Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Marxisme dalam Film
Gagasan Marx tetap hidup dalam film

On the set of “The Young Karl Marx” by Raoul Peck
Photo (detail): © picture alliance / Jens Trenkler / dpa

Selalu saja bangkit kembali di layar perak: sudah 120 tahun lamanya ide-ide marxis bermunculan di film-film baru.

Von Lucas Barwenczik

Sejak masa awal produksi film, para sutradara dan pembuat film memanfaatkan medium tersebut untuk menyebarluaskan teori dan keyakinan Marx. Tidaklah mengherankan bahwa ini berlaku terutama untuk film-film Soviet dari tahun 1920-an, yang menyoroti peristiwa-peristiwa di seputar Revolusi Oktober dan Perang Saudara Rusia. Film-film tersebut dimaksudkan agar penonton meyakini tujuan revolusi serta falsafah berlandaskan Marxisme yang dianut oleh pemerintah Soviet yang masih muda ketika itu. Bahkan mereka yang tidak dapat membaca Manifesto Partai Komunis hendak dibuat memahami revolusi melalui layar perak.

Namun pengaruh ide-ide Marxis dalam seni film bertahan hingga masa kini. Bukan saja ada serangkaian film mengenai Karl Marx sebagai sosok historis, contoh terakhir misalnya Der junge Karl Marx (Karl Marx muda) karya Raoul Peck, tetapi di luar itu pun portofolio sineastik penuh dengan kisah mengenai perjuangan kelas dan perjuangan kebebasan, antikolonialisme, alienasi, perang dan revolusi. Itu semua film-film yang tidak secara langsung menyoroti Marx sebagai sosok, tetapi mengangkat gagasan-gagasannya dan mengalihkannya ke era masing-masing. Berikut ada 12 film dari 120 tahun sejarah perfilman yang tidak mungkin terwujud tanpa Marx dan pemikirannya.

  • <b>“Intolerance” (Intoleransi) karya David Wark Griffith (1916)</b><br>Sutradara asal AS David Wark Griffith membahas empat zaman untuk menunjukkan sikap manusia yang intoleran dan suka menggunakan kekerasan: keruntuhan Babilonia, pertikaian Isa dengan kaum  Farisi, pembantian de la Saint-Barthélemy, dan akhirnya sebuah episode kontemporer. Di sini ia melompat-lompat dari masa ke masa untuk membandingkan satu sama lainnya. Ia menyajikan gambaran pertarungan (kelas) abadi, misalnya saja antara buruh penggilingan yang mogok kerja dan alat negara. Photo (detail): © picture alliance / United Archives/WHA
    “Intolerance” (Intoleransi) karya David Wark Griffith (1916)
    Sutradara asal AS David Wark Griffith membahas empat zaman untuk menunjukkan sikap manusia yang intoleran dan suka menggunakan kekerasan: keruntuhan Babilonia, pertikaian Isa dengan kaum Farisi, pembantian de la Saint-Barthélemy, dan akhirnya sebuah episode kontemporer. Di sini ia melompat-lompat dari masa ke masa untuk membandingkan satu sama lainnya. Ia menyajikan gambaran pertarungan (kelas) abadi, misalnya saja antara buruh penggilingan yang mogok kerja dan alat negara.
  • <b>“Battleship Potemkin” (Kapal Tempur Potemkin) karya Sergei Eisenstein (1925)</b><br>Beberapa karya agung dalam sejarah perfilman diproduksi untuk propaganda negara-negara komunis. Sutradara Rusia seperti Dziga Vertov dan Sergei terpukau oleh kekuatan khas medium baru film dan memandang perfilman sebagai alat revolusi. Film bisu Panzerkreuzer Potemkin menggambarkan peristiwa-peristiwa pada tahun revolusi 1905 melalui sebuah pemberontakan anak buah kapal. Awak sebuah kapal perang melawan para perwira yang setia kepada sang Tsar; dari sini, konflik lalu menyebar ke seluruh negeri. Kisah itu didasarkan pada kejadian nyata di atas kapal angkatan laut Potemkin pada bulan Juni 1905, di mana para pemberontak akhirnya terpaksa menyerah karena kehabisan batu bara. Photo (detail): © picture alliance / United Archives
    “Battleship Potemkin” (Kapal Tempur Potemkin) karya Sergei Eisenstein (1925)
    Beberapa karya agung dalam sejarah perfilman diproduksi untuk propaganda negara-negara komunis. Sutradara Rusia seperti Dziga Vertov dan Sergei terpukau oleh kekuatan khas medium baru film dan memandang perfilman sebagai alat revolusi. Film bisu Panzerkreuzer Potemkin menggambarkan peristiwa-peristiwa pada tahun revolusi 1905 melalui sebuah pemberontakan anak buah kapal. Awak sebuah kapal perang melawan para perwira yang setia kepada sang Tsar; dari sini, konflik lalu menyebar ke seluruh negeri. Kisah itu didasarkan pada kejadian nyata di atas kapal angkatan laut Potemkin pada bulan Juni 1905, di mana para pemberontak akhirnya terpaksa menyerah karena kehabisan batu bara.
