Arthouse Cinema - Werner Herzog
Lanskap yang Terdesain: "Berjibaku dengan Alam, Membikin Sinting!"

Lanskap yang Terdesain: "Berjibaku dengan Alam, Membikin Sinting!"
© Goethe-Institut Indonesien

Even Dwarfs Started Small (1970) - Werner Herzog 

Lanskap bangunan putih bergaya modern terletak di tengah hamparan bukit yang luas, kering, dan berbatu. Kehadirannya di tempat itu terasa asing, tapi seakan menjadi oase bagi siapa pun dan apa pun yang hidup di sana. Mungkin juga, mereka dipaksa untuk hidup di situ.
 

Tempat itu dinamakan Institusi. Dihuni oleh kawanan kurcaci, staf, dan para pengajar (tutor) yang juga adalah kurcaci, serta seorang Kepala Sekolah (Principal). Pada suatu waktu, Kepala Sekolah dan beberapa pengajar sedang tidak berada di Institusi. Hanya tersisa Kawanan, seorang pengajar, Marcella si tukang masak dan dua orang kurcaci buta – Azúcar dan Chicklets. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Kawanan untuk melakukan aksi. Territory mengejar Marcella dengan motor, hingga ia ketakutan dan bersembunyi di Lava Fields, bukit berbatu. Sementara yang lain mencoba menyerang si Pengajar. Sayangnya, salah satu dari mereka, Pepe, membiarkan dirinya ditangkap dan disandera di dalam ruangan Kepala sekolah. Di luar, Kawanan menuntut agar si pengajar segera membebaskan Pepe atau mereka akan membakar Institusi. Si Pengajar mencari pertolongan melalui telepon, tapi percuma. Mereka juga telah merusak kabel telepon. Harapan terakhirnya adalah Kepala Sekolah bisa pulang cepat di hari itu.

Lanskap dan Performativitas para Penghuninya

Kurang lebih begitulah struktur peristiwanya. Hubungan aksi kawanan tersebut terhadap kehidupan di Insitusi tergambarkan melalui lanskap dan performativitas subjeknya. Tindakan ekspresif subjek menjadi bahasa untuk menghasilkan peristiwa tertentu. Salah satunya seperti rasa muak Kawanan ketika harus melaksanakan tugas rutin menyiram tanaman di tempat yang luas dan kering itu. Pada akhirnya kemuakkan itu dilampiaskan dengan membakar tanaman, termasuk pohon palem favorit Kepala Sekolah yang dibakar dan ditumbangkan. Bagi saya, peristiwa ini adalah salah satu yang paling performatif; bagaimana bahasa ‘menjatuhkan pohon’ seakan menjadi tanda bahwa situasi di Institusi telah berubah.

Yang Tidak Sesuai Dilarang Masuk

Kepergian sementara si Kepala Sekolah ternyata cukup untuk membuat suatu perubahan. Saya penasaran, mengapa tokoh ini tidak diperlihatkan? Mungkin, karena ia bukan kurcaci. Kecurigaan saya ini didukung oleh adegan ketika Hombre diinterogasi oleh petugas keamanan yang kehadirannya juga tidak dimunculkan secara visual, tetapi hanya suaranya saja. Dari jenis suaranya, petugas itu bukan kurcaci. Jika benar begitu, Herzog jelas sengaja mencegah kehadiran ‘tubuh yang bukan kurcaci’ itu masuk dalam lanskap film ini. Bahkan, apa yang datang dari ‘luar’ pun, ketika masuk, harus ‘disesuaikan’. Seperti adegan ketika seorang pengemudi lewat di wilayah Institusi dan sempat berhenti menanyakan arah. Pengemudi itu juga adalah kurcaci.
                        
Menariknya, ‘tubuh yang bukan kurcaci’ itu kemudian dihadirkan dalam situasi keruangan yang berhubungan dengan ketidaksesuian fungsi. Contohnya dalam hal desain pengalaman pengguna (User Experience Design) pada arsitektur Institusi yang kurang sesuai untuk kurcaci. Kita bisa melihatnya pada adegan gagang pintu yang susah dijangkau dan ranjang yang terlihat susah dinaiki. Situasi ini seakan ingin memberlakukan prinsip desain function follows form atau dengan kata lain bentuklah yang menentukan tindakan subjeknya. Berbeda ketika fungsi dan makna telah dilekatkan lebih dulu terhadap bentuk seperti pada produk-produk yang didesain berdasarkan fungsi (form follows function).
 
