Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)
Peter Sternagel© Goethe-Institut Bandung

Jakarta 1968 -1975 | Bandung 1988-1996
Peter Sternagel

Kota Bandung dipenuhi dengan banyak orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi serta intelektualitas yang mencari kemitraan dalam pertukaran tingkat internasional. Di kota seperti Bandung, lembaga budaya asing tidak dipandang sebagai sesuatu hal asing yang hanya diterima secara ramah seperti layaknya di tempat lain, melainkan terintegrasikan ke dalam cerminan dunia sendiri sebagai sesuatu yang penuh warna dan bervariasi.“


Peter Sternagel Peter Sternagel Bild 07 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv

lahir di Waldenburg (Silesia) pada tahun 1933. Setelah belajar akting dan mengambil beberapa peran kecil, dia belajar sejarah di Universitas Ludwig-Maximilian di Munich dan lulus pada tahun 1965 dengan gelar doktor.

Sebagai karyawan Goethe Institute, beliau menduduki berbagai posisi di Indonesia dan Jepang. Ia ditempatkan di Jakarta dari tahun 1968 hingga 1975. Lebih dari sepuluh tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan mengambil alih kepemimpinan institut di Bandung dari tahun 1988 hingga 1996. Di bawah pimpinannya, institut merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa, seniman, dan intelektual pada tahun-tahun terakhir periode Suharto. Persembahan untuk ulang tahun ke-50 Republik Indonesia tahun 1995, ia menyelenggarakan simposium internasional tentang karya dan kehidupan pelukis Jawa Raden Saleh. 

Setelah pensiun, Peter Sternagel pindah ke Berlin dan mengabdikan dirinya untuk menerjemahkan sastra Indonesia. Ia telah menerjemahkan karya-karya penulis ternama seperti Umar Kayam, Ayu Utami, Andrea Hirata, Wiji Thukul dan Afrizal Malna. Peter Sternagel meninggal pada 5 April 2020 pada usia 86 tahun di Berlin. Goethe-Institut Indonesia akan mengenang Bapak Peter Sternagel dengan rasa terima kasih. 

Selamat Jalan Pak Peter


 

Peter Sternagel 1989 über seine Arbeit am Goethe-Institut Bandung:

„Bahwa Goethe-Institut Bandung terus menerima kunjungan dan animo yang besar, tidak hanya berasal dari apa yang kami tawarkan namun terletak pada kota Bandung dan masyarakatnya itu sendiri. Pertama, bahwa Bandung merupakan sebuah kota mahasiswa yang kalangan mudanya sangat kritis dan haus akan pengetahuan. Kedua, masyarakat Bandung terbuka terhadap hal baru dibuktikan melalui kemitraan dengan kota Braunschweig yang pertama kali dalam sejarahnya dan kembali ke inisiatif masyarakat Bandung sendiri di awal 1950-an."

  • Peter Sternagel dalam acara jamuan di Goethe-Institut Bandung-1989 © Goethe-Instituts Bandung - Fotoarchiv
    Peter Sternagel dalam acara jamuan di Goethe-Institut Bandung-1989
  • Acara perpisahan Prof. Dieter Mack, Lektor tamu di IKIP (kanan) di kediaman Peter Sternagel - 1990 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv
    Acara perpisahan Prof. Dieter Mack (kanan), Lektor Tamu di IKIP di kediaman Peter Sternagel - 1990
  • Kunjungan Peter Sternagel (ke-2 dari kanan) dan Dr. Klaus Schulz (paling kanan) di sebuah stasiun radio swasta di Bandung - 1990 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv
    Kunjungan Peter Sternagel (ke-2 dari kanan) dan Dr. Klaus Schulz (paling kanan) di sebuah stasiun radio swasta di Bandung - 1990
  •  Peter Sternagel (ke-2 dari kiri) pada acara seminar di IKIP Bandung - Oktober 1990 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv
    Peter Sternagel (ke-2 dari kiri) pada acara seminar di IKIP Bandung - Oktober 1990
  • Peter Sternagel (paling kanan) pada sebuah acara kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Theodor Wallau (tengah) - 1991 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv
    Peter Sternagel (paling kanan) pada sebuah acara kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Theodor Wallau (tengah) - 1991
  • Peter Sternagel (kanan bawah) bersama para karyawan Goethe-Institut Bandung sebelum berangkat tamasya - 1992 © Goethe-Institut Bandung - Fotoarchiv
    Peter Sternagel (kanan bawah) bersama para karyawan Goethe-Institut Bandung sebelum berangkat tamasya - 1992

"Saya bekerja dengan Pak Peter selama sembilan tahun di Goethe-Institut Bandung. Dia sangat teliti di semua bidang pekerjaan dan sangat menyukai budaya Indonesia. Dia adalah sosok yang baik dan selalu membantu. Saya merindukannya ..." - Rostika Purnomo, mantan Kepala Bagian Administrasi

"Banyak cerita, suka dan duka selama kami bekerja bersama di Goethe-Institut Bandung. Beliau seorang pimpinan, seorang guru, seorang seniman, seorang teman dan individu yang penuh perhatian, penuh kasih dan memiliki rasa sosial yang tinggi. Beliau tidak pernah berhenti untuk berkarya dan tetap setia menunjukan kecintaannya terhadap Indonesia."Sulastri Madjid, mantan Asisten Program

Top