Big Data Dunia baru yang pintar?

Personal Privacy
Photo (detail): © forkART Photography - Fotolia.com

Semakin banyak data pribadi dikumpulkan dan dievaluasi. Hal ini membawa banyak manfaat dan membuat kehidupan kita semakin efisien. Namun sesungguhnya, kata para kritisi, harga yang kita bayar untuk itu terlampau  tinggi.
 

Bukankah masuk akal kalau orang yang sangat memperhatikan kesehatannya membayar premi asuransi kesehatan yang lebih kecil dibandingkan orang yang merokok, minum alkohol, dan malas bergerak? Kita hanya membutuhkan data pribadi yang cukup untuk dapat menilai kebenaran keterangan itu. Data yang mungkin saja kita kumpulkan sendiri, misalnya lewat gelang cantik yang menghitung jumlah langkah dan mengukur detak jantung. Dan bukankah ada kemungkinan bahwa orang yang hidup kurang sehat itu akan merasa termotivasi untuk mengubah gaya hidupnya?

Skenario seperti itu menghadirkan logika yang meyakinkan: Teknologi bisa membantu kita memperbaiki dunia. Kita hanya perlu data dalam jumlah yang cukup untuk mengatasi masalah-masalah terbesar saat ini. Penyakit, kriminalitas, perubahan iklim – di segala bidang tersedia teknologi sederhana untuk mengumpulkan data, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan solusi. Dalam bukunya yang berjudul Smarte neue Welt: Digitale Technik und die Freiheit des Menschen (Dunia baru yang pintar: Teknologi digital dan kebebasan manusia), publisis dan ahli ilmu politik Evgeny Morozov menulis bahwa Google, Facebook dan Apple bertekad menyelamatkan dunia dengan data. “Dunia menghadapi banyak tantangan yang benar-benar besar, dan perusahaan kami memiliki prasarana untuk mengatasi tantangan tersebut,” ia mengutip ucapan pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

orgi perbaikan

Namun justru ideologi itulah – di tempat lain Morozov menjulukinya “orgi perbaikan” – yang sudah cukup lama dipertanyakan secara beralasan. Orang boleh saja menganggap masa depan dengan kehidupan yang serba tertata berkat teknologi canggih sebagai sesuatu yang indah, tetapi: Pengumpulan data juga menyimpan risiko besar, meskipun risiko itu baru terlihat pada pandangan pertama.

“Sesungguhnya setiap upaya pengumpulan data pribadi tergolong teknik diskriminasi,” ujar Jan Philipp Albrecht, juru bicara bidang politik hukum Fraksi Hijau di Parlemen Eropa. "Semakin banyak informasi yang kita beberkan, semakin besar kesempatan yang kita berikan kepada pihak ketiga untuk mengevaluasi diri kita secara individual.” Orang yang berbelanja online kadang-kadang menerima penawaran yang telah disesuaikan secara khusus dengan profilnya. “Penyusunan profil pribadi yang semakin lengkap dan akurat secara faktual menghilangkan jaminan akan perlakuan sama, sebab dalam proses itu terungkap terlalu banyak aspek yang membenarkan perlakuan tidak sama.”

Yang dianggap genting oleh Albrecht terutama kenyataan betapa sekarang pun proses penyusunan profil sudah begitu terotomatisasi, kompleks, dan tidak transparan. Mereka yang tidak tahu data pribadi mana saja yang dikumpulkan dan untuk tujuan apa, dan apa saja kesimpulan yang dapat ditarik dari kombinasi berbagai informasi tersebut, terancam kehilangan “kontrol atas personalitasnya sendiri”.  Dalam kasus ekstrem, ini dapat menyebabkan hak-hak dasar seperti kebebasan berdemonstrasi atau kebebasan berpendapat tidak lagi dapat dijalankan, karena patut dikhawatirkan bahwa informasi terkait dapat menimbulkan konsekuensi pribadi yang masif.

pasca privasi – perlukah ada pemahaman baru mengenai keleluasaan pribadi?

