Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Dialog Kuliner
Sebuah dialog kuliner antara Indonesia dan Jerman

Culinary Dialogue
© Goethe-Institut Indonesien

Gastrodiplomasi telah menjadi metode yang digemari untuk mendorong pertukaran kultural di antara negara-negara berbeda. Goethe-Institut Indonesien mengikuti contoh tersebut melalui proyek “Wanderlust Küche”, yang mempertemukan seorang juru masak Indonesia dengan seorang juru masak Jerman untuk bersama-sama menciptakan keajaiban kuliner. 

 

Von Katrin Figge

Seperti kata pepatah lama, makanan merupakan cara termudah untuk memikat akal dan hati seseorang. Makanan merupakan komponen integral pada semua budaya, dan makan bersama berarti memperoleh pengalaman bersama sehingga kemudian dapat mengenang pengalaman bersama itu.

“Bersama-sama makan sesuatu yang enak agaknya salah satu cara terbaik untuk mempertemukan orang-orang dari berbagai tempat asal dan latar belakang,” kata Anna-Maria Strauß, kepala bagian program Goethe-Institut Indonesien, yang mengorganisasi sisi Indonesia dari proyek “Wanderlust Küche” dan dengan demikian menyoroti tema makanan.

“Bagi kami, tema ini sangat menarik karena sekaligus mewakili pekerjaan kami,” ia melanjutkan. “Melalui kegiatan memasak, makan, dan mengalami sesuatu bersama tercipta hubungan baru. Segera terlihat berbagai kesamaan.”
 

Pop-up Restaurant in Menteng

Proyek multilapis dari Goethe-Institut Indonesien ini bertujuan memadukan budaya makan Jerman dan Indonesia, dan berakhir dengan makan malam eksklusif di restoran temporer di gedung Goethe-Institut di Menteng, Jakarta. Dalam rangka inilah Helge Hagemann dari Werteköche asal Hamburg dan Petty Elliott, seorang juru masak dan penulis kuliner tersohor dari Indonesia, akan bekerja sama untuk menggabungkan hal-hal terbaik dari kedua tata boga. ​​ Hasil kolaborasi mereka kemudian akan dapat dikagumi dalam serangkaian hidangan fusion, yang akan disajikan kepada kelompok eksklusif tamu undangan.

“Dari dulu saya senang memasak dan terutama makan, tapi baru pada awal usia dua puluhan saya mengikuti pendidikan juru masak. Keputusan itu tidak pernah saya sesali, dan saya bersyukur bisa ikut mengambil bagian dalam proyek ini,” ujar Helge Hagemann, yang telah memasak untuk para Werteköche pada bermacam-macam kesempatan di berbagai tempat di dunia.

Menurut Helge, para Werteköche mengombinasikan pengetahuan dan keterampilan, sama-sama mencintai memasak, dan menginspirasi orang lain, “dengan tanggung jawab dan kesadaran mengenai asal-usul bahan-bahan yang kami gunakan.”
 

Chefs sebagai Duta Kuliner 

Para Werteköche bertindak sebagai duta kuliner Jerman dan dalam fungsi itu bepergian ke mancanegara untuk memberikan kesan yang lebih baik mengenai tata boga Jerman kepada para tamu di berbagai pameran maupun acara memasak. Namun perjalanan Helge ke Indonesia merupakan sesuatu yang baru baginya, karena ia belum pernah ke sana.

“Ini kali pertama saya ke Indonesia dan saya sangat senang bisa berada di sini, apalagi mengingat saya akan bekerja sama dengan Petty,” Helge menjelaskan. “Berhubung saya selama ini nyaris tidak punya pengalaman sama sekali dengan hidangan Indonesia, saya betul-betul penasaran seperti apa bahan-bahan, aroma, dan cara memasak yang akan saya temui di sini.”

