Bersama Aditya Bayu Perdana

Aditya Bayu Perdana © Goethe-Institut Indonesia

  1. Menurut Anda, apa saja kesempatan dan ancaman terbesar yang dihadapi oleh bahasa daerah di dunia digital dewasa ini?
    Kesempatan terbesar mungkin berasal dari bermunculannya komunitas, pegiat bahasa, serta pengguna di tataran akar rumput. Ancaman terbesar mungkin berasal dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian dari tataran lebih tinggi, terutama yang memegang kendali akan pengembangan dan implementasi teknologi. Tidak adanya strategi aplikatif dari tataran pemerintahan juga kurang membantu dan malah tidak begitu produktif.
  2. Bagaimana perkakas digital seperti media sosial, aplikasi seluler, atau AI, dapat digunakan secara efektif untuk melestarikan dan mempromosikan bahasa daerah?
    Media sosial tentunya sangat bermanfaat untuk meningkatkan jejak digital bahasa daerah kita. Jejak digital ini menurut saya menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi secara lebih serius sebelum akal imitasi (AI) dilibatkan. Hal ini dikarenakan, jawaban AI sangat bergantung pada data dan jejak digital bahasa. Dapat dibayangkan dalam kondisi seperti sekarang yang mana banyak bahasa daerah memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki jejak digital (misal bahasanya masih murni lisan dan tidak ada materi tertulis), maka jawaban yang diberikan AI berdasarkan jejak tersebut pastinya belum begitu baik.
  3. Peran apa yang harus dijalankan oleh pemerintah, institusi pendidikan, atau organisasi internasional dalam mendukung komunitas bahasa daerah? 
    Masing-masing organisasi tersebut dapat membuat peraturan yang merangkul bahasa-bahasa secara terbuka, misal dengan adanya syarat untuk alih bahasa dan alih aksara untuk konteks penggunaan tertentu. Namun, supaya tidak hanya sekadar peraturan tumpul, perlu ada tindak lanjut dan strategi jelas dalam penerapan. Sayangnya, hal ini masih sering luput. Organisasi tersebut harus lebih memikirkan penerapan nyata dan berkonsultasi ahli dan tenaga kreatif, seperti penerjemah, desainer, dan seniman pop. Supaya tidak melulu terjebak dalam peraturan resmi.
  4. Berdasarkan pengalaman Anda, apa saja prakarsa tingkat lokal maupun global yang paling berhasil dalam membantu menghidupkan kembali bahasa daerah? 
    Dalam pengalaman saya, perancangan hal-hal aplikatif seperti fonta, papan ketik (keyboard), bacaan beraksara, atau karya bertema aksara.
  5. Langkah-langkah nyata apa saja yang dapat diambil generasi muda untuk mempertahankan bahasa daerah mereka, terutama dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi dan terglobalisasi?
    Dipergunakan dalam setiap kesempatan. Menurut saya sesederhana itu. Ketikkan dan tuliskan, dan bicarakan.

Ikuti kami