Storytelling di Museum
Lokakarya Kuratorial

Storytelling in Museums © Annissa M Gultom



Goethe-Institut Indonesien, bekerja sama dengan Yayasan Makassar Biennale, mengundang hingga 30 peserta untuk belajar dan bertukar pikiran secara langsung dengan ahli museum dari Jerman, Selandia Baru, dan Indonesia.

Di kawasan Asia Tenggara yang ditandai oleh keragaman etnik, budaya dan agama, institusi museum kini dihadapkan dengan berbagai isu dan tantangan. Sejak 2017, dalam rangka proyek multitahap Transitioning Museums in Southeast Asia yang diprakarsai oleh Goethe-Institut, Goethe-Institut menginisiasi dan mengorganisasi beberapa aktivitas seperti penelitian lapangan, diskusi meja bundar tertutup, dan symposium terbuka yang membicarakan berbagai aspek praktik museum kontemporer: penanganan dokumen dan arsip fotografis di museum, kerja sama di antara lembaga pendidikan, karya seniman dan berbagai komunitas serta ekspektasi publik.

Sebagai bagian dari pertukaran ini, program “Storytelling in Museums – Lokakarya Kuratorial” berfokus pada tema yang lebih relevan dan mendesak untuk museum di Indonesia: bagaimana mengembangkan strategi konten di museum yang menarik, relevan dan praktis, baik untuk berbagai komunitas berbeda maupun untuk masyarakat umum. Difasilitasi oleh Annissa M Gultom (Museolog Indonesia), Paul Spies (Direktur Museum Kota Berlin/Stadtmuseum Berlin), Puawai Cairns (Kepala Koleksi Māori/Mātauranga Māori di Museum Selandia Baru Te Papa Tongarewa), dan Yayasan Makassar Biennale; para peserta diharapkan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai cara mengatasi tantangan untuk memberi publik Indonesia sebuah narasi yang menarik dan bermakna terkait dengan berbagai aspek pada pencarian identitas, dalam konteks keseluruhan museum sebagai institusi kunci untuk kepentingan pembangunan bangsa.

Sorotan:

  • Lokakarya selama beberapa hari dan kesempatan berjejaring dengan kurator-kurator internasional dari Berlin dan Selandia Baru serta profesional lainnya
  • Kunjungan lapangan ke museum/ruang yang relevan
  • Pengalaman langsung: peserta ditugaskan untuk bekerja dalam kelompok
  • Sesi mentoring dalam suasana akrab


PERSYARATAN

  • Praktisi museum independen, tenaga profesional yang bekerja di institusi, mahasiswa
  • Tinggal dan bekerja di Indonesia; pelamar dari luar Jakarta dan Jawa akan diprioritaskan
  • Wajib mampu berbahasa Inggris
  • Pengalaman relevan minimal 2 tahun di bidang pengembangan konten/kurasi di lingkungan pameran/museum di luar perkuliahan. Pengalaman magang dapat diikutsertakan.

FORMAT LAMARAN, DOKUMEN, TENGGAT
Harap kirim dokumen-dokumen berikut kepada Maya, Koordinator Program Budaya di Goethe-Institut Indonesia: maya.maya@goethe.de paling lambat hari Rabu, 08 Mei 2019, pukul 23.00 WIB.
  1. Formulir aplikasi yang sudah diisi dalam bahasa Inggris. Formulir bisa diunduh di sini.
  2. Surat motivasi maks. 500 kata dalam Bahasa Inggris yang menerangkan ketertarikan dengan subyek dan program, serta tujuan dan obyektif dalam partisipasi di Lokakarya ini – bagaimana pengalaman ini dapat berguna untuk rencana karir, institusi tempat bekerja, dan selebihnya.

Seleksi untuk programi ini akan dilakukan oleh sebuah komite yang beranggotakan Annissa M. Gultom, Yayasan Makassar Biennale, dan Goethe-Institut Indonesien.
 

MANFAAT

Goethe-Institut akan menanggung biaya untuk perjalanan udara/transpor domestik, biaya transfer bandara (jika diperlukan), dan akomodasi berbagi kamar sampai dengan 5 malam (hanya untuk peserta dari luar Makassar). Kami juga akan menyediakan makan siang selama program berlangsung. Pada akhir program, semua peserta yang memenuhi syarat akan memperoleh sertifikat.