Pada adegan Hombre ketika mencoba naik ke atas ranjang, saya melihat ada dua kecenderungan. Pertama, ia terus gagal naik karena ranjang itu memang tidak difungsikan untuk ‘mereka’. Kedua, ia (sengaja) tidak bisa naik karena ingin menghindari kawin dengan wanita itu. Saya menduga semestinya ia sudah berhasil naik ke atas pada percobaan kedua ketika menggunakan rangka ornamen di depan ranjang. Kedua kecenderungan di atas sama-sama memberlakukan function follows form saat Hombre merespons bentuk ranjang secara abstrak (memfungsikan ornamen sebagai tangga) dan performatif (menjadikan hasil aksinya itu sebagai alasan untuk tidak kawin).
 
Tongkat si kembar Azúcar-Chicklets juga menunjukkan desain function follows form. Tongkat itu tidak spesifik terhadap fungsi tertentu, namun peristiwa dan ruanglah yang menentukan tongkat itu sebagai alat bantu untuk melacak ruang atau senjata membela diri ketika diganggu oleh kawanan. Prinsip form follows function justru terlihat pada instalasi tali Azúcar-Chicklets. Bentangan tali tersebut diaplikasikan untuk membantu keduanya menelusuri ruang, tetapi di saat yang sama akan membatasi ruang rotasi mereka. Penempatan kedua prinsip desain tersebut pada ruang dan peristiwa di film ini dengan politis membahas bagaimana fungsi ketika dibebaskan dan ketika ia telah ditentukan. Setiap objek pun pada dasarnya hanyalah bentuk tak berpihak sampai ia diberikan fungsi dan nilai.

Diatur dan Ditata, di Dalam dan di Luar

Konsep ruang ‘di dalam’ dan ‘di luar’ juga terkesan menjadi konstruksi peristiwa pada film ini. Hal tersebut tergambarkan dari keberadaan subjeknya dan impresi yang dimunculkan. Dimulai dengan interogasi Hombre di dalam kantor polisi, ia dituduh telah melakukan pelanggaran ketertiban di Institusi. Berlanjut dengan adegan si pengajar yang menyandera Pepe di dalam ruangan Kepala Sekolah. Ia menekankan kepada Pepe tentang pedoman Institusi, yaitu “cleanliness and order”. Situasi ini memperjelas bagaimana kehidupan di Institusi diatur dan ditata oleh kuasa tertentu. Mungkin, hal yang sama juga terjadi dengan serangga-serangga yang ditempatkan di dalam kotak milik salah satu anggota kawanan. Serangga-serangga itu didandani dan diatur untuk memainkan sebuah peran. Akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam ruangan ini, seperti memberikan impresi tentang kontrol dan kuasa. Ruang Kepala Sekolah, ruang interogasi, dan ruang kecil di dalam kotak pada film ini sama-sama difungsikan sebagai ruang untuk ‘mengurung’.
 
Situasinya berbeda ketika posisi subjek berada di luar ruangan. Peristiwa yang terjadi adalah tindakan-tindakan yang sifatnya spekulatif dan cenderung natural. Tindakan ini tidak secara pasti menjadi solusi masalah yang sedang dipersoalkan di Institusi, tetapi adalah tindak pelampiasan yang bermain-main dengan kemungkinan ruang. Misalnya pada adegan membakar tanaman, melempar mobil ke jurang, dan mengganggu Azúcar-Chicklets. Tindakan serupa juga dilakukan oleh si Pengajar, yaitu melampiaskan kemarahannya terhadap Kawanan kepada sebatang pohon kering.
 
Lanskap dan ruang dalam film ini seakan menjadi basis bahasa bagi bangunan peristiwa dalam film. Lanskap tersebut ditata dari aksi-aksi performatif subjek-subjeknya terhadap ruang, dan performativitas ruang terhadap subjek-subjeknya. Ruang yang dipengaruhi dan ruang yang memengaruhi. Ruang dalam konteks ini pun bisa dimaknai sebagai bentuk sehingga memungkinkan pembacaan ruang melalui prinsip desain terkait fungsi. Persoalan fungsi menjadi penting ketika membicarakan relasi atau hubungan. Dalam lanskap film ini, relasi tersebut menjadi peta peristiwa antarsubjek dan ruangnya. Hubungan antara manusia dan ruangnya, dengan demikian, dibahasakan melalui lanskap yang terdesain.
 

Penulis

Taufiqurrahman Kifu © Taufiqurrahman Kifu Taufiqurrahman Kifu lahir di Palu, Sulawesi Tengah, pada 1994. Ia adalah seniman dan desainer grafis lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako, Palu. Kifu adalah salah satu pendiri Forum Sudutpandang Palu. Sejak 2018 ia bergabung di kolektif Milisifilem dan 69 Performance Club, yang merupakan bagian dari Forum Lenteng di Jakarta.

Top