Cerita Pendek Jesus dan Aleus

© canstockphoto16210388
© canstockphoto16210388

Hubungan Yesus-Aleus ini bermula dari aksi nekat Aleus mencuri di biara Santa Maria Kampung Naob dipinggir kali Noemuti

Aleus tidak mengenal Yesus. Apalagi mencintai-Nya. Siapa Yesus itu, bukanlah pertanyaan yang harus ditujukan pada Aleus. Pertanyaan yang cocok untuk si Aleus adalah: berapa ekor sapi milik orang lain yang sudah kau giring masuk dalam hutan, lalu kau bunuh dan kau jadikan se’i? Dan pertanyaan ini cocok diajukan oleh Naef Antoin, komandan hansip paling ganas di seluruh kecamatan Noemuti Timur. Atau paling tidak, oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Simon Petrus Akenat, Kapolsek Noemuti, yang mendengar bunyi motornya saja para teku sudah lari terbirit-birit.

Jadi, sesungguhnya siapa si Aleus yang bersanding manis dengan Yesus dalam cerita ini? Konon menurut kabar burung kot-kotos, Aleus lahir di dalam hutan Oeluan yang lebat 30 tahun silam, saat malam paling gelap meliputi dunia, saat burung hantu bernyanyi lagu paling sendu pada malam hari. Ayah Aleus bernama Ma’laof Matmolo, keturunan paling purba dari suku primitif di Noemuti dan ibunya, Sikleul Bikluu, campuran suku Manikin dan Maputu, dua suku keras di wilayah Noemuti. Lahirlah Aleus darisepasang manusia keras ini, yang hidupnya berpindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain sambil meramu dan berburu. Aleus adalah anak mereka satu-satunya. Ia lahir dengan peradaban hutan. Berburu babi hutan. Memanjat pohon. Minum air sungai. Tidur di tanah dan batu. Karena jauh dari peradaban manusia itulah, Aleus tidak tahu tentang kemanusiaan dan peradabannya.

Nun jauh di sana, jauh dari keterasingan Aleus, wilayah Noemuti berkembang cepat. Pembangunan fisik, sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, berkembang dan mengalir seperti sungai Noemuti. Aleus dan rekan-rekannya tak tahu-menahu tentang hal-hal demikian. Jadilah mereka orang-orang yang tidak seperti orang kebanyakan. Tatkala pembangunan berjalan cepat, dinamika masyarakat seperti berlari, Aleus dan keluarga besarnya tetap menghuni hutan. Namun akibat pembangunan itu pula, ruang gerak mereka menjadi sempit dan terdesak. Hutan-hutan dibabat untuk persawahan dan perumahan, juga untuk jalan-jalan perintis desa.

Aleus akhirnya memilih jalan mencuri untuk mempertahankan hidup. Pilihan Aleus untuk mencuri ini didasarkan pada kenyataan bahwa ada begitu banyak orang yang katanya beradab merampas wilayah kehidupan Aleus dan keluarganya. Ketika hutan tempat tinggalnya sudah berubah menjadi areal persawahan dengan irigasi teratur, ruang gerak Aleus semakin mundur, sempit dan tersudut. Hutan dan seluruh isinya dibabat habis oleh oknum-oknum yang rakus dan serakah. Aleus dan keluarganya hanyalah manusia-manusia yang tersingkir, kalah, dan akhirnya “mati” digilas roda atau ban oto persaingan yang terus berputar. Aleus dan kehidupannya adalah kenyataan bahwa hidup adalah sebuah persaingan, dan dalam desakan persaingan itu, kita harus memilih. Kalau akhirnya beberapa di antara kita memilih jalan pintas dengan mencuri, seperti Aleus dan keluarganya, lantas apakah jari telunjuk semua orang harus diarahkan kepada Aleus dan keluarganya sambil berkata, “Dasar pencuri atau pemalas?” Padahal di kalangan pencuri, Aleus adalah pencuri yang paling rajin. Ya, Aleus rajin mencuri. Mencuri babi. Mencuri anjing. Mencuri sapi. Mencuri padi. Mencuri sandal. Berdasarkan data yang diambil dari Naef Antoin, komandan hansip Noemuti Timur, diperkirakan Aleus dan antek-anteknya sudah mencuri 56 ekor sapi dari 5 kandang berbeda, babi 25 ekor (sebenarnya 20 ekor, hanya sudah terhitung babi dalam kandungan yang diperkirakan 5 ekor), padi 25 karung, anjing 2 ekor milik Naef Gaspar, dan yang paling kecil, mencuri sepasang sandal milik Tanta[WS1]  Agnes, janda miskin di kampung Oemanu. Dan aksi pencurian terakhir yang membuat Aleus berubah adalah, dia berhasil “mencuri” perhatian Yesus. Kalau yang terakhir ini, data dan fakta diperoleh dari Suster Goretti, biarawati tua dan saleh di Noemuti.

