Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Peninggalan penjajahan berkonsekuensi luas dan bertahan lama. Para ilmuwan dan sejarawan mencatat bahwa banyak di antara konflik dewasa ini merupakan akibat langsung dari penjajahan; sudah jelas bahwa proses dekolonisasi tidaklah selesai dengan mundurnya pihak penjajah dari wilayah yang diduduki dan dengan lahirnya negara-negara kebangsaan baru.
 
Disiplin akademis baru Kajian Pascakolonial telah mengungkapkan batas-batas proses ‘dekolonisasi’ politis dengan menyoroti bertahannya atau ditirunya sistem pengetahuan Barat, yang sering kali memarginalisasi dunia non-Barat. Secara khusus, Kajian Pascakolonial mempertanyakan asumsi-asumsi mendasar mengenai modernitas, termasuk gagasan seputar kemajuan dan pembangunan, sambil mendorong penggalian etika yang non-Eurosentris, non-korporat dan lebih mengedepankan sifat sosial.
 
Meskipun seruan untuk memfasilitasi lebih banyak pertukaran Selatan-Selatan di antara negara-negara bekas jajahan telah ada sejak Konferensi Asia-Afrika (1955), masih banyak yang dapat dilakukan. Ini terutama berlaku untuk Asia Tenggara, tempat ‘wacana pascakolonial” tampaknya kurang berkembang dibandingkan di kawasan lain:
Memfasilitasi dialog di bidang kebudayaan di antara aktor-aktor dari berbagai konteks belahan Selatan dunia adalah penting untuk meningkatkan kerja sama intelektual dan artistik.
 
Forum terbuka “Postcolonial Perspectives from the Global South” mempertemukan kurator, sosiolog dan sejarawan dari Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mereka akan mengkaji lintasan-lintasan modernitas sebagaimana dipahami dan dialami dari sudut pandang filsafat, budaya dan sejarah. Berbagai presentasi yang diberikan bukan saja akan menelaah klaim eurosentris mengenai universalitas, tetapi juga menilik aneka perspektif yang berfokus pada partikularisme global dan relativisme kultural.