Temu Wicara bersama Maharani Mancanagara
Menyelam Lebih Dalam, Menjangkau Lebih Luas: Catatan Praktik Artistik Maharani Mancanagara

Pameran tunggal Maharani Mancanagara "Zero Sum Game" Karya: Pulau Wanatentrem
Pameran tunggal Maharani Mancanagara "Zero Sum Game" Karya: Pulau Wanatentrem | © Maharani Mancanegara

Selama pandemi, seniman Maharani Mancanegara mengembangkan permainan papan berdasarkan hasil karyanya "Hikayat Wanatentrem".
 
Ada banyak cerita di balik sosok dan karya Maharani. Salah satu diantaranya adalah perjalanan menyusuri pelbagai daerah untuk menggali lebih dalam sebuah catatan peninggalan kakeknya, tentang metode berkarya dan bagaimana mengemas sebuah isu sensitif tersebut menjadi suatu hal yang dapat diterima serta diapresiasi oleh seluruh kalangan.


Bagaimana cara Anda berdaptasi di tengah pandemi saat ini agar selalu produktif berkarya?

Dalam proses berkarya, saya biasanya banyak melakukan perjalanan, berkeliling bertemu orang, mengobrol langsung, melakukan wawancara, ataupun mengambil data, foto bahkan dokumen. Hanya saja, selama pandemi ini tentunya ada keterbatasan untuk melakukan perjalanan apalagi bertemu orang, terutama dari kelompok lansia.

Agar tetap produktif dan terus berkarya, memang sangat terbantu dengan metode komunikasi yang serba ranah digital dan virtual di antaranya seperti telepon jarak jauh, video call saat ini.

Banyak pameran pun bermigrasi ke format digital, yang sebetulnya memang sebuah pengembangan cukup baik, agar karya seniman tetap bisa terdistribusikan. Namun bagi saya sendiri rasanya kurang „puas“, jika tidak menikmati (pameran) secara langsung.

Saat ini sedang mengerjakan apa?

Saya saat ini sedang mengerjakan beberapa karya untuk pameran. Meskipun di awal pandemi banyak pameran yang ditunda atau dibatalkan, tetapi tiba-tiba sejak pertengahan tahun ini saya mendapatkan tawaran untuk menggelar pameran.

Sekarang saya sedang mengerjakan karya-karya untuk tahun ini dan tahun depan, serta mempersiapkan residensi yang tertunda. Selain itu ada proyek kolaborasi jangka panjang kerja bareng Misha Ahmad Azizia dan Rio. Kami sedang mengembangkan „Hikayat Wanatentrem“ dalam bentuk permainan papan (boardgame) atau Game-App.

Belakang layar AMAN (Agenda Seniman) Goethe-Institut Bandung - Parodi Partikelir bersama Maharani Mancanagara. Belakang layar AMAN (Agenda Seniman) Goethe-Institut Bandung - Parodi Partikelir bersama Maharani Mancanagara. | © Kemala Montesa / Saturasi Moments

Apa yang menjadi sumber inspirasi karya seni Anda?

Inspirasi awal saya dari berkarya, di masa kuliah dulu, saya sempat berbincang dengan Pak Tisna Sanjaya, salah  seorang dosen pemimbing. Beliau sempat berpesan; “Setiap seniman itu kalau berkarya harus jujur, apa yang dialami. Kamu harus mengenal diri kamu sendiri dan asal usulmu.” Dari situlah saya mencoba untuk mencari tahu asal usul saya beserta keluarga saya.

Perjalanan berkarya saya dimulai dari titiktersebut, bagaimana saya mengenal kakek saya melalui buku harian tersebut dan melalui periode-periode yang beliau catatkan di buku hariannya. Kemudian ada babak baru di buku harian tersebut yang juga baru saya ketahui ketika saya kuliah; bahwa beliau pernah dibawa ke Pulau Buru bersama kawan-kawan lainnya.

Dikatakan bahwa mereka ke sana untuk dilatih di pulau tersebut untuk menjadi manusia Indonesia yang lebih baik. Kemudian timbul rasa penasaran saya; bahwa ada perbedaan tentang apa yang dituliskan di buku harian kakek dengan apa yang saya pelajari di sekolah dulu tentang peristiwa sejarah tahun 1965.”

Di Indonesia, peristiwa bersejarah tersebut masih terbilang isu sensitif. Bagaimana Anda mengemas isu sensitif agar dapat diterima khalayak luas. Apakah ada metode tertentu yang Anda gunakan?

Maharani Mancanegara Maharani Mancanegara | © Maharani Mancanegara Setelah menemukan awal pemicu sebuah isu, kemudian saya mengumpulkan cerita-cerita partikelir—cerita yang memang tidak tercatat atau tidak banyak muncul ke permukaan.

Akhirnya hal tersebut yang menjadi titik awal saya untuk mengolah cerita-cerita, narasi-narasi tersebut ke dalam bentuk lain, salah satunya pada tahun 2018 saya menulis sebuah dongeng, dengan penyederhanaan penokohan - sebuah metafora tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa 1965 tersebut, menjadi hewan-hewan yang sering kita jumpai di Indonesia.

Tahun 2018, di ajang pameran tunggal saya di galeri Soemardja bertajuk ‘Zero Sum Game’, itu kali pertama membuat output karya menjadi sebuah dongeng.

Bentuknya berupa cerita bergambar dalam buku dan cerita narasi yang saat ini memang telah dialihbahasakan ke dalam beberapa bahasa. Selain itu ada sebuah instalasi pulau, bernama pulau ‘Wanatentrem’, di mana ketika tokoh kancil dibawa ke pulau tersebut dan mulai dipekerjakan oleh awak perompak—sebagai salah satu tokoh lainnya dalam dongeng tersebut.

Kemudian ada juga pementasan, yang diperankan oleh rekan saya, Misha Ahmad Azizia. Ia membawakan naskah yang sudah saya buat di buku cerita itu menjadi sebuah pementasan wayang atau shadow puppet, yang diperuntukkan bagi siapapun audiens pamerannya, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa.

Adapun rencana pengembangan jangka panjang dari Hikayat Wanatentrem ini adalah menjadikan sebuah permainan papan (board game) atau Game-App, yang diangkat dari turunan kisah yang ingin saya ceritakan kembali dengan tujuan agar lebih bisa dinikmati orang banyak dari berbagai kalangan.

Ada harapan tertentu kepada mereka (audiens) yang sudah melihat karya Anda ini?

Untuk saya pribadi, dengan adanya karya ini, berharap bahwa audiens bisa lebih memahami dan menyadari pentingnya asal usul kita berasal. Seperti juga halnya trigger, mengapa saya mengangkat topik ini—dikarenakan memang ketika saya mengetahui permasalahan ini, mencari tahu tentang kakek dan lebih dalam melalui cerita-cerita yang beredar bahkan saya pun mengobrol dengan generasi-generasi baik itu lebih tua ataupun lebih muda dari saya.

Sebenarnya tidak terlalu banyak orang yang mengetahui ataupun mungkin tidak terlalu peduli dengan karya ini, namun bagi saya hal ini merupakan sesuatu yang penting sekali. Dengan menyuarakan  secara terus menerus, bagi saya memang sudah menjadi cara, untuk memancing orang-orang untuk mencari tahu tentang karya apa yang sedang saya kerjakan dan mengapa saya membuatnya.

Mulai dari sinilah bagi saya cara bagaimana untuk tetap menyuarakan dan menganggap hal-hal ini pun penting.

Pameran tunggal Maharani Mancanagara "Zero Sum Game" Karya: Pulau Wanatentrem Pameran tunggal Maharani Mancanagara "Zero Sum Game" Karya: Pulau Wanatentrem | © Maharani Mancanagara

Maharani Mancanagara

Dalam Agenda Seniman (AMAN), pengambilalihan Instagram Goethe Institut Bandung, Maharani merefleksikan narasi sejarah ke dalam sebuah pentas shadow puppet bertajuk Parodi Partikelir.

Maharani Mancanagara, seorang seniman, tinggal dan bekerja di Bandung. Lulus dari studio Seni Grafis program studi Seni Rupa ITB. Maharani aktif mengikuti pameran dan perhelatan seni lainnya di Indonesia maupun di luar negeri. Melalui eksplorasi medium drawing di atas kayu, Maharani berusaha menyampaikan gagasan-gagasan berkaryanya yang cenderung fokus pada narasi sejarah, pendidikan, dan kisah-kisah partikelir yang sering kali terabaikan.
 

Tentang aman

AMAN (Agenda Seniman) Seniman dan Musisi lokal mengambil alih kanal Instagram Goethe-Institut Bandung dari Agustus – Desember 2020 dan mempresentasikan pekerjaan yang sedang berjalan dan kegiatan sehari-seharinya selama pandemi COVID-19. Setiap sabtu pertama di bulannya, kami menyelenggarakan sesi Live dengan kunjungan studio atau jam session disertai dengan kegiatan diskusi di @goetheinstitut_bandung.

Top