Nah, cerita kita sampai pada pertanyaan apa hubungan Yesus dan Aleus? Tentu bukan hubungan darah, ‘kan? Tapi tentu pula, hubungannya erat sekali! Tentang Yesus, tak perlu diceritakan terlalu banyak, apalagi bertele-tele. Bagi kita yang mengenal dan mencintai-Nya, Yesus adalah Tuhan. Allah yang jadi manusia dan tinggal di antara kita. Yesus itu Juru Selamat. Ia jadi manusia, masuk dan merasakan kemanusiaan sejati. Ia Allah sejati. Ia pula manusia sejati. Ia menyelamatkan kita dengan jadi manusia. Ia sama dengan kita dalam banyak hal, kecuali dalam hal dosa. Saya cukupkan sampai di sini, untuk tidak bersaing dengan penjelasan theologis Pastor Doctor Agustinus, ahli theologi di Seminari Kupang. Cukup bagi kita, menyapa tokoh yang satu ini dengan: TUHAN YESUS. Dan semua penjelasan yang singkat tadi bisa dipahami dan kemudian diterima serta diimani oleh begitu banyak orang di dunia ini, kecuali dalam beberapa saat oleh Aleus.

Hubungan Yesus-Aleus ini bermula dari aksi nekat Aleus mencuri di biara Santa Maria Kampung Naob dipinggir kali Noemuti. Biara ini berpenghuni lima orang suster, tiga nona karyawati, dan satu penjaga malam. Para suster dan para pekerja di biara ini terkenal sangat rajin mengolah sawah di pinggir kali Noemuti. Alhasil, setiap kali musim memotong padi datang, panen rumah biara ini berlimpah ruah. Selain padi yang berlumbung-lumbung di biara ini, para suster juga memelihara belasan babi keturunan Belanda yang bobotnya melebihi bobot anak sekolah dasar paling sehat di wilayah Noemuti. Kelimpahan panen biara di pinggir kali inilah yang menjadi teladan kerja keras bagi ribuan umat paroki Noemuti.
Teladan kesalehan dan kerja keras para suster yang bermotto Ora et Labora  ini, kerap menjadi cerita dan kebanggaan banyak orang, namun tidak bagi Aleus. Bagi Aleus biara ini adalah sasaran empuk dan target utama operasi pencuriannya. Dan itu terjadi di bulan Oktober, puncak musim panas, kemarau panjang. Bagi para suster dan umat Katolik, Oktober adalah bulan Rosario, di mana mereka menghargai Maria, ibunda Yesus dalam doa Rosario. Memang bulan Oktober itu bulan Rosario, tapi Oktober juga bulan puncak kelaparan. Bagi mereka yang beriman pada Yesus dan percaya pada doa Bunda-Nya, persoalan kelaparan itu menjadi litani keluh kesah dalam doa-doa Rosario. Mereka ini percaya, ada jalan keluar bagi persoalan-persoalan hidup bila mereka berlari dalam doa bersama Bunda Maria. Tapi bagi mereka yang kurang atau tidak beriman, kelaparan adalah jalan menuju pencurian dan perampokan. Ini termasuk Aleus. Dan Aleus memilih mencuri di bulan Oktober yang penuh kelaparan tapi penuh kesucian doa ini. Bahkan ia nekat mencuri di biara, tempat di mana kesalehan dijunjung tinggi dan pencurian sangat tidak dimungkinkan.

