Dealing in Distance – Pameran
Festival Mini|Dealing in Distance adalah festival mini keliling yang mengeksplorasi berbagai pengertian tentang diaspora, migrasi, dan identitas ditinjau dari beragam sudut pandang.
- Bahasa Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
- Harga Gratis
Festival ini hadir di Bali dengan mengusung konsep “KAMU DARI MANA (WHERE ARE YOU FROM?)”, yang berakar dari telaah filsuf Kwame Anthony Appiah terkait pertanyaan tersebut. Seiring dengan berjalannya cerita dan sudut pandang yang berkelindan, program ini mengundang Anda untuk mengalami praktik artistik yang lahir dari perjumpaan—yang kerap kali timpang dan tak terurai—antara seniman diaspora Asia Tenggara kontemporer, seniman Indonesia, dan seniman Bali. Melalui perjumpaan tersebut, isu identitas dijelajahi dengan penuh perhatian, sembari belajar mendengarkan melampaui yang kasatmata melalui praktik collective home-making, upaya merebut kembali makna “rumah”, serta pembentukan komunitas yang terikat oleh kepekaan Bersama, sekaligus mengusulkan cara-cara alternatif terkait kehidupan bersama.
Tur pameran akan diadakan di Masa Masa pada Sabtu, 24 Januari 2026, pukul 16.30 WITA.
Informasi Pameran:
CushCush Gallery
Jl. Teuku Umar Gang Rajawali no. 1A, Denpasar
22–25 Januari 2025
10.00–21.00 WITA
Made in Rice
Seniman: Thu Hiền Hoàng
Instalasi video multi-kanal, full HD, warna, stereo, 2021, durasi 21 menit
Made in Rice merupakan video performans multi-kanal karya Hiền Hoàng yang berangkat dari pengalamannya menghadapi diskriminasi rasial di Stasiun sentral Hamburg. Dengan menggunakan beras sebagai metafora, karya ini menantang citra Barat terhadap tubuh-tubuh Asia serta mitos yang berkepanjangan tentang “imigran yang baik”.
Penampil: Soon-Hwoa Jeong, Kuoko, Moe Gotoda
Sinematografer & Kamera Utama: Rike Malottke
Kamera Kedua: Robert Thomann
Tata Cahaya: Peter Würzer
Perekaman & Instalasi Suara: Marcela Leon Espinoza
Komposer Musik: Tam Thi Pham
Kostum: Sanja Philipp, Cecile de Buc
Tata Rias: Sanja Philipp
Penyunting & Pascaproduksi: Oona Braaker
Desain & Mastering Suara: Max Gausepohl
Asisten: Hani Wibowo, Ivan Lüt, Camilo Bueno
Dukungan Khusus: Jasmin Luu
Proyeksi: Patric Pappenberg, Sören Koswig
Konstruksi Instalasi: Daniel Pietschmann
Naskah, Desain Set, Sutradara & Produser: Hiền Hoàng
Didanai oleh Hamburg Ministry for Culture and Media, 2021
Fountains of a High Mountain, a Sweet Dream
Seniman: Phạm Minh Đức
Didukung oleh Haus der Kulturen der Welt, Berlin
Satu meja, dua kursi, air mancur porselen, taplak meja, aroma bunga lili, air, suara, anggrek keramik, 2024
Durasi 25 menit (karya suara)
Fountains of a High Mountain, a Sweet Dream mengundang perenungan kolektif atas impunitas di tengah penghapusan sejarah. Dengan menelusuri kerapuhan dan perlawanan, karya ini menyinggung ketidakadilan reproduktif yang dialami para buruh kontrak Vietnam di Jerman Timur—perempuan-perempuan yang memikul duka seorang diri, jauh dari kampung halaman dan orang-orang yang mereka cintai.
“Willst du mit uns gehen?” (“Would you come with us?”)
Seniman: Zelin Seah
Media campuran pada sarung duvet, tandan kosong kelapa sawit, fotografi, 2017/2025
Karya ini merefleksikan pengalaman sebagai migran Asia Tenggara di Jerman—tampak dalam pekerjaan, namun tak terlihat dalam tatanan sosial. Berangkat dari selimut yang menutupi tubuh-tubuh tunawisma, seniman mengumpulkan dan mengolah ulang material tersebut menjadi instalasi yang menggemakan pengalaman ketercerabutan. Diisi dengan limbah kelapa sawit dan materi-materi yang ditemukan, selimut-selimut ini mencerminkan pekerja Asia Tenggara yang kerap terabaikan namun sangat penting, sekaligus menyingkap ketegangan antara kebijakan ekologi UE dan realitas yang dialami.
