhayul. Takhayul itu bertahan hingga masa kini. Para pendukung KB keras yakin bahwa cepat atau lambat di dalam komputer akan terbentuk kesadaran yang hidup. Mereka berpegang pada hipotesis bahwa daya pikir dapat direduksi menjadi pengolahan informasi yang tidak tergantung kepada jenis pembawa tertentu. Dengan kata lain, otak manusia tidak mutlak diperlukan dan jiwa manusia juga dapat dimuat ke dalam sebuah komputer. Bagi Marvin Minsky, yang meninggal pada bulan Januari 2016, KB merupakan suatu upaya untuk mengakali kematian.

ILUSI KEAKUAN PADA MESIN

Pada tahun 1965, Joseph Weizenbaum, pakar informatika di Massachusetts Institute of Technology, menulis program bernama ELIZA, yang dapat diajak berbincang-bincang melalui tulisan. Ia membuat ELIZA berperan sebagai ahli psikoterapi yang terlibat pembicaraan dengan seorang klien. “Ibu saya aneh,” orang itu mengetik. “Sudah berapa lama ibu Anda aneh?” si komputer bertanya balik. Apakah ini berarti mesin sudah menjadi sadar? Apa atau siapa yang menyapa kita dengan memberi kesan bahwa di dalam komputer telah terbentuk jati diri independen yang sangat menyerupai jati diri manusia?

Sebelumnya, peralatan hanya memberi sinyal-sinyal impersonal – “tekanan oli turun”, “gangguan operasional”. Weizenbaum terkesima melihat betapa cepat orang yang berbincang-bincang dengan ELIZA mengembangkan hubungan emosional dengan mesin yang menyaru berdasarkan algoritma. Ketika sekretarisnya mencoba program tersebut, Weizenbaum segera diminta meninggalkan ruangan karena sekretarisnya membeberkan detail-detail intim mengenai dirinya sendiri. Tetapi sebuah mesin yang diperintahkan berkata AKU oleh seorang pemrogram masih jauh dari keakuan yang sesungguhnya.

Otak sebagai komputer tidak ada sangkut paut dengan pengetahuan mengenai otak, kecerdasan manusia, maupun keakuan yang personal. Otak sebagai komputer sekadar metafora modern. Mula-mula orang menyangka bahwa manusia dibuat dari tanah liat dan diberi nyawa oleh dewa. Kemudian dikenal model hidrolik – yaitu konsep bahwa “cairan” yang mengalir di dalam tubuh bertanggung jawab atas fungsi-fungsi jasmani dan mental. Ketika orang membuat otomat dari pegas dan roda gigi pada abad ke-16, pemikir-pemikir terkemuka seperti filsuf Prancis René Descartes membayangkan manusia sebagai mesin yang rumit. Pada pertengahan abad ke-19, ahli fisika asal Jerman Hermann von Helmholtz membandingkan otak dengan telegraf. Ahli matematika John von Neumann menyatakan bahwa fungsi sistem saraf manusia bersifat digital. Ia selalu saja menemukan kesamaan antara komponen-komponen mesin hitung semasa itu dan komponen-komponen otak manusia. Tetapi belum pernah ada orang yang menemukan tempat penyimpanan di dalam otak yang bekerja paling tidak menyerupai penyimpan data pada sebuah komputer.

Sebuah mesin dengan hak-hak sipil: Humanoid bernama Sophia melakukan percakapan dan menunjukkan emosi – dan merupakan robot pertama pemegang kewarganegaraan. Pada akhir 2017, robot ini diakui sebagai person oleh Arab Saudi. Sebuah mesin dengan hak-hak sipil: Humanoid bernama Sophia melakukan percakapan dan menunjukkan emosi – dan merupakan robot pertama pemegang kewarganegaraan. Pada akhir 2017, robot ini diakui sebagai person oleh Arab Saudi. | Foto (detail): © picture alliance / Niu Bo / Imaginechina / dpa

Di antara para ilmuwan di bidang kecerdasan buatan hanya ada segelintir yang mengkhawatirkan kecerdasan super yang haus kekuasaan.  “Seluruh komunitas tidak berpikir untuk mengembangkan sesuatu yang dapat meresahkan publik,” Dileep George, ko-pendiri perusahaan KB Vicarious, menenangkan. “Sebagai ilmuwan, kami wajib menjelaskan perbedaan antara Hollywood dan kenyataan kepada masyarakat umum.”