*

Pertengahan Oktober. Malam benar-benar gelap. Awan hitam sehitam arang. Angin dingin meniup mencekam terasa nyeri. Bulan dan bintang tiada. Burung hantu enggan bernyanyi, apalagi burung kot-kotos. Semesta seperti kosong. Aleus berpakaian hitam. Wajahnya hitam. Matanya menyala seperti niutmeni di kuburan tua. Parang pendek diselip di pinggang. Sirih pinang penuh di mulut. Gerak-gerik awas. Malam menuju pukul 00.00. Ini titik jam paling senyap. Dan inilah detik dan menit paling aman untuk sebuah aksi pencurian. Aleus merayap. Perlahan. Gerbang biara itu terbuka lebar. Ia menyusup masuk lewat depan biara itu dengan mudah karena Om Agus yang biasanya bertugas jaga malam sudah kembali ke rumah. Rupanya para suster juga sudah terlelap antara ada dan tiada. Ia dengan mudah masuk ke gudang mengambil sekarung beras, lalu mengamankannya di bagian belakang biara. Malam ini anjing-anjing piaraan di biara itu tidur kekenyangan sehingga tak sedikit pun menggonggong seperti malam-malam sebelumnya. Memang benar apa yang dikatakan Injil: “Pencuri akan datang di malam hari.” Sepenggal kalimat iblis ini diamalkan oleh Aleus di luar kesadarannya. Setelah sukses di gudang, Aleus menuju ke tempat paling utama di tengah biara itu. Sebuah ruangan yang terasa hening, hanya ada sorot lampu di sudut depan ruang, deretan bangku panjang, dan sebuah kotak kecil di samping lampu sorot. Aleus dengan segenap tenaga memikul kotak itu setelah terlebih dulu mematikan lampu sorot di samping kotak. Pasti emas di dalamnya, duga Aleus. Kotaknya saja sudah bagus, apalagi isinya. Tak puas dengan kotak itu, ia mengambil lagi sebuah besi palang berwarna keemasan di meja panjang. Besi palang itu berwarna emas kilau-kemilau dan seperti ada tubuh manusia yang tergantung di besi itu. Malam ini saya akan jadi kaya, pikir Aleus. Sekarung beras untuk stok makanan seminggu, sebuah kotak emas dan besi emas. Aleus keluar lewat pintu belakang. Dengan mudah ia keluar pekarangan biara, memikul beras, kotak emas, dan besi emas hasil operasinya. Aleus sukses!

*

Besoknya biara ini gempar. Para suster histeris pagi-pagi, tidak seperti biasanya mereka hening dalam doa di pagi hari. Umat berdatangan. Pencuri masuk dan mencuri “barang” paling penting dan paling inti dari seluruh kehidupan biara ini, bahkan dalam kehidupan seluruh umat Katolik. Bukan babi piaraan, bukan beras, bukan uang, bukan emas, bukan perak, atau harta benda lainnya. “Barang” paling penting dan inti itu adalah tabernakel, tempat menyimpan sakramen maha kudus, juga salib Yesus Kristus di depan altar dalam kapela biara itu. Pencuri ini luar biasa. Ia berhasil “mencuri” Tuhan Yesus, begitu gumam umat sederhana. Beberapa ibu dan anak kecil menangis. Mereka lupa peringatan Yesus: “Tangisilah dirimu dan anak-anakmu!” Romo Arnold dari pusat paroki datang berjubah lengkap, didampingi Ketua Dewan Paroki. Pak Kapolsek dan Komandan Hansip datang beberapa jam kemudian. Peristiwa ini menyebar cepat berkat berita mulugram, dari mulut ke mulut umat setempat. Siang hari, ribuan umat laki-perempuan, tua-muda sudah berkumpul di biara itu. Romo Arnold meminta umat menggelar doa, mengingat barang yang hilang ini cukup membahayakan iman umat. Ribuan umat larut dalam doa, pujian dan permohonan bercampur penyesalan, serta kesedihan yang mengiris-iris. Pak Kapolsek memerintahkan personilnya menyisir hutan dan menangkap pencuri itu. “Tangkap dia hidup-hidup!” perintah ini jelas. Komandan Hansip dan belasan anakbuahnya tak ketinggalan untuk membantu para polisi. Umat terus berdoa. Para anggota polisi dan hansip bergerak menuju hutan lebat di seberang kali Noemuti.