—Disusun dan diringkas dari paparan seniman
What remains, reminds
Seniman: Nindya Nareswari
Instalasi cahaya berdurasi menggunakan kertas beras sianotipe dan beras mentah, 2026
What remains, reminds memanfaatkan pangan dan cahaya untuk menjembatani jarak antara dua rumah. Kertas beras menjadi wadah ingatan yang rapuh sekaligus tangguh, menyimpan jejak-jejak sinar matahari. Cahaya yang terus berubah mengisyaratkaan kehadiran yang absen melalui apa yang tersisa; gerakannya yang halus mengubah ketidak-kefanaan menjadi ritme, sekaligus undangan untuk merangkul kefanaan hidup.
Masa Masa
Jl. Subak Telaga I No.9, Gianyar
22–25 Januari 2025
09.00–22.00 WITA
Distant Memories of the Void
Seniman: Bilawa Ade Respati & Ernese Csornai
Saron Pelog, Demung Pelog, Peking Pelog, solenoid, papan Arduino, proyektor dan layar, 2024
Durasi ±30 menit, loop
Distant Memories of the Void merupakan sebuah automaton gamelan dan instalasi visual wayang, sebuah pertunjukan tanpa penampil. Melalui bebunyian, video, dan cahaya, karya ini membangkitkan ingatan akan “One Great Void”, yang hanya dapat dijangkau melalui metafora, seraya membayangkan sebuah ritual simbolik tempat spiritualitas hadir tanpa tubuh manusia.
Konsep umum dan musik: Bilawa Ade Respati
Konsep visual dan video: Emese Csornai
Teknologi: Adrian Benigno Latupeirissa
Diciptakan dengan dukungan dana proyek dari Initiative Neue Musik (2024) serta dukungan Haus der Indonesischen Kulturen di Berlin.
Muyas (Inheritance)
Seniman: Jules Leaño
Video mp4, film 16mm hasil pemindaian, 2024
Durasi 6 menit 52 detik
Muyas menggunakan alih-emulsi film dari budaya populer, foto keluarga, makanan, serta benda-benda kecil untuk membangun Filipina imajiner versi sang seniman, sebuah citra yang dibentuk oleh kisah-kisah keluarga dan media Barat dengan perspektif orientalis. Narasi suara bergulat dengan bahasa ibunya, menggema pencarian seniman akan bahasa serta pengalaman diaspora yang terpencar.
Film ini telah dipresentasikan di berbagai festival, antara lain Jihlava International Documentary Festival 2024 dan Alchemy Film and Moving Image Festival 2025, serta diputar di berbagai kota di Eropa dan Asia Tenggara.
“Iba yon dagat” ("on the other side of that sea")
Seniman: Jules Leaño
Instalasi — rekaman temuan Super 8 hasil pemindaian, telepon yang dimodifikasi, furnitur, 2026
Loop / durasi 20 menit
Iba yon dagat merefleksikan migrasi Filipina yang dibentuk oleh warisan kolonial serta kebijakan ekonomi pada masa rezim Marcos, di mana menjadi OFW (Overseas Filipino Worker) kerap dipandang sebagai satu-satunya jalan. Melalui narasi keluarga, film yang mengalami pelapukan, serta citra perjalanan ke Amerika Serikat yang perlahan dihancurkan oleh bakteri, karya ini merenungkan cinta, pengorbanan, dan emosi-emosi sunyi yang dibawa melintasi samudra.
hand to hand, a conversation
Seniman: Woven Kolektif (Mashara Wachjudy dan Bridie Gillman)
Kain terkumpul, baja, rantai, 2021
Hello From Pakem
Seniman: Woven Kolektif (Kartika Suharto-Martin dan Kyati Suharto-Martin)
Komposisi suara, batu bata, tikar anyaman, pengeras suara, 2021
Dikembangkan melalui pertukaran kolaboratif antaranggota, karya-karya taktil dan audio ini membentuk garis-garis keterhubungan dalam praktik kolektif mereka. