Bincang-bincang Mengalami langsung keberagaman Muslim

Muslimische Vielfalt live erleben
© Humboldt University

Direktur Goethe-Institut, Dr. Heinrich Blömeke und Dosen Muhammad Heychael berbincang-bincang mengenai widyawisata “Kehidupan Kaum Muslim di Jerman”

Pak Blömeke, apakah bisa dijelaskan secara singkat mengapa Goethe-Institut Jakarta memperkarsai proyek ini?

Baik di Indonesia maupun di Jerman, diskusi mengenai peran “agama” di ranah publik maupun di ranah politik semakin intens dalam beberapa tahun terakhir ini karena alasan-alasan yang sangat berbeda.  Jerman, yang secara historis diwarnai oleh komunitas agama kristiani, namun memandang diri sebagai bangunan sekuler, telah berubah menjadi masyarakat multiagama dan multikultural, terutama karena imigrasi warga Muslim. Sementara ini sekitar 5 sampai 6 persen orang yang tinggal di Jerman beragama Islam, dan di antara mereka itu 75% didominasi oleh aliran Sunni.

Permasalahan dan pergesekan yang terkait dengan perubahan di bidang agama dan budaya di Jerman itu relevan untuk tugas Goethe-Institut sebagai penyedia informasi dan selain itu tentu saja juga memberi bahan bagi dialog antara masyarakat Jerman dan Indonesia, yang juga melibatkan pihak-pihak yang selama ini tidak menjalin kerja sama dengan lembaga kebudayaan Jerman.

Bagi cendekiawan Muslim Indonesia generasi lebih muda, kehidupan kaum Muslim di tengah lingkungan sekuler sekaligus multireligius itu menarik dari berbagai segi: Bagaimana iman dijalankan di dalam masyarakat, bagaimana wujud hubungan minoritas Muslim dan komunitas agama lain, bagaimana interaksi di antara berbagai kelompok Muslim - Sunni, Alevi, Syiah, Alawi, Ahmadiyah, dsb.?

Apa saja yang menjadi kriteria untuk menyeleksi keempat belas peserta dalam widyawisata ini?

Dalam seleksi diutamakan kaum cendekiawan Muslim generasi muda yang antara lain bertindak sebagai multiplikator pada institusi pendidikan, baik yang berlatar belakang agama maupun yang bukan, serta di media. Para peserta yaitu berasal dari kalangan dosen, wartawan, aktivis, dan generasi milenial (usia antara 25-35 tahun). Bagi kami penting bahwa para peserta proyek mempunyai minat terhadap program informasi dan perjumpaan seperti ini, dan juga berada dalam posisi untuk meneruskan kesan dan pengalaman mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Pak Heychael, Anda adalah salah satu peserta di tahun 2017. Apa yang memotivasi Anda untuk mengikuti program “Kehidupan Kaum Muslim di Jerman”?

Saya Muslim Sunni dan dengan demikian termasuk kelompok agama mayoritas di Indonesia. Oleh karena itu, saya tertarik untuk melihat seperti apa kehidupan kaum Muslim di Jerman, agar bisa memahami sudut pandang kelompok agama minoritas. Itulah motivasi utama saya: Supaya saya bisa mengerti bagaimana perasaan orang-orang di sini, Indonesia, yang menganut agama Kristen ataupun agama lainnya.
 
Apa perbedaan terbesar antara komunitas Muslim di Jerman dan Indonesia yang Anda temui selama kunjungan Anda?
 
Bagi saya, keberagaman komunitas Muslim di Jerman. Kami di Indonesia juga beragam, tetapi kami tidak memiliki keberagaman seperti yang ada di Jerman. Di sana, misalnya, ada kelompok Muslim Alevi - itu sesuatu yang sama sekali baru bagi saya. Semua komunitas yang berbeda-beda itu hidup berdampingan di sana dan tidak ada konflik - saya benar-benar terkejut.
 
Apa yang paling berkesan bagi Anda selama mengikuti program di Jerman?

Seperti yang sudah saya katakan, saya datang memang untuk melihat kehidupan kaum Muslim sebagai kelompok minoritas. Tapi yang akhirnya paling menarik bagi saya justru bagaimana orang Jerman menjunjung tinggi sejarah mereka. Bagaimana mereka mempertahankan sejarah mereka dalam kehidupan sehari-hari. Saya benar-benar terkesan, karena kami di Indonesia memiliki banyak masalah dengan peristiwa-peristiwa sejarah, misalnya pembunuhan massal pada tahun 1965, tetapi kami tidak mengakuinya. Pengalaman saya di Jerman ini membuka mata saya bagaimana kami bisa hidup bersama sejarah kami sendiri. 
 
Pak Blömeke, berbicara mengenai kunjungan tahun 2018:  Apa yang menanti para peserta widyawisata pada tahun ini?

Para peserta akan mengenal hubungan antara praktik keagamaan dan kehidupan sehari-hari kaum Muslim melalui serangkaian kunjungan, pertemuan dan perbincangan, serta melihat peran “Islam” dalam institusi kebudayaan dan pendidikan Jerman, misalnya pada museum dan universitas. Selain itu, mereka juga akan mengenal sensitivitas “masalah keimanan” di dalam masyarakat sekuler melalui perbincangan dengan wakil-wakil organisasi atau perkumpulan Muslim atau dengan politisi; ini menyangkut potensi pergesekan atau konflik di antara penganut keyakinan yang berbeda maupun di antara mereka dan lembaga-lembaga publik.

Pak Heychael, sebagai alumni program sebelumnya, saran apa yang bisa Anda berikan kepada para peserta yang akan berangkat ke Jerman dalam rangka program 2018?  
 
Saya kira, mereka berkesempatan untuk belajar banyak. Yang terpenting adalah merenungkan bagaimana kehidupan kaum Muslim di sana dan kehidupan kita di sini. Itulah yang paling penting.