Dari Celah-Celah Sejarah: Satu Catatan tentang Gerakan Sinema Baru Jerman

New Arthouse Cinema © Goethe-Institut Indonesien


Oleh Anggraeni Widhiasih
Tulisan singkat ini tidak berangkat dari argumen yang definitif mengenai suatu persoalan tertentu. Ia barangkali lebih bisa dikatakan sebagai semacam hasil penyusuran pribadi atas koleksi karya sinema yang ada di Goethe-Institut, satu institusi budaya yang menjadi garda depan upaya komunikasi kultural Jerman kepada masyarakat Indonesia.

 

Sering kali pemahaman soal sejarah dan budaya satu bangsa tidak kita alami sebagai pengalaman ketubuhan yang langsung, di bangku institusi pendidikan formal, maupun di halaman-halaman teks. Kadang pemahaman itu justru kita temui setelah menonton satu film. Film pun tak lagi soal estetika semata. Ia juga adalah suatu bentuk komunikasi mengenai konteks yang menyertai sebuah karya. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa si pembuat film adalah pencatat konteks pada masanya. Sinema menjadi wajah budaya tertentu sekaligus jembatan wacana, baik yang bersangkutan dengan persoalan estetika maupun sosial-politik.

Tak jarang pergulatan estetika berjalan beriringan dengan pergulatan untuk membahasakan konteks yang berkaitan dengan peristiwa, lokasi dan manusianya. Kecintaan pada sinema mendorong munculnya kebutuhan untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan estetika dalam sinema beserta relevansinya terhadap konteks yang berbeda-beda. Gerakan Sinema Baru Jerman pun adalah salah satu gerakan yang muncul dari pergulatan semacam itu. Ia hadir sebagai kebutuhan untuk membicarakan konteks masyarakat Jerman, terutama kaitannya dengan situasi pasca-Perang Dunia II.

Dipelopori oleh para pembuat film muda sejak tahun 1960-an, visi para pengkarya Jerman di masa ini ialah untuk membuat film-film segar yang mampu menghadirkan warisan tradisi sinematografi yang kaya sembari menyasar isu-isu kontemporer Jerman saat itu. Kebutuhan untuk mengklaim kembali legitimasi estetika dalam film berjalan bersamaan dengan kebutuhan untuk mengekspresikan pandangan para pengkarya tentang wacana kesejarahan Jerman. Bagi para sutradara Jerman saat itu,  ada suatu urgensi untuk dapat menghadirkan kesejarahan Jerman menurut sudut pandang mereka sendiri dengan tetap mempertimbangkan situasi zaman yang tengah berlangsung.
 

 

Sepuluh film yang saya pilih untuk masuk dalam program ini dibuat oleh para pembuat film yang turut mempelopori lahirnya Gerakan Sinema Baru Jerman pada periode pasca 1960-an sampai dekade sebelum terjadi unifikasi. Periode ini adalah salah satu periode waktu dalam kesejarahan Jerman yang berkaitan erat dengan situasi yang menyertai Perang Dunia II dan setelahnya. Pada masa itu, terdapat peristiwa-peristiwa di masa lalu yang tak banyak dibicarakan langsung oleh orang Jerman sendiri. Peristiwa-peristiwa itu telah menjadi masa lalu, namun pada saat yang sama mereka belum usai dibahas dan terus memengaruhi tatanan masyarakat Jerman.

Kondisi itu justru menjadi celah bagi para pengkarya untuk membicarakan atau menarasikan ulang sejarah dengan pendekatan yang berbeda-beda. Dari celah itulah, sejarah kemudian tidak terus-menerus terbatas tentang kepresisian peristiwa di masa lalu, tetapi juga tentang kehadiran dan relevansinya dengan situasi tatanan masyarakat yang ada kini dan di sini. Sinema menjadi ruang untuk menghadirkan pengalaman estetik dari perspektif yang berbeda-beda yang membahasakan tentang kesejarahan sebuah peristiwa dan bangsa. Sejarah yang sulit dibicarakan pun disituasikan kembali lewat narasi-narasi keseharian yang lebih sesuai dengan konteks yang sedang berlangsung. Persoalan tentang sistem, integrasi/disentegrasi akibat oposisi ideologi, serta alienasi yang terwariskan pada tubuh masyarakat pun hadir sebagai jalan untuk menelusuri kembali jejak-jejak kesejarahan yang hidup dalam sistem.

 

Sepuluh film yang ada dalam kurasi ini, Yesterday Girl (1966) dan Strongman Ferdinand (1976) karya Alexander Kluge; Even Dwarfs Started Small (1970) dan Stroszek (1977) karya Werner Herzog; Katzelmacher (1969) dan Ali: Fear Eats the Soul (1974) karya Reiner Werner Fassbinder; The American Friend (1977) karya Wim Wenders; Before Your Eyes – Vietnam (1981) dan How to Live in the FRG (1990) karya Harun Farocki; serta Marianne & Juliane (1981) karya Margarethe von Trotta, menurut saya mencakup tema-tema di atas.

Keterasingan dari dan kebutuhan pada sistem hadir beriringan dengan persoalan integrasi/disintegrasi, baik pada ranah individual, sistemik negara maupun politik global. Di sisi lain, karya-karya ini pun adalah penanda yang penting, baik bagi Gerakan Sinema Baru Jerman maupun bagi khasanah wacana yang membahas tentang kesejarahan Jerman di masa-masa berlangsungnya oposisi ideologi antara blok Barat dan blok Timur. Dari film-film ini, sejarah teralami sebagai sebuah gerakan sinema, sebagaimana hakikat para pengkarya yang juga tak pernah lepas dari tugas mencatat konteks pada masanya.


Tulisan ini pada awalnya adalah catatan kuratorial yang lebih panjang untuk program pemutaran film berkala Arthouse Cinema yang direncanakan untuk dilaksanakan sepanjang 2020 di GoetheHaus, Jakarta. Akibat pandemik Covid-19 seluruh pemutaran Arthouse Cinema 2020 dibatalkan.

Kesepuluh film dalam program hasil kurasi Anggraeni Widhiasih ini akan diteruskan menjadi serial tulisan kritik film pada 2021 yang akan mengundang para kritikus film muda Indonesia untuk turut menyumbangkan buah pikir mereka dan berdialog secara terbuka dengan gagasan Anggraeni Widhiasih selaku kurator tamu program Arthouse Cinema 2020-2021.

 

Anggraeni Widhiasih

Anggraeni Widhiasih © Anggraeni Widhiasih adalah kurator, penulis, seniman, dan anggota aktif Forum Lenteng. Dia adalah salah satu penyelenggara ARKIPEL – Jakarta Documentary & Experimental Film Festival sejak 2016. Di ARKIPEL Homoludens pada 2018 dia adalah kurator untuk program Candrawala bekerja sama dengan Dhuha Ramadhani. Di ARKIPEL Bromocorah pada 2019 dia menjadi salah satu anggota tim yang memilih film-film yang berlaga di seksi Kompetisi Internasional. Saat ini ia memfokuskan aktivitasnya sebagian besar di Milisifilem, sebuah studi kelompok produksi film melalui praktik eksperimen visual.

Top