Vicarious, yang menggalang dana sebesar 50 juta dolar antara lain dari Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos, sedang mengembangkan algoritma yang diharapkan berfungsi seperti sistem pencerapan pada otak manusia – sebuah sasaran yang sangat ambisius. Jaringan Saraf Tiruan terbesar yang saat ini digunakan pada komputer memiliki sekitar satu miliar koneksi silang, seribu kali lebih banyak dibandingkan beberapa tahun lalu. Namun dibandingkan dengan otak, jumlah itu masih sangat kecil: Angka tersebut kira-kira setara dengan satu milimeter kubik jaringan otak. Pada tomografi, itu kurang dari satu voksel, ekuivalensi piksel pada ruang tiga dimensi.

Inti masalah bagi KB adalah kompleksitas dunia. Untuk menghadapi kompleksitas tersebut, manusia sejak lahir telah memiliki berbagai potensi yang berkembang melalui evolusi – pancaindranya, sejumlah refleks yang penting untuk bertahan hidup, dan, yang mungkin paling utama, mekanisme belajar berkapasitas besar yang memungkinkannya beradaptasi dengan cepat, sehingga ia semakin baik berinteraksi dengan dunia sekeliling, meskipun dunia itu telah berbeda jauh dari dunia para leluhurnya.

Komputer, sebaliknya, bahkan tidak dapat berhitung sampai dua, hanya mengenal angka nol dan satu, dan mengandalkan kombinasi antara kebodohan dan kecepatan, mungkin ditambah dengan beberapa aturan yang bersifat kira-kira dan dikenal sebagai heuristik, serta matematika tingkat tinggi (kata kunci: jaringan neural). Namun untuk sekadar mendapatkan pemahaman dasar bagaimana otak menggerakkan daya pikir manusia, kita perlu mengetahui bukan saja keadaan aktual ke-86 miliar neuron beserta ke-100 biliun koneksi yang ada, bukan saja intensitas berbeda-beda pada tiap-tiap koneksi, bukan saja kondisi lebih dari 1.000 protein yang terdapat pada setiap titik simpul, tetapi juga bagaimana aktivitas otak pada saat tertentu memengaruhi integritas sistem keseluruhan.
Ini ditambah lagi dengan keunikan setiap otak, yang disebabkan oleh keunikan riwayat hidup setiap manusia.

 

Artificial intelligence, purportedly powerful algorithms, the social consequences of a computerised world – Goethe.de offers additional articles that explain and discuss these topics and issues.

Are our fundamental rights still adequate as protection in the era of big data, social networks and decision-making algorithms? To make sure, digital experts from Germany are campaigning for a Charter of Fundamental Digital Rights of the European Union.

Not only legal and practical consequences, but also ethical implications arise when intelligent machines make decisions based on their own logic. An ethics commission is therefore studying, for instance, the issue of responsibility for decision-making in autonomous motor vehicles.

And the opinion-making power of social bots is also under critical scrutiny: to what extent are they able to influence political processes? The past election campaigns provided considerable grounds for discussion.

Overall, the debate on the impact of algorithms is dominated by the demand for transparency on the one hand and the ever-increasing use of Google, Facebook and other providers' services on the other.

The expansion of digital technology is making itself felt in many areas of everyday life: robots are increasingly in use in businesses of all kinds – not only in manufacturing, but also in the care sector, for example. In addition to some risks to job security, this also presents opportunities for more freedom and increased efficiency.

The model of the Smart City – a city that, thanks to intelligent technologies, is both environmentally friendly and resource-saving – is no longer a utopia. But such a smart community does not come without a price: public space and the people operating in it are almost completely digitally mapped.

And what’s going on with art? It too makes use of artificial intelligence for its own purposes. A growing number of creative artists are devoting themselves in their works to the relationship between code, art, and life in digital worlds.