Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Bekerja di Jerman
Bekerja Sebagai Tenaga Ahli Teknologi Informasi (TI) di Jerman

Bekerja Sebagai Tenaga Ahli Teknologi Informasi (TI) di Jerman
© Colourbox

Bekerja di Jerman; mungkin yang pertama terlintas adalah identik dengan peluang bekerja di salah satu perusahaan otomotif bergengsi asal Jerman, seperti BMW, VW, atau bahkan Daimler. Namun beberapa tahun terakhir ini, perusahaan TI pun telah memberikan banyak peluang bagi tenaga ahli dari luar negara Uni Eropa, diantaranya termasuk Indonesia.
 

Sekilas Industri TI di Jerman

Saat ini Jerman, tepatnya kota Berlin, adalah Tech Hub terbesar di Eropa setelah London. Begitu banyak perusahaan rintisan bermunculan dan banyak perusahaan TI asal Jerman yang telah mendominasi pasar Eropa, contohnya adalah Zalando untuk bidang e-commerce. Selain itu, perusahaan teknologi raksasa seperti Amazon dan Google telah memiliki kantor perwakilan di Jerman.
 
Bidang TI di Jerman juga termasuk ke dalam kategori yang sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan lebih banyaknya lowongan kerja yang ditawarkan dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia, terutama untuk kelompok pekerjaan Rekayasa Perangkat Lunak dan Ilmu Data. Oleh karena itu juga, tidak sedikit perusahaan rintisan di Jerman yang bersedia mengeluarkan surat sponsor/jaminan untuk kebutuhan visa dan memilih bahasa Inggris sebagai bahasa tutur sehari-hari di perusahaan, sehingga mereka lebih mudah untuk mempekerjakan tenaga ahli dari berbagai penjuru dunia.
 
Saat ini saya bekerja di Jerman, di perusahaan trivago N.V sebagai Ilmuwan Data di kota Düsseldorf. Di sini saya bertugas membantu tim pemasaran untuk meningkatkan efisiensi dari investasi pemasaran perusahaan dengan memanfaatkan data yang tersedia. 

Budaya Kerja

Berdasarkan pengalaman  selama bekerja di Jerman, terdapat beberapa budaya kerja yang cukup berbeda dari budaya kerja yang kita kenal di Indonesia:
  • Tepat waktu
Waktu sangat berharga. Bahkan terlambat 10 menit pun bukanlah hal yang biasa, karena semua pegawai diharapkan untuk selalu tepat waktu.
  • Terus terang dan kritis dalam menyampaikan pendapat
Ini bisa jadi gegar budaya untuk kita yang memilik budaya kerja yang jauh berbeda. Namun, saya justru melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan keterampilan nonteknis dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, dan menjadikannya sebagai kritik positif.
 
  • Libur panjang & hindari lembur
Di Jerman, terutama di perusahaan TI, lembur bukanlah hal yang lumrah. Jam kerja maksimal di atur di Undang-undang Tenaga Kerja, sehingga perusahaan juga tidak bisa memaksa pegawai untuk lembur berlebihan. Selain itu, pemerintah Jerman juga mewajibkan pekerja untuk cuti 20 hari dalam setahun, atau yang disebut hak cuti tahunan. Di tempat saya bekerja, kami diberikan jatah cuti minimal 25 hari dalam setahun.
 
Meskipun secara budaya sangat berbeda dengan Indonesia, namun Jerman menawarkan banyak pilihan dan peluang bekerja di bidang TI. Berbagai aturan yang telah ditetapkan pemerintah setempat juga memberikan banyak keuntungan bagi pekerja, sehingga Jerman bisa menjadi negara tujuan yang cukup menarik bagi tenaga ahli di bidang TI.

Kembali ke LAJUMAN

Top