Cerita Pendek Tukang Sapu Langgar

© canstockphoto5710507
© canstockphoto5710507

“Janganlah disebut tukang sapu. Disebut penjaga begitu, agar tidak terlalu terkesan merendahkan. Nama saya yang asli adalah Farabi..."

“Ketika usiamu 40 tahun, pergilah ke Kampung Kedung. Temuilah tukang sapu langgar!” Bayu terngiang kembali amanat ayahnya berpuluh tahun lampau. Tepat sebelum ayahnya menghembuskan napas terakhir. Ayahnya kini sudah berkalang tanah, jasadnya mungkin sudah bersatu dengan bumi, namun Bayu tak kunjung mampu menunaikan wasiat itu.

Tapi kini, di hadapannya papan nama “Kampung Kedung” begitu jelas terpampang. Jika amanat ayahnya kembali berkelebat di ingatannya, salah satu sebabnya karena papan nama itu. Sepertinya, bukan masalah amanat itu yang penting bagi Bayu. Ada sesuatu yang menggelitik di batinnya. Sesuatu itu berupa ketidakmampuan dia menjadi seorang anak yang mengemban amanat ayahnya.

Ah, separah itukah?

Usia Bayu kini genap 50 tahun. Sudah 10 tahun, ia hanya menyimpan amanat ayahnya. Bayu ingin mengeluh tapi apa gunanya. Ia pandangi dirinya sendiri: seorang lelaki dengan tubuh tak lagi kukuh. Seorang ayah yang hampir berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi orang. Seorang suami yang telah berhasil memberi segalanya pada istri, juga telah memberikan kehormatan pada keluarga kecilnya.

Ia datang ke Kampung Kedung pun secara kebetulan. Kantornya menugaskannya untuk membuat liputan mendalam. Kampung Kedung yang dulu dikenal asri dan alami, telah banyak berubah. Bayu diberi mandat untuk melihat dari dekat perubahan-perubahan yang terjadi. Kebetulan ia seorang wartawan senior, berpengalaman untuk masalah-masalah perubahan di masyarakat. Dan Kampung Kedung adalah laboratorium yang paling baik.

“Kami memberi kesempatan pada Anda, karena Anda senior dan paling mengerti masalah ini. Anda sudah kami minta untuk duduk jadi redaktur. Tetapi Anda yang memilih untuk tidak berlama-lama karena Anda menganggap jiwa Anda di lapangan,” tandas seorang redaktur pelaksana, menanggapi usulan Bayu agar dia diturunkan di lapangan lagi.

Benar, Bayu merasa jiwanya memang di lapangan.

Bayu ingat, ketika ayahnya wafat, ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Kepulangan ayahnya ke pangkuan Sang Pencipta seperti menunggu ia selesai kuliah. Diam-diam ia kagum pada ayahnya yang telah berusaha mati-matian agar ia tetap melanjutkan sekolah, meski dengan keadaan ekonomi tak karu-karuan. Ayahnya, tentu dengan ibunya, rela berpuasa agar anaknya bisa terus merengkuh cita. Sebulan setelah ia diwisuda, sang ayah pun kembali ke pangkuan-Nya. Sebuah akhir yang bahagia.

Apalagi Bayu kemudian diterima sebagai wartawan di koran terkemuka, Modern Post. Kesungguhan kerja yang diwariskan ayahnya ia praktikkan dalam bekerja. Waktunya pun hanya untuk memenuhi target berita. Hari-hari ia lalui dengan mencari berita. Ia menemukan gairah hidup di lapangan. Sebuah rutinitas yang begitu ia nikmati hingga usianya menginjak 29 tahun. Sehingga ia sampai lupa, ada yang terlupa dari amanat ayahnya. Di usia itu pula, ia menikah, dan amanat itu pun tersesat ke dalam lipatan ingatan. Ia disibukkan oleh kerja dan keluarga. Begitu anak-anaknya lahir, kariernya pun semakin melesat. Tetapi ia masih saja merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia sudah berusaha mencari tahu tetapi tak kunjung tahu. Ketika usianya sudah 40 tahun, ia merasakan desakan-desakan dalam dirinya semakin kuat. Namun, ia tak bisa memahaminya. Dalam 10 tahun, ia pun tak henti berkubang dalam rutinitas kerja dan tak lagi menghiraukan desakan batinnya yang menggelora. Kini, ketika ia di ambang pensiun, ia baru teringat.

“Kampung Kedung!” desisnya, tepat di depan pal nama kampung.

Bayu pun melangkah. Ia menyusuri jalan desa yang sudah diaspal. Ia tak bisa membayangkan jika 10 tahun lalu ia ke sini dan mencari tukang sapu langgar itu. Jalan ini mungkin tidak semulus ini, pikirnya. Bayu berkali-kali bersyukur, ada sebuah kebetulan yang indah. Meski ia sudah telat 10 tahun, tapi kini ia diberi tugas kantor. Apalagi tugas itu sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh ayahnya dulu. Ia merasakan sebuah kebetulan yang indah yang singgah di usianya yang sudah beranjak tua.

“Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali!” batin Bayu, seperti juga batin seorang pendosa yang menghibur dirinya dalam bertobat meski telat.

Ia lalu mencari langgar kampung. Seorang warga memberi petunjuk agar ia berjalan ke arah telaga yang berada di tengah-tengah pemukiman. Di samping telaga itulah langgar berdiri. Tak sulit mencari telaga Kampung Kedung. Bayu langsung sampai. Ketika matanya menambat ke sisi telaga, ia terkesima dengan bangunan langgar yang tepat di sisi telaga. Langgar itu begitu mentereng. Bangunannya demikian bagus. Dicat hijau. Berkubah mungil. Tetapi sayang, langgar itu dipagar dan dikunci. Tak tampak seorang pun yang ada di sana meski sudah waktunya salat Asar. Hanya terlihat beberapa penduduk desa yang mengambil air di telaga.
Bayu menghampiri seorang penduduk yang sedang mengambil air.

“Permisi! Apakah saya bisa berjumpa dengan tukang sapu langgar ini?” tanya Bayu.

Penduduk yang ditanya Bayu langsung menunjuk ke rumah mungil yang persis berada di sebelah utara langgar. Rumah itu senada dengan langgar. Bangunannya juga bagus. Perasaan Bayu demikian girang. Ternyata ia masih mampu melakukan amanat ayahnya. Ia langsung ke sana dengan hati berbunga-bunga.

“Saya penjaga langgar. Anda ingin bertemu saya?” Bayu terkejut dengan sambutan seorang lelaki muda. Usianya diperkirakan Bayu, 15 tahun di bawah umurnya.

“Benar, saya, saya ingin bertemu dengan tukang sapu langgar. Andakah?” tukas Bayu.

“Janganlah disebut tukang sapu. Disebut penjaga begitu, agar tidak terlalu terkesan merendahkan. Nama saya yang asli adalah Farabi, tetapi rekan-rekan biasa memanggil saya Fredy,” tukasnya.

“Seharusnya saya ke sini 10 tahun lalu,” tutur Bayu, ketika ia menangkap ada sinyal aneh dari penuturan tuan rumah.
“O, 10 tahun lalu, saya belum diberi mandat menjaga langgar ini. Dan, kondisinya belum sebagus sekarang. Bentuknya masih panggung. Berdinding kayu berlubang-lubang, lantainya juga kayu penuh tambalan. Gentingnya banyak yang bocor. Akhirnya, saya bersama rekan-rekan pemuda mengajukan proposal ke kota kabupaten. Ke Pak Bupati. Saya dapat dana, saya bangun langgar ini. Jadinya seperti itu.

Mentereng, bukan?” tandas Fredy.

Bayu manggut-manggut.

“Saya yang membawa kuncinya. Saya dipercaya oleh pihak pemberi dana atau donatur untuk mengurusnya. Ya, memang harus saya kunci, karena kalau tidak, bisa kotor dan tak terurus. Hemat energi dan hemat biayalah. Efisien, kata orang sekarang. Hanya pada waktu salat saja saya buka. Itu pun jika ada yang salat. Anda tahu sendirilah, sekarang banyak orang malas. Dalam sehari, saya buka sekali, pas Magrib,” tandas Fredy, tersenyum.


“Terus, tukang sapu yang lama?” tanya Bayu.

“Ketika para remaja kampung dapat dana dan berkeinginan merobohkan langgar lama. Ia memutuskan meninggalkan kampung ini,” tandas Fredy.

“Ke mana?” tanya Fredy.

“Ia memang aneh. Ia mengatakan akan mencari seseorang. Ia tak menyebutkan namanya siapa. Seseorang ini katanya akan datang kepadanya. Tetapi setelah ditunggu tidak datang-datang, akhirnya ia pergi untuk mencarinya,” tandas Fredy.
“Kapan?” tanya Bayu.

“Kira-kira sepuluh tahun lalu. Jika tidak percaya, lihat prasasti peresmian langgar itu, yang terbuat dari marmer hitam mengkilat. Di sana, ada waktu dan siapa penanda tangannya. Pejabat! O, iya, tukang sapu itu pergi persis sebulan ketika langgar lama dirobohkan. Sedangkan pembangunannya memakan waktu dua bulan. Jadi sudah 9 tahun lebih 9 bulan!” lanjut Fredy.
“Apakah dia tidak pernah kembali?” tanya Bayu kemudian.

Fredy menggeleng.

“Apakah di sini ada keluarganya?” tanya Bayu lagi.

Fredy menggeleng lagi. Tapi ia buru-buru menyarankan agar Bayu menemui Kepala Kampung untuk mengetahui lebih banyak tentang tukang sapu langgar sepuluh tahun lalu. Begitu Bayu bertemu Kepala Kampung, ia mendapatkan kisahnya.

