Digital Discourses
Adakah Ruang Bagi Jurnalisme di Media Sosial?

Panel 1
25.11.2021 | 13.00 - 15.00 WIB

Publik semakin banyak menggunakan media sosial sebagai sumber berita utama. Pada saat yang sama, media sosial juga memberi tempat bagi opini pribadi dan informasi yang tidak terverifikasi sehingga menyulitkan pengguna dalam memastikan kebenaran berita di media sosial. Bagaimanakah jurnalisme akan berevolusi saat dihadapkan dengan media sosial? Bagaimanakah organisasi-organisasi berita dapat membangun kepercayaan di tengah banjir informasi?
 

Pembicara

Imam Safingi Privat: © Imam Safingi

Imam Safingi

belajar produksi video dan desain grafis secara mandiri semasa kuliah, Imam mengumpulkan pengalaman profesional di bidang jurnalisme TV, produksi video, desain grafis, kreasi dan komunikasi konten. Bidang keahlian Imam adalah komunikasi kreatif untuk kegiatan kemanusiaan, advokasi, pemberdayaan dan keberlanjutan. Ia pernah bekerja di berbagai organisasi, termasuk di perusahaan media, lembaga nirlaba, perusahaan sosial, dan instansi pemerintah. Berlandaskan persepsi bahwa beragam sumber informasi semakin membanjiri kanal-kanal media, pada tahun 2020 ia mendirikan Perupadata, yang menyaring, mengompilasi dan memvisualisasi informasi terkini dalam satu infografik.


Dr. Le Thu Mach Privat © Dr. Le Thu Mach

Dr. Le Thu Mach

adalah dosen jurnalisme pada Ho Chi Minh National Academy of Politics di Hanoi, Vietnam, dan dosen tidak tetap pada Academy of Journalism and Communication, serta Swinburne University di Vietnam. Ia meraih gelar doktor di bidang jurnalisme dari Monash University, dan memperoleh pengalaman media global di beberapa negara. Riset Dr. Le Thu Mach berfokus pada penggunaan media digital untuk gerakan sosial dan ruang publik di Vietnam dan Asia Tenggara. Selain sebagai akademisi, Dr. Le Thu Mach juga bekerja sebagai konsultan komunikasi untuk hubungan pemerintah, dan sebagai penulis kolaborator untuk sejumlah outlet media.


Yasmina Al-Gannabi © Deutsche Welle

Yasmina Al-Gannabi

adalah seorang manajer pengembangan audiens, pelatih, dan konsultan media sosial yang sangat bersemangat dan berpengalaman dengan rekam jejak yang jelas di industri media penyiaran. Saat ini ia bekerja untuk Deutsche Welle (DW) – badan siaran internasional Jerman. Untuk DW Akademie dan organisasi-organisasi lain ia berkeliling dunia dalam rangka melatih wartawan dan LSM sehubungan dengan kerja berbasis data di media sosial, bercerita, mencari berita, dan keamanan di media sosial.


Sophia Smith Galer © Brian Prentke

Sophia Smith Galer

adalah wartawan berita senior VICE World News yang sudah sering meraih penghargaan. Ia memelopori penggunaan TikTok sebagai alat pencarian berita dan publikasi untuk wartawan, dan menjadi wartawan pertama yang terpilih sebagai anggota TikTok Creator Council. Ia orang pertama yang mengangkat berita tentang penyalahgunaan dukungan para pemengaruh demi keuntungan politik, tentang kampanye TikTok Donald Trump (yang pada saat yang sama berusaha melarang aplikasi tersebut), tentang keberhasilan kalangan antivaksin dalam menyiasati algoritme, dan tentang iklan TikTok dengan moderator yang menjual segala sesuatu mulai dari gas ketawa sampai produk diet palsu dengan menggunakan video dokter sungguhan untuk menipu. Ia telah menulis bukunya yang pertama, Losing it: Sex Education for the 21st Century, yang akan diterbitkan pada bulan April oleh Harper Collins.


Moderator

Prita Kusumaputri © Dani Purba

Prita Kusumaputri

saat ini bekerja sebagai koresponden untuk Deutsche Welle Indonesia, di mana ia juga bergabung dalam tim Instagram pengelola akun @dw.nesia, yang sejak awal diluncurkan hingga saat ini perkembangannya sangat baik dan mencapai target. Prita telah berpengalaman di dunia jurnalistik selama lebih dari lima tahun. Ia pernah bergabung sebagai reporter di NET dan menjadi penulis konten di MRA Media Group. Ia memiliki ketertarikan khusus di bidang komunikasi, media digital, riset, data dan fakta, serta desain tata letak.


Top