Akses cepat:

Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Tinggal di Jerman
Saat Pertama Bertemu Jerman

culture shock
culture shock | © Colourbox.de

Pertama kali tiba di Jerman, rasanya semangat sekali. Semangat mengenal negaranya, menjelajah kotanya, menikmati musim-musimnya. Tetapi, ‘rumah baruʼ berarti adaptasi baru. Sejak awal banyak budaya Jerman telah membuat saya tertegun.

 
Selain cuaca musim dingin dengan suhu nol mutlak hingga minus, ada hal-hal seru lainnya yang saya hadapi saat baru menetap di negara ini:
 

1.  Bahasa

“Dimana Bumi dipijak, di situ Langit dijunjung”
Bahasa menjadi hal tersulit bagi kebanyakan orang yang baru datang ke Jerman. Selain memang tidak mudah, cara bicara orang Jerman pun juga cepat sekali. Bahkan di kota-kota tertentu, salah satunya Karlsruhe, kota tempat saya menetap hingga saat ini, memiliki dialek khas yang digunakan saat berkomunikasi.
Pemerintah setempat akan memberikan kursus intensif untuk pendatang. Namun tentunya dibutuhkan latihan agar dapat berbicara dengan lancar di tempat umum. Untungnya, orang Jerman sangat menghargai pendatang yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ibu mereka, meskipun terbata-bata dibandingkan jika kita bertutur dalam Bahasa Inggris. Bagaimana jika memang terpaksa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris? Bisa saja, tapi tidak semua orang dapat membalas secara aktif, diantaranya seperti tukang listrik yang datang ke rumah atau juga seorang kasir di pusat perbelanjaan. 
 

2. Suasana Tenang 

Di Indonesia, banyak dijumpai orang mengobrol dan tertawa terbahak-bahak di mana-mana. Bahkan tidak saling mengenal pun bisa saling menyapa. Tidak demikian kiranya di Jerman. Di dalam bus dan trem, orang lebih memilih untuk diam, membaca buku, merajut, atau hanya menikmati situasi jalanan. Di ruang tunggu di sebuah klinik, orang juga lebih suka membaca majalah. Namun ada juga kemiripan; di trem dan bus, para remaja yang bergerombol biasanya berisik juga. Sebagai pendatang, jika sedang naik trem beramai-ramai, kami pasti asyik mengobrol. Tapi tidak sampai terbahak-bahak. Bahasa ibu kita yang seringkali terdengar asing di telinga orang Jerman, diantaranya bisa membuat para lansia tidak merasa nyaman.
 

3. Waktu

Waktu yang dimaksudkan di sini adalah waktu salat bagi umat Islam pada khususnya. Karena di setiap musimnya, jadwal salat lima waktu tidak pernah sama. Tidak akan terdengar pula suara adzan, sekalipun selalu ada masjid/musala di setiap kota. Cukup sulit bagi saya saat pertama kali hendak melaksanakan salat. Untungnya ada aplikasi di ponsel pintar yang menginformasikan jadwal salat lima waktu.


4. Hewan Peliharaan

Banyak orang Jerman menyukai anjing. Bahkan sebagian dari mereka memelihara dan membesarkan anjing, dijadikan sebagai sahabat sehari-hari dalam keluarga. Di jalan, di transportasi umum, di toko-toko, banyak ditemui berbagai ras anjing beserta pemiliknya. Bahkan banyak restoran dan kafe pun yang membolehkan anjing masuk. Bagi saya yang takut akan anjing, akan panik pada awalnya, terutama jika bertemu tetangga yang memiliki anjing. Tidak mudah tentunya untuk mencari alasan bagaimana memberikan pengertian kepada mereka mengapa saya memiliki kesulitan dengan anjing. Namun, anjing di Jerman memang patuh-patuh dan tidak akan menggonggong sembarangan. Mereka juga bersih karena sudah lulus tes kesehatan sehingga bebas penyakit.
 

5. Berbelanja

Berbelanja keperluan hidup sehari-sehari biasa dilakukan di pasar swalayan dan pasar tradisional. Ada juga Toko Asia yang menjual bahan dasar masakan Asia, serta toko Timur Tengah (Arab, Turki, Tunisia) yang menjual daging untuk kaum Muslim. Kegiatan belanja biasanya dilakukan sekali hingga dua kali setiap minggunya, atau disesuaikan kebutuhan. Semuanya serba mandiri; pulang dan pergi menggunakan transportasi trem, bus atau terkadang berjalan kaki. Mulai dari membawa botol bekas untuk ditukar dengan uang belanja, hingga membawa botol minuman berliter-liter dan beras. Jika tinggal di apartemen yang tidak memiliki lift, maka harus siap menggotong seluruh barang melalui banyak anak tangga.

Demikian hal-hal unik yang saya rasakan saat awal tinggal di Karlsruhe. Semoga dapat menjadi gambaran bagi yang akan menetap di Jerman.


Kembali ke LAJUMAN
 

Top