Sementara Helge masih buta mengenai Indonesia, Petty Elliott sudah mengenal sedikit Jerman berikut dan tradisi kulinernya.

“Pada tahun 2014, 2015 dan 2017, saya ikut Pekan Raya Buku Frankfurt dan sempat memasak di Villa Kennedy dan Steigenberger Hotel di Frankfurt,” ujar Peggy, yang menyebutkan kue Natal khas Jerman sebagai salah satu makanan favoritnya. “Di sana saya melihat bahwa tata boga Jerman, sama seperti tata boga di mana pun, sedang mengalami peralihan dari tradisional ke modern karena adanya berbagai pengaruh dari seluruh penjuru dunia. Di Jerman banyak juru masak muda yang sangat pandai menginterpretasikan bahan-bahan lokal dengan cara baru dan modern.”

Kedua chef itu bukan saja akan menyiapkan “Magic Hour” Dinner bersama-sama, mereka juga berencana mendatangi pasar-pasar tradisional di Jakarta dan saling bertukar resep, bahan-bahan dan cara memasak.

“Saya sangat menantikan dialog kami dan proses kreatifnya,” kata Petty. “Sebelum ini kami sudah berkomunikasi tentang  macam-macam resep yang berbeda-beda, dan setelah mulai saling mengenal, kami bisa memutuskan bersama resep mana saja yang paling cocok untuk menonjolkan budaya makan kedua negara asal kami.”

Menurut Anna-Maria Strauß, pertukaran yang intensif antara Petty dan Helge telah melahirkan menu yang memadukan tata boga Indonesia dan Jerman. “Itulah yang kami pentingkan, pertukaran di antara mereka berdua dan bagaimana mereka dapat menyajikan dialog itu di atas piring para tamu,” ia menjelaskan. “Idealnya, menu yang tercipta mengingatkan semua orang kepada sesuatu, tetapi sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu akan hal-hal baru.”

Helge memiliki pandangan serupa mengenai perannya dalam proyek ini. “Saya ingin melihat apa saja perbedaan, tetapi terlebih lagi, apa saja kesamaan yang akan kami temui,” katanya. “Makanan – tidak peduli dari mana – menghubungkan orang dan menjadi titik pusat kultural sebuah masyarakat. Hal ini akan digarisbawahi kembali melalui proyek ini.”
 

Pameran Foto “Indonesian Culinary Photography”

Sebagai ajang pemanasan untuk “Magic Hour” Dinner, Goethe-Institut telah menyelenggarakan lomba foto di Instagram dengan mengajak para pengguna untuk mengabadikan kekayaan kuliner Indonesia melalui foto-foto mereka.  321 foto dengan informasi latar belakang yang mendetail diunggah ke jaringan media sosial itu, dan 15 di antaranya dipilih oleh sebuah juri untuk ditampilkan dalam sebuah pameran. Foto-foto tersebut dapat dilihat sampai tanggal 30 November 2018 di sebuah pameran di Goethe-Institut, tetapi dapat juga dinikmati online di galeri virtual di www.goethe.de/fotokuliner.

Meskipun Goethe-Institut tidak – atau, lebih tepatnya, belum – dikenal luas karena ekskursinya ke dunia kuliner, Anna-Maria Strauß berkeyakinan bahwa proyek ini baru sebuah permulaan.

“Tema makanan tentunya akan terus menyertai kita – ada begitu banyak isu menarik, penting dan mendesak yang berhubungan dengan makanan,” ia menerangkan. “Program tahunan kami Science Film Festival, yang menyoroti pendidikan ilmu pengetahuan alam, pada tahun ini antara lain membahas soal makanan di bawah semboyan ‘food revolution’. Pada saat yang sama, makanan dan semua aspek terkait – pertanian, penggunaan sumber daya, kesehatan, beban iklim, perlakuan terhadap hewan dan manusia – tentu saja merupakan tema-tema yang sangat penting dari segi tantangan global.”

 
 

Top