Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)
 CE Hub© Goethe-Institut Indonesien

Tentang proyek

Cultural Entrepreneurship Hub Solo (CEHS) merupakan proyek Goethe-Institut bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia Surakarta. CEHS merupakan wadah untuk mendorong dan membina jiwa kewirausahaan. Aktivitas-aktivitas hub menciptakan peluang bagi para praktisi budaya yang muncul di Surakarta dan sekitarnya untuk mengembangkan keterampilan wirausaha ketika bekerja di bidang seni dan budaya. CEHS bermaksud untuk memberdayakan mahasiswa dan praktisi budaya usia muda untuk menjadi lebih berjiwa wirausaha, dan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang kewirausahaan kultural melalui penelitian, lokakarya, coaching dan mentoring
 
CEHS menawarkan beragam aktivitas dan program untuk komunitas kreatif di Surakarta dan sekitarnya. CEHS Student Entrepreneur Program menawarkan coaching untuk mahasiswa seni yang mengembangkan ide bisnis di bidang kultural, dan mentoring untuk mereka yang membangun usaha rintisan atas dasar ide mereka. Program ini secara khusus ditujukan kepada para mahasiswa yang hendak mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) atau telah menerima pendanaan untuk ide bisnis mereka. Seri Innovation and Innovators memperkenalkan para mahasiswa kepada sosok wirausaha budaya dan sosial yang telah mapan dari Indonesia – dalam serangkaian presentasi, diskusi dan sesi coaching, wirausaha seperti Nancy Margried (Batik Fractal) dan Singgih Kartono (Magno) bercerita tentang pengalaman, kegagalan dan keberhasilan mereka guna menginspirasi praktisi budaya usaha muda dalam perjalanan menjadi wirausaha budaya.
 
Cultural Entrepreneurship Hub Solo (CEHS) muncul sebagai bagian dari proyek Cultural Entrepreneurship Hubs (2016-2018) oleh Goethe-Institut dan Strascheg Center for Entrepreneurship, dan dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman. Proyek percontohan tersebut sempat mengembangkan sejumlah hub berbeda di Afrika Selatan, Yunani, dan Indonesia.

Kembali ke Cultural Entrepreneurship Hub
Top