Di dalam hutan, Aleus menikmati hasil curiannya dengan sukacita. Beras dalam karung sudah dimasaknya. Tentu bersama rekan-rekannya. Walau kali ini ia mencuri sendiri, ia sukses. Namun ada sedikit penyesalan Aleus sejak pagi tadi. Kotak emas yang dipikulnya tak bisa dibuka, sekalipun dengan besi paling keras. Besi palang itu juga sangat mengganggu karena sejak tadi berkilau di depan matanya, apalagi ketika ia menatap besi kuning itu. Aleus menyesal dan terganggu. Sudah ratusan kali ia mencuri, tapi kali ini dia sungguh terganggu. Sejak tadi ia memandang besi palang itu, dia selalu terganggu. Namun meski setiap kali dia terganggu, setiap kali itu pula dia seperti ingin memandang besi palang kuning itu. Dan itu terjadi sejak pagi tadi. Memandang, terganggu, lalu memandang lagi. Ia lebih terganggu lagi ketika membayangkan sosok yang bergantung di besi menyala itu. Pasti orang ini orang paling sial di dunia. Mengapa ia digantung di besi ini? Besi apakah ini? Ahhh. Aleus berpikir. Padahal selama ini, ia tidak berpikir. Mungkin orang ini adalah penjahat paling jahat sehingga ia digantung di besi ini. Betapa sial manusia ini. Bayangan terhadap sosok ini kemudian berpindah ke dirinya. Bagaimana kalau saya yang tergantung di besi ini? Saya pasti pantas digantung di besi ini karena saya mungkin sama dengan orang ini. Sudah ratusan kali mencuri, ini pencurian paling sukses, tetapi sekaligus sangat mengganggu.
Dari kejauhan Aleus mendengar bunyi tembakan  berkali-kali di udara. Itu tembakan para polisi yang sedang menyisir hutan. Semua personil dikerahkan, mengingat ini kasus pencurian luar biasa. Aleus tidak tenang. Kotak emas, besi palang emas, sosok yang tergantung di besi itu, juga bunyi tembakan sungguh mengganggunya. Kali ini bukan saja terganggu. Aleus takut. Bahkan gemetar dan berkeringat. Ia lari meninggalkan kotak emas itu, besi emas berkilau itu. Ini pelarian Aleus yang paling cepat selama kariernya mencuri. Ia menghilang di tengah belantara hutan Noemuti.

*

Dua hari setelah pencurian di biara Santa Maria, tabernakel dan salib berhasil ditemukan di dalam hutan seberang kali. Para suster dan umat bergembira. “Tuhan Yesus ‘ditemukan’ kembali,” begitu teriak beberapa ibu di pelataran biara. Misa meriah diselenggarakan untuk pemulihan dan syukuran atas kejadian ini.

*

Seminggu setelah kejadian ini, Noemuti kembali dalam aktivitas normal. Para suster juga kembali dalam rutinitas mereka:mMengurus biara, poliklinik, dan sekolah. Pada hari Senin pagi, di ruang tamu biara itu, Suster Goretti, kepala biara Santa Maria dan Suster Angela, seorang biarawati muda, sedang menerima seorang pemuda berambut gondrong, berwajah agak garang. Suster Goretti dan Suster Angela menyambut dan berbicara dengan pemuda aneh ini penuh kasih dan perhatian. Pemuda itu diberi secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng. Para suster tak menanyakan terlalu banyak tentang pemuda aneh ini. Hanya beberapa hari kemudian, pemuda ini sudah diterima bekerja dengan para suster. Ia membantu para suster memelihara ternak, membersihkan kebun, dan menjaga biara itu siang dan malam. Para suster dan umat sekitar memanggilnya: ALEUS…

Aleus memang tidak mengenal Yesus, tetapi Yesus mengenal dan mencintai Aleus.
 
Istilah:
se’i = daging yang dikeringkan dengan cara diasap
akenat = penembak (bhs. Dawan)
teku = gerombolan pencuri di pedalaman Timor
kot-kotos = burung yang warna bulunya abu-abu
maputu = panas (bhs. Dawan)
naef = sapaan untuk laki-laki dewasa (bhs. Dawan)
Ora et Labora = “Berdoalah dan Bekerjalah” (bhs. Latin)
niutmeni = mayat yang bau (bhs. Dawan)
 

Amanche Franck OE Ninu adalah nama pena Fransiscus Amandus Ninu, Pr., atau biasa dipanggil Romo Amanche, seorang pastor Katolik di Keuskupan Agung Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lahir di desa Niki-niki, Timor tahun 1960. Ia telah menerbitkan dua buku: Humor Anak Timor dan Pesona Flobamora , serta mendirikan komunitas sastra di Indonesia Timur.