  • <b>“The Man with a Movie Camera” (Laki-Laki dengan Kamera) karya Dziga Vertov (1929)</b><br>Seni negara-negara komunis sering dikaitkan dengan doktrin realisme sosialistis, yang atas dasar ideologi melarang setiap bentuk abstraksi dan pengindahan. Film dokumenter puitis bertempo cepat Der Mann mit der Kamera memadukan rekaman sehari-hari dari dunia kerja dan waktu luang, sehingga membentuk simfoni yang puitis. Melalui rangkaian gambar yang memesonakan, Dziga Vertov memperlihatkan gabungan antara realitas dan gambaran ideal masyarakat Soviet. Kecepatan film ini mencerminkan perubahan dan pembaruan pesat pasca-Revolusi Oktober 1917, yang  sepenuhnya merombak keseharian melalui penghapusan hak milik atas tanah, nasionalisasi industri, dan pemberlakuan Marxisme sebagai falsafah negara. Photo (detail): Filmstill “The Man with a Movie Camera” / © Dziga Vertov
    “The Man with a Movie Camera” (Laki-Laki dengan Kamera) karya Dziga Vertov (1929)
    Seni negara-negara komunis sering dikaitkan dengan doktrin realisme sosialistis, yang atas dasar ideologi melarang setiap bentuk abstraksi dan pengindahan. Film dokumenter puitis bertempo cepat Der Mann mit der Kamera memadukan rekaman sehari-hari dari dunia kerja dan waktu luang, sehingga membentuk simfoni yang puitis. Melalui rangkaian gambar yang memesonakan, Dziga Vertov memperlihatkan gabungan antara realitas dan gambaran ideal masyarakat Soviet. Kecepatan film ini mencerminkan perubahan dan pembaruan pesat pasca-Revolusi Oktober 1917, yang sepenuhnya merombak keseharian melalui penghapusan hak milik atas tanah, nasionalisasi industri, dan pemberlakuan Marxisme sebagai falsafah negara.
  • <b>“Modern Times” (Zaman Modern) karya Charlie Chaplin (1936)</b><br>Masa kanak-kanak Charlie Chaplin diwarnai oleh kemiskinan. Dalam film-film komedinya yang bergaya slapstick, sutradara dan aktor asal AS itu selalu berpihak kepada kaum papa dan mereka yang terpinggirkan. Selalu saja ia mengungkapkan ketimpangan sosial yang muncul akibat logika produksi kapitalis. Moderne Zeiten dari tahun 1936 memperlihatkan kesulitan hidup sosok gelandangan terkenal, yang dimainkan oleh Chaplin, pada masa pasca-krisis ekonomi dunia tahun 1929, yang diwarnai oleh pengangguran massal dan kapitalisme gaya Ford. Konsep Marx mengenai alienasi jarang ditampilkan seringan dan semenarik dalam sekuens terkenal ini, di mana sang gelandangan terseret ke dalam mesin besar oleh sebuah ban berjalan. Photo (detail): © picture alliance / Everett Collection
    “Modern Times” (Zaman Modern) karya Charlie Chaplin (1936)
    Masa kanak-kanak Charlie Chaplin diwarnai oleh kemiskinan. Dalam film-film komedinya yang bergaya slapstick, sutradara dan aktor asal AS itu selalu berpihak kepada kaum papa dan mereka yang terpinggirkan. Selalu saja ia mengungkapkan ketimpangan sosial yang muncul akibat logika produksi kapitalis. Moderne Zeiten dari tahun 1936 memperlihatkan kesulitan hidup sosok gelandangan terkenal, yang dimainkan oleh Chaplin, pada masa pasca-krisis ekonomi dunia tahun 1929, yang diwarnai oleh pengangguran massal dan kapitalisme gaya Ford. Konsep Marx mengenai alienasi jarang ditampilkan seringan dan semenarik dalam sekuens terkenal ini, di mana sang gelandangan terseret ke dalam mesin besar oleh sebuah ban berjalan.