“Ia seorang perantau. Menghabiskan waktunya di langgar. Ia ke sini, ketika usianya masih muda. Ia ingin belajar ke kiai langgar yang merupakan kiai desa. Saat itu santrinya banyak dari desa dan kecamatan tetangga. Yang saya tahu, ia tidak pernah menikah, alias wadat seumur hidup. Ketika dia pergi dari sini, usianya sudah lebih dari 60 tahun. Berarti di sini, sudah 40-an tahun lebih. Saya memang mengenalnya tapi tidak terlalu dekat. Saya hanya tahu namanya, soalnya warga sini biasa memanggilnya dengan sebutan Wak Alim. Dia sering puasa, dan warga senang memberinya makan untuk berbuka dan bersahur. Jadi ia tidak bekerja dan kerjanya hanya di langgar saja. Kalau ada kerusakan kecil-kecil, dia yang menambal, kalau ada sesuatu di langgar itu yang dia mampu mengerjakan, dia yang memperbaikinya, apalagi setelah kiai langgar wafat,” terang Kepala Kampung.

“Terus terang, Mas, sejak itu banyak yang berubah di sini. Setelah renovasi bangunan langgar, jalan-jalan menjadi mulus. Listrik masuk, banyak televisi, banyak kemajuan, dan tentu lain-lainnya juga banyak. Lain-lainnya yang saya maksudkan adalah kejadian yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Banyak pasangan selingkuh, banyak gadis dan janda hamil di luar nikah. Dalam tiap bulan, pasti ada kasus zina dan tertangkap basah. Bahkan kalau lagi musim hujan, bisa sampai tiga kasus. Kejahatan dan kriminalitas juga marak.

Dalam 10 tahun ini, saya sebagai orang tua, merasa prihatin. Saya setuju dengan pandangan orang-orang tua di sini. Mereka percaya, Wak Alim itu tidak hanya tukang sapu langgar, tetapi juga tukang sapu segala kotoran dan sampah di kampung sini. Saya akui, dialah yang menjaga kampung ini selama dia di sini. Buktinya, begitu dia pergi, sampah dan kotoran datang bertubi-tubi,” lanjut Kepala Kampung.

Kepala Kampung pun merinci lebih jauh tentang perubahan drastis yang terjadi di Kampung Kedung. Rincian itu sedetail-detailnya. Bayu mendengarkannya. Ia memang dikenal sebagai seorang pendengar yang baik. Namun begitu menengok arlojinya, Bayu baru sadar, hari telah menjelang malam. Ia pun pamit.

“O iya, sebelum saya pamit, apakah Bapak kenal siapa yang dicari tukang sapu langgar itu?” tanya Bayu sebelum beranjak.
“Saya tidak tahu persis. Mungkin keluarganya,” tebak Kepala Kampung.

“Iya, mungkin keluarganya…,” Bayu mengulang kembali jawaban Kepala Kampung, sekadar untuk memantapkan kebimbangannya.

“Terima kasih!” lanjut Bayu, lalu beranjak.

Dalam perjalanan pulang, Bayu membuka laptop. Ia merasa diburu, nalurinya langsung berseru: “deadline, deadline, deadline.” Ia lalu menulis laporan dengan judul besar, cukup menarik dan puitis: “Perilaku Seks Bebas Mewarnai Kampung Kedung.”

*

Seorang lelaki tua duduk di tepi kali. Raut kerentaannya begitu kentara di wajahnya. Tetapi sorot matanya masih bening, sebening air yang mengalir gemericik di depannya.

Ia lalu mengeluarkan lipatan kertas kumal. Kertas itu adalah titipan karibnya yang sudah berpulang. Karib yang dulu sama-sama pernah mengaji bersama di langgar. Karibnya ini sebenarnya yang dipasrahi sang guru untuk merawat, tetapi ia tak mampu dan diserahkan kepadanya, meski ia berasal dari jauh dan tak berkeluarga. Lelaki tua itu pun merawatnya, meski anak-anak yang mengaji semakin menyusut jauh. Sang karib minta agar kertas itu diberikan pada anaknya yang bernama Bayu. Tetapi lama ia tunggu, si anak yang dimaksudkan tak kunjung datang bertamu.

Sejenak kemudian, ia pun berbisik lirih, nyaris seperti berkata pada seseorang, “Sebelum aku mengembalikannya padamu lewat caraku, izinkan aku membukanya, Saudaraku. Aku sudah sekian lama berikhtiar menjaga amanatmu….”

Ia lalu membukanya. Di sana tertera tulisan Arab pegon yang berbunyi: “Anakku, jika ada yang berusaha merubuhkan langgar tua ini, kamu harus berada di garis depan sebagai penentangnya.” Setelah membacanya, lelaki tua itu lalu melarungkan kertas kumal yang sudah pudar warna aslinya itu ke arus kali. Tak perlu menunggu lama, kertas itu pun langsung hanyut terbawa arus.