Agar itu tidak terjadi, Albrecht melanjutkan, perlu diperjuangkan agar hak dasar untuk mengontrol penggunaan data pribadi, seperti dirumuskan oleh Mahkamah Konstitusi Jerman pada tahun 1983 dalam putusan sensus yang terkenal itu, tetap berlaku. Untuk itu, perusahaan seperti Google atau Facebook pun seharusnya memberlakukan standar perlindungan data tersebut. Namun sampai sekarang kedua perusahaan itu mengelak dengan menempatkan kantor pusat wilayah Eropa masing-masing di negara anggota UE dengan peraturan yang lebih longgar. Situasi inilah yang hendak diatasi melalui peraturan baru untuk perlindungan data yang kini sedang dibahas di Brussel, antara lain dengan melibatkan Albrecht, dan akan berlaku di seluruh Uni Eropa.

Tetapi apa artinya bagi keseharian kita? Apakah hak untuk mengontrol penggunaan data pribadi masih mungkin diterapkan di internet, di mana hal-hal yang dapat diketahui oleh umum sudah lama tidak lagi sebatas apa yang secara eksplisit dibeberkan oleh masing-masing orang? Bukankah kita sudah lama menjalani hidup berdasarkan pemahaman baru mengenai privasi, yang telah menyimpang jauh dari konsep borjuis mengenai ruang untuk penemuan diri sendiri dan kebebasan yang idilis?

medan pertempuran superlatif

Ruang pribadi sebagai tempat untuk diri sendiri dan untuk aktualisasi diri merupakan konsep yang secara historis masih relatif baru, penulis dan blogger Christian Heller menyatakan di dalam bukunya yang berjudul Post-Privacy terbitan 2011. Konsep itu “tercipta” pada abad ke-19, ketika kaum borjuis mulai menganggap rumah sendiri sebagai tempat untuk mendapatkan kebebasan di hadapan negara yang dirasakan totaliter. Pada masa-masa sebelumnya, batas antara ruang publik dan ruang pribadi tidaklah sejelas itu. Di zaman Renaisans pun “kehidupan rumah tangga dan kehidupan jalanan berbaur menjadi kekacauan yang hiruk-pikik,” tulis Heller.

Menurut para pendukung gerakan Post-Privacy, termasuk Heller, kita sekarang tengah berada dalam situasi di mana pemahaman kita mengenai privasi berubah secara mendasar. Justru karena kita semakin banyak membeberkan informasi mengenai diri kita dan juga semakin banyak menarik manfaat dari tindakan itu, ruang pribadi seperti yang kita kenal selama ini telah ketinggalan zaman, demikian tesis dasar mereka. Meleburnya kehidupan kita secara total dalam berbagai jaringan juga tidak mungkin lagi dihentikan, mereka berargumentasi lebih lanjut. Tetapi itu bukan sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya: Bukankah ada kemungkinan bahwa bertambahnya data mengenai kita dan orang lain juga dapat berarti bertambahnya toleransi? Bahwa dengan adanya informasi yang cukup mengenai orang lain, kemungkinan untuk menarik kesimpulan negatif secara terburu-buru juga akan berkurang?

Jadi, apakah kita sebaiknya bersikap lebih santai dan tidak langsung menyamakan berkurangnya privasi dengan pemantauan data secara total, seperti yang ditakutkan oleh para pendukung perlindungan data? Atau mungkin justru di sini letak masalahnya: Bahwa sepertinya tidak ada salahnya, dan manfaatnya pun begitu jelas, kalau kita semua membeberkan sedikit informasi pribadi mengenai diri masing-masing? Hak atas perlindungan data, demikian komentar Jan Philipp Albrecht, menjadi “medan tempur superlatif antara manusia, ekonomi pasar teregulasi, serta demokrasi di satu pihak dan mesin, perusahaan global, serta pemerintahan di pihak lain”.