  • <b>„Fahrraddiebe“ (Pencuri Sepeda) karya Vittorio de Sica (1948)</b><br>Era neorealisme Italia lahir pada pertengahan tahun 1940-an sebagai reaksi terhadap kediktatoran fasis Benito Mussolini di Italia. Terinspirasi oleh realisme puitis dan Marxisme, para penulis dan sutradara berupaya menghadirkan representasi otentik dari kenyataan hidup di Eropa yang porak poranda akibat perang. Fahrraddiebe karya Vittorio de Sica merupakan salah satu contoh terbaik untuk gerakan ini: seorang ayah bekerja sebagai buruh harian untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarganya. Ketika ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai tukang pasang poster, sepedanya dicuri orang. Akhirnya ia sendiri pun menjadi pencuri – dan harus menanggung akibatnya. De Sica menggugat masyarakat kelas kapitalis yang serba keras dan biasa mengadu domba kaum miskin, dan ia mengimbau agar orang mengutamakan solidaritas di antara sesama. Foto (Zuschnitt): © picture alliance / Everett Collection
    „Fahrraddiebe“ (Pencuri Sepeda) karya Vittorio de Sica (1948)
    Era neorealisme Italia lahir pada pertengahan tahun 1940-an sebagai reaksi terhadap kediktatoran fasis Benito Mussolini di Italia. Terinspirasi oleh realisme puitis dan Marxisme, para penulis dan sutradara berupaya menghadirkan representasi otentik dari kenyataan hidup di Eropa yang porak poranda akibat perang. Fahrraddiebe karya Vittorio de Sica merupakan salah satu contoh terbaik untuk gerakan ini: seorang ayah bekerja sebagai buruh harian untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarganya. Ketika ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai tukang pasang poster, sepedanya dicuri orang. Akhirnya ia sendiri pun menjadi pencuri – dan harus menanggung akibatnya. De Sica menggugat masyarakat kelas kapitalis yang serba keras dan biasa mengadu domba kaum miskin, dan ia mengimbau agar orang mengutamakan solidaritas di antara sesama.
  • <b>“Salt of the Earth” (Garam Dunia) karya Herbert Biberman (1954)</b><br>Pada era McCarthy yang diwarnai oleh sikap antikomunis garis keras, setiap ucapan yang mengritik Amerika memicu kecurigaan di AS. Penulis skenario dan sutradara AS Herbert Biberman merupakan anggota Hollywood Ten – sekelompok orang yang menolak memberi kesaksian di hadapan "House Un-American Activities Committee" dan dijatuhi hukuman karenanya. Das Salz der Erde didasarkan atas pemogokan sungguhan kaum buruh perusahaan Empire Zinc di New Mexico pada tahun 1951. Dengan gaya yang bersandar pada neorealisme Italia, film ini mengritik bukan saja kondisi kehidupan kaum buruh yang sebagian besar keturunan Meksiko, tetapi juga moral ganda gerakan mereka: Tokoh utama Ramon memperjuangkan emansipasi semua manusia, namun memperlakukan istrinya Esperanza seperti warga kelas dua. Biberman menegaskan hal yang oleh Marx pun telah dicatat dalam Manifesto Komunis, yaitu bahwa revolusi juga berada di tangan kaum perempuan. Photo (detail): Filmstill “Salt of the Earth” / © Herbert Biberman
    “Salt of the Earth” (Garam Dunia) karya Herbert Biberman (1954)
    Pada era McCarthy yang diwarnai oleh sikap antikomunis garis keras, setiap ucapan yang mengritik Amerika memicu kecurigaan di AS. Penulis skenario dan sutradara AS Herbert Biberman merupakan anggota Hollywood Ten – sekelompok orang yang menolak memberi kesaksian di hadapan "House Un-American Activities Committee" dan dijatuhi hukuman karenanya. Das Salz der Erde didasarkan atas pemogokan sungguhan kaum buruh perusahaan Empire Zinc di New Mexico pada tahun 1951. Dengan gaya yang bersandar pada neorealisme Italia, film ini mengritik bukan saja kondisi kehidupan kaum buruh yang sebagian besar keturunan Meksiko, tetapi juga moral ganda gerakan mereka: Tokoh utama Ramon memperjuangkan emansipasi semua manusia, namun memperlakukan istrinya Esperanza seperti warga kelas dua. Biberman menegaskan hal yang oleh Marx pun telah dicatat dalam Manifesto Komunis, yaitu bahwa revolusi juga berada di tangan kaum perempuan.
