Arthouse Cinema
Tempat yang Tepat untuk Pencinta Film

Arthouse Cinema 2015 © © Goethe-Institut Indonesien Arthouse Cinema 2015 | © Goethe-Institut Indonesien © Goethe-Institut Indonesien

Arthouse Cinema
Program pemutaran film Jerman dan Indonesia

Program Arthouse Cinema mencakup beragam genre dan format yaitu film fiksi, film dokumenter, film panjang dan film-film pendek yang disatukan dalam satu jadwal penayangan. Di Jakarta pemutaran Arthouse Cinema dilaksanakan setiap Selasa minggu kedua dan keempat setiap bulan di GoetheHaus mulai pukul 19.00 WIB.
 
Sejak permulaannya pada 2012 sampai hari ini program Arthouse Cinema telah menjadi ruang pemutaran yang memberikan kesempatan kepada film-film yang tidak dapat diakses pecinta film melalui kanal-kanal media dan informasi arus utama. Arthouse Cinema mempersembahkan film-film yang menantang bagi para penonton film. Dalam program ini penonton dapat menyaksikan film-film yang memberikan pengalaman baru, menawarkan ide-ide yang menerobos batas, terlepas dari apakah film itu sebuah karya klasik seorang maestro atau karya eksperimental seorang sutradara muda, apakah medianya animasi atau apakah ia sebuah karya fiksi atau dokumenter yang berbasis observasi.
 
Setiap tahun Arthouse Cinema menayangkan kurang lebih 20 film. Jika memungkinkan, penayangan film dilengkapi dengan diskusi bersama aktris, sutradara atau pun produser film. Setidaknya sekali dalam setahun diselenggarakan juga pemutaran khusus yang diberi judul Arthouse Cinema Fokus. Pada kesempatan ini akan ditampilkan beberapa film dari seorang atau beberapa sutradara Jerman selama dua malam berturut-turut dengan jam pemutaran yang lebih panjang daripada malam Arthouse Cinema biasa. Beberapa nama sutradara yang telah ditampilkan dalam “Fokus” adalah Fatih Akin, Werner Herzog, Rainer Werner Fassbinder, Pepe Danquart dan Frank Beyer.
 

ARTHOUSE CINEMA 2017 DI JAKARTA

Pada 2017 program Arthouse Cinema secara khusus akan memberi tempat pada film-film yang mengangkat tema seputar musik dan sejarah kota khususnya mengenai kehidupan di ruang-ruang urban. Beberapa film yang akan diputar dalam Arthouse Cinema pada 2017 antara lain adalah Crossing the Bridge (Fatih Akin), Berlin, die Sinfonie der Großstadt (Walther Ruttmann), B-Movie: Lust & Sound in West Berlin (Jörg A. Hoppe, Heiko Lange, Klaus Maeck, Miriam Dehne) serta karya dari Indonesia Melancholy is a Movement (Richard Oh), About a Woman (Teddy Soeriaatmadja) dan Mencari Hilal (Ismail Basbeth).
 

KISAH SEPUTAR MUSIK DAN KOTA

Crossing the Bridge adalah sebuah karya dokumenter dari sutradara Fatih Akin yang biasanya identik dengan karya fiksi soal kehidupan generasi keturunan Turki-Jerman. Dalam film ini Akin menjelajahi jalan-jalan di Istanbul bersama Alexander Hacke, pemain bas band “Einstürzenden Neubauten“, sebuah band eksperimental industrial yang dibentuk di Jerman (kala itu masih Jerman Barat) pada 1980. Berdua mereka merekam suara-suara Istanbul, dari mulai suara yang tradisional sampai yang paling progresif. Karya ini adalah sebuah catatan penting mengenai perkembangan musik dan manusia di Istanbul, sebuah kota yang secara geografis dan kultural mempertemukan apa yang “barat” dan yang “timur”.
 
Berlin, die Sinfonie der Großstadt adalah salah satu mahakarya film bisu Jerman. Untuk ukuran tahun 1920 – film ini dirilis pada 1927 – karya ini termasuk karya eksperimental. Secara garis besar, film ini menggambarkan Berlin pada suatu hari, dari mulai pagi yang tenang sampai malam yang penuh pilihan hiburan. Film ini tidak memiliki aktor atau aktris, tidak pula memiliki kisah utuh yang berlanjut dari awal sampai akhirnya.
 
