Digital Discourses
Dari Pembaca Menjadi Pelanggan

Panel 3
25.11.2021 | 18.00 – 20.00 WIB

Pada saat media berita tradisional sedang menghadapi masalah akibat pendapatan dari iklan yang terus menurun, banyak organisasi media berita yang baru berdiri memasuki pasar. Model bisnis organisasi-organisasi baru tersebut terutama berlandaskan dukungan dari pembaca, misalnya dalam bentuk langganan, keanggotaan, urun daya, atau donasi. Bagaimanakah model ini dapat menyokong jurnalisme berkualitas? Apakah model ini dapat bertahan dalam jangka panjang, atau adakah model yang lebih baik bagi publik?

Pembicara

Evi Mariani © Rosa Panggabean

Evi Mariani

adalah ko-pendiri dan direktur eksekutif Project Multatuli, sebuah inisiatif jurnalisme layanan publik sekaligus outlet media berfokus anggota pertama di Indonesia yang diluncurkan pada bulan Mei 2021. Sebelum aktif di Project Multatuli, ia redaktur pelaksana The Jakarta Post, tempat ia bekerja selama 18 tahun hingga Januari 2021. Bersama sejumlah wartawan lain dari empat outlet media, Evi menerima Excellence in Public Service Journalism Award dari Society of Publishers in Asia (SOPA) untuk proyek kolaboratif yang mengungkapkan kejahatan kekerasan seksual tersembunyi di kampus-kampus di seluruh Indonesia lewat sebuah serial berjudul #NamaBaikKampus. Proyek kolaboratif yang sama meraih Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 2020.


Sonny Swe Privat: © Sonny Swe

Sonny Swe

adalah ko-pendiri dan CEO Frontier Myanmar. Ia memasuki industri ini pada tahun 1996 sebagai pencetak. Empat tahun kemudian, bersama seorang mitra asal Australia, ia menjadi ko-pendiri The Myanmar Times – surat kabar berbahasa Inggris non-pemerintah pertama dalam empat dasawarsa.
Surat kabar pelopor itu terpaksa bekerja di bawah sensor ketat oleh pihak militer, dan pada tahun 2005 Sonny Swe dijatuhi hukuman penjara 14 tahun karena melanggar undang-undang penyensoran. Setelah dibebaskan pada tahun 2013 dalam rangka amnesti pemerintah, ia sempat bergabung kembali dengan The Myanmar Times, tapi kemudian beralih menjadi CEO Mizzima Media Group. Pada tahun 2015 ia membentuk Black Knight Media Group.


Lynn D'Cruz Privat © Lynn D'Cruz

Lynn D'Cruz

memiliki semboyan hidup yang sederhana saja: “Ini bukan pekerjaan, ini adalah kehidupan”. Lulusan sastra Inggris di University Malaya ini mengawali kariernya dengan memberi kuliah bahasa Inggris selama 10 tahun, kemudian beralih ke dunia media. Pada tahun 2014, ia memelopori kampanye urun dana Malaysiakini yang pertama. Kampanye Buy A Brick itu berhasil mengumpulkan RM 1,7 juta untuk turut membiayai @Kini, tempat pertama milik sendiri Malaysiakini, di Petaling Jaya. Ia memegang gelar psikologi manajerial dan tergabung dalam Google News Initiative Newsroom Leadership Programme 2019. Saat ini ia memimpin departemen pengembangan keanggotaan. Ia meluncurkan Nifty Notes, Youthphoria, dan NowEternal, yaitu produk-produk yang bertujuan mengembangkan keanggotaan @Malaysiakini.


Theresa Bäuerlein © Dominik Butzmann

Theresa Bäuerlein

adalah seorang wartawan dan penulis buku peraih penghargaan yang berbasis di Berlin, Jerman. Ia penulis dan ko-penulis tujuh buku, baik novel maupun nonfiksi. Novelnya “Das war der gute Teil des Tages” telah diadaptasi menjadi film “Hannas Reise”. Ia juga ko-pendiri platform jurnalisme digital Krautreporter, sebuah majalah daring independen yang ditopang oleh para pembacanya.


Moderator

Viriya Singgih Privat © Viriya Singgih

Viriya Singgih

jurnalis di Project Multatuli. Sebelumnya, ia pernah menjadi wartawan The Jakarta Post dan Bloomberg News. Ia berpengalaman meliput berbagai isu, termasuk energi, pertambangan, ekonomi makro, dan politik. Pada tahun 2015 ia menulis buku Menjejal Jakarta: Pusat dan Pinggiran dalam Sehimpun Reportase.


Top