  • <b>“The Battle of Algiers” (Pertempuran memperebutkan Aljir) karya Gillo Pontecorvo (1966)</b><br>Kritikus asal AS Pauline Kael menyebut sutradara Italia Gillo Pontecorvo sebagai "penyair Marxis". Dalam film Schlacht um Algier ia menyoroti perang kemerdekaan Aljazair melawan pemerintah koloniol Prancis pada tahun 1954 hingga 1962. Pontecorvo bercerita tentang perjuangan front pembebasan marxis-nasionalis melawan tentara Prancis, dan dengan cermat menyoroti kekerasan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Upaya untuk menyajikan gambaran yang berimbang seperti itu diilhami oleh gaya neorealisme Italia. Photo (detail): © picture alliance / Everett Collection
    “The Battle of Algiers” (Pertempuran memperebutkan Aljir) karya Gillo Pontecorvo (1966)
    Kritikus asal AS Pauline Kael menyebut sutradara Italia Gillo Pontecorvo sebagai "penyair Marxis". Dalam film Schlacht um Algier ia menyoroti perang kemerdekaan Aljazair melawan pemerintah koloniol Prancis pada tahun 1954 hingga 1962. Pontecorvo bercerita tentang perjuangan front pembebasan marxis-nasionalis melawan tentara Prancis, dan dengan cermat menyoroti kekerasan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Upaya untuk menyajikan gambaran yang berimbang seperti itu diilhami oleh gaya neorealisme Italia.
  • <b>“Pigsty” (Kandang Babi) karya Pier Paolo Pasolini (1969)</b><br>Sutradara Italia Pier Paolo Pasolini merupakan paradoks berjalan: seorang Marxis homoseksual yang beragama Katolik. Dalam berbagai tulisan dan film yang provokatif ia menyerang pihak gereja, kapitalisme, dan moral kontemporer –  sedemikian konsekuen, sehingga para sekutunya pun sering menentangnya. Dalam Schweinestall ia beralih-alih di antara dua kisah: di sebuah gurun yang berkesan biblikal, seorang laki-laki muda menggalang suku kanibal dalam sebuah kelompok revolusioner. Pada waktu yang sama, film itu membahas kejahatan Nasionalsosialisme beserta dampaknya di Jerman pada tahun 1960-an. Secara radikal Pasolini mengerahkan semua kekuatan untuk menentang masyarakat borjuis, untuk kemudian membiarkannya gagal. Pertimbangannya: Revolusi di layar perak gagal, agar penonton tergerak untuk memicunya. Photo (detail): Filmstill “Pigsty” / © Pier Paolo Pasolini
    “Pigsty” (Kandang Babi) karya Pier Paolo Pasolini (1969)
    Sutradara Italia Pier Paolo Pasolini merupakan paradoks berjalan: seorang Marxis homoseksual yang beragama Katolik. Dalam berbagai tulisan dan film yang provokatif ia menyerang pihak gereja, kapitalisme, dan moral kontemporer – sedemikian konsekuen, sehingga para sekutunya pun sering menentangnya. Dalam Schweinestall ia beralih-alih di antara dua kisah: di sebuah gurun yang berkesan biblikal, seorang laki-laki muda menggalang suku kanibal dalam sebuah kelompok revolusioner. Pada waktu yang sama, film itu membahas kejahatan Nasionalsosialisme beserta dampaknya di Jerman pada tahun 1960-an. Secara radikal Pasolini mengerahkan semua kekuatan untuk menentang masyarakat borjuis, untuk kemudian membiarkannya gagal. Pertimbangannya: Revolusi di layar perak gagal, agar penonton tergerak untuk memicunya.
  • <b>“Tout Va Bien” (Semua Baik-Baik Saja) karya Jean-Luc Godard (1972)</b><br>Pada tahun 1968 yang diwarnai oleh gerakan mahasiswa dan gerakan hak sipil, sutradara dan penulis skenario Prancis-Swiss Jean Luc Godard mendirikan kolektif seniman "Groupe Dziga Vertov" bersama aktivis politik Pierre Gorin. Tujuannya adalah untuk mendedikasikan seluruh kerja filmnya untuk perjuangan kelas. Sembilan film dibuat dengan cara seperti ini antara tahun 1968 dan 1972. Sebelumnya pun Godard telah membuat potret kehidupan generasi muda 1968 melalui film seperti Die Kinder von Marx und Coca-Cola. Dalam Alles in Butter, seorang wartawati Amerika dan suaminya yang berasal dari Prancis menyaksikan pemogokan yang dilancarkan oleh buruh-buruh di sebuah pabrik sosis untuk menggugat kondisi kerja yang buruk. Mereka menyaksikan bagaimana kapitalisme menghancurkan tatanan sosial. Pendekatan eksperimental film ini, yang diilhami oleh Berthold Brecht, bukan saja hendak membuat penonton larut di dalam ceritanya, melainkan juga menyampaikan pesan yang jelas: revolusi adalah satu-satunya obat yang mujarab. Photo (detail): © picture alliance
    “Tout Va Bien” (Semua Baik-Baik Saja) karya Jean-Luc Godard (1972)
    Pada tahun 1968 yang diwarnai oleh gerakan mahasiswa dan gerakan hak sipil, sutradara dan penulis skenario Prancis-Swiss Jean Luc Godard mendirikan kolektif seniman "Groupe Dziga Vertov" bersama aktivis politik Pierre Gorin. Tujuannya adalah untuk mendedikasikan seluruh kerja filmnya untuk perjuangan kelas. Sembilan film dibuat dengan cara seperti ini antara tahun 1968 dan 1972. Sebelumnya pun Godard telah membuat potret kehidupan generasi muda 1968 melalui film seperti Die Kinder von Marx und Coca-Cola. Dalam Alles in Butter, seorang wartawati Amerika dan suaminya yang berasal dari Prancis menyaksikan pemogokan yang dilancarkan oleh buruh-buruh di sebuah pabrik sosis untuk menggugat kondisi kerja yang buruk. Mereka menyaksikan bagaimana kapitalisme menghancurkan tatanan sosial. Pendekatan eksperimental film ini, yang diilhami oleh Berthold Brecht, bukan saja hendak membuat penonton larut di dalam ceritanya, melainkan juga menyampaikan pesan yang jelas: revolusi adalah satu-satunya obat yang mujarab.
  • <b>“Marianne and Juliane” (Masa yang Suram) karya Margarethe von Trotta (1981)</b><br>Dengan filmnya mengenai dua bersaudara Christiane dan Gudrun Ensslin, sutradara Jerman Margarethe von Trotta menjadi perempuan pertama yang meraih Singa Emas pada Festival Film Venezia. Ensslin Bersaudara aktif dalam gerakan mahasiswa dan mencita-citakan perubahan, tetapi mengambil jalur yang berbeda-beda. Film ini mengupas batas-batas dan peluang-peluang yang dihadapi Gerakan 1968. Antara lain ditanyakan mengapa satu dari dua bersaudara itu menjadi radikal dan bergabung dalam kelompok teroris Tentara Merah, sementara satu lagi memilih cara-cara demokratis, menjadi wartawan, dan bergiat di bidang politik. Photo (detail): © picture alliance / United Archives
    “Marianne and Juliane” (Masa yang Suram) karya Margarethe von Trotta (1981)
    Dengan filmnya mengenai dua bersaudara Christiane dan Gudrun Ensslin, sutradara Jerman Margarethe von Trotta menjadi perempuan pertama yang meraih Singa Emas pada Festival Film Venezia. Ensslin Bersaudara aktif dalam gerakan mahasiswa dan mencita-citakan perubahan, tetapi mengambil jalur yang berbeda-beda. Film ini mengupas batas-batas dan peluang-peluang yang dihadapi Gerakan 1968. Antara lain ditanyakan mengapa satu dari dua bersaudara itu menjadi radikal dan bergabung dalam kelompok teroris Tentara Merah, sementara satu lagi memilih cara-cara demokratis, menjadi wartawan, dan bergiat di bidang politik.
  • <b>“Che” karya Steven Soderbergh (2008)</b><br>Sebuah film dengan dua bagian dan dua revolusi: dua format gambar, dua nuansa warna, dua bentuk dan kecepatan cerita. Sutradara AS Steven Soderbergh bercerita mengenai sosok dan simbol Che Guevara, pemimpin kelompok gerilya di Amerika Tengah dan Marxis sejati. Di sini Soderbergh menetapkan dialektika Marx sebagai acuan bentuk yang tertinggi. Dalam serangkaian adegan tenang, ia memperlihatkan pertemuan-pertemuan konspiratif, pejalanan Guevara menjadi Comandante, dan akhirnya juga pengambilalihan kekuasaan di Kuba. Dengan kedua bagiannya – yang pertama memperlihatkan revolusi di Kuba, yang kedua perjuangan Che di Kolombia – film epik yang secara visual menakjubkan ini memiliki masa putar hampir empat jam. Photo (detail): © picture alliance / Everett Collection
    “Che” karya Steven Soderbergh (2008)
    Sebuah film dengan dua bagian dan dua revolusi: dua format gambar, dua nuansa warna, dua bentuk dan kecepatan cerita. Sutradara AS Steven Soderbergh bercerita mengenai sosok dan simbol Che Guevara, pemimpin kelompok gerilya di Amerika Tengah dan Marxis sejati. Di sini Soderbergh menetapkan dialektika Marx sebagai acuan bentuk yang tertinggi. Dalam serangkaian adegan tenang, ia memperlihatkan pertemuan-pertemuan konspiratif, pejalanan Guevara menjadi Comandante, dan akhirnya juga pengambilalihan kekuasaan di Kuba. Dengan kedua bagiannya – yang pertama memperlihatkan revolusi di Kuba, yang kedua perjuangan Che di Kolombia – film epik yang secara visual menakjubkan ini memiliki masa putar hampir empat jam.
  • <b>“The Young Karl Marx” (Karl Marx Muda) karya Raoul Peck (2017)</b><br>Karl Marx berulang kali tampil sebagai tokoh di dalam film, misalnya saja dalam biografi film Soviet Year as Life, dalam film TV dengan 11 bagian Marx und Engels – Stationen ihres Lebens, atau dalam film Weekend karya Jean-Luc Godards. Terakhir kali Marx diperankan sebagai tokoh revolusi muda yang penuh semangat oleh August Diehl dalam Der junge Karl Marx. Drama yang dikemas oleh sutradara Haiti Raoul Peck ini menyoroti fase menentukan dalam kehidupan Marx antara tahun 1843 dan 1848. Meskipun film ini kalah revolusioner dibandingkan tokoh utamanya, tetap menarik untuk melihat betapa vital Marx dan ide-idenya dalam perfilman hingga 130 tahun setelah kematiannya. Photo (detail): © picture alliance / Jens Trenkler / dpa
    “The Young Karl Marx” (Karl Marx Muda) karya Raoul Peck (2017)
    Karl Marx berulang kali tampil sebagai tokoh di dalam film, misalnya saja dalam biografi film Soviet Year as Life, dalam film TV dengan 11 bagian Marx und Engels – Stationen ihres Lebens, atau dalam film Weekend karya Jean-Luc Godards. Terakhir kali Marx diperankan sebagai tokoh revolusi muda yang penuh semangat oleh August Diehl dalam Der junge Karl Marx. Drama yang dikemas oleh sutradara Haiti Raoul Peck ini menyoroti fase menentukan dalam kehidupan Marx antara tahun 1843 dan 1848. Meskipun film ini kalah revolusioner dibandingkan tokoh utamanya, tetap menarik untuk melihat betapa vital Marx dan ide-idenya dalam perfilman hingga 130 tahun setelah kematiannya.

Top