Dalam film B-Movie: Lust & Sound in West Berlin Jörg A. Hoppe, Klaus Maeck, Heiko Lange, dan Miriam Dehne mengumpulkan, menyambung-nyambung dan memerankan kembali satu dekade sejarah kota dan musik di Berlin. Mereka dengan dinamis dan radikal menyajikan gambaran mengenai dunia budaya anti arus utama di Berlin saat itu yang ditandai dengan bermunculannya band-band punk rock, seperti “Einstürzende Neubauten“ dan “Die Toten Hosen“, bertemunya seniman-seniman progresif  seperti Nick Cave, Tilda Swinton dan Martin Kippenberger di Berlin, berdirinya klub-klub bawah tanah serta konser-konser musik yang disisipi protes-protes kaum muda sesuai semangat jaman.
 
Sedikit perubahan pada 2017 akan dilaksanakan pada kesempatan “Fokus”. Tidak seperti edisi-edisi sebelumnya, pada tahun ini hanya akan ada satu “Fokus” yang akan menayangkan tiga edisi kompilasi video musik Jerman 2003-2015 Zur Rettung der Pop Kultur (Demi Keselamatan Budaya Pop). Selama satu hari penuh pada suatu akhir pekan di bulan Mei kompilasi video musik yang merupakan kerja sama penting dan istimewa antara Goethe-Institut dan Festival Film Pendek Oberhausen akan ditayangkan kepada penonton Arthouse Cinema diselingi dengan diskusi bersama jurnalis musik dan budaya pop serta pembuat film Indonesia. Acara ini didedikasikan kepada video musik sebagai elemen penting budaya pop di mana pun, baik di Jerman maupun di Indonesia.
 

KEKUATAN SENI PERAN DAN CARA BERCERITA

Tiga film Indonesia yaitu Melancholy is a Movement (Richard Oh), About a Woman (Teddy Soeriaatmadja) dan Mencari Hilal (Ismail Basbeth) adalah karya-karya yang menunjukkan kekuatan cerita dan kekuatan permainan aktor dan aktris yang memerankannya.
 
Joko Anwar, yang seorang sutradara di kehidupan nyata, menjadi pemeran utama Melancholy is a Movement. Tokohnya adalah juga seorang sutradara yang diceritakan sedang mencari inspirasi untuk karya berikutnya dan kemudian membuat sebuah film bertema keagamaan. Kisah Melancholy is a Movement seolah bermain di antara yang nyata atau yang sebenarnya dengan yang setengah fiksi dan murni fiksi.
 
Sementara itu, About a Woman menampilkan permainan apik Tutie Kirana yang memerankan seorang perempuan paruh baya yang hidup sendiri di rumahnya. Kehidupannya cenderung monoton, hanya sesekali diwarnai kehadiran anak dan menantunya, sampai kemudian seorang pemuda yang baru beranjak dewasa hadir menjadi asisten rumah tangganya. Kesepian, kesendirian, sensualitas dan pandangan hidup manusia urban yang cenderung pragmatis bahkan munafik dengan sangat lihai dan cerdas diramu oleh Teddy dalam karyanya ini.
 
Ismail Basbeth dalam Mencari Hilal sebetulnya mengetengahkan hubungan klasik antara anak laki-laki dan ayahnya. Yang istimewa, dalam film ini, konflik batin kedua tokoh utamanya dirangkai dengan perjalanan mencari pembuktian nilai-nilai spiritual yang diyakini masing-masing. Basbeth memilih dua aktor luar biasa untuk karyanya ini yaitu Deddy Sutomo dan Oka Antara. Sutomo sebagai Mahmud, sang ayah, menampilkan dengan luar biasa kekayaan pengalaman seorang aktor melalui gerak dan ekspresi wajahnya. Karya panjang pertama Basbeth ini diproduseri oleh Hanung Bramantyo, salah satu sutradara terpenting Indonesia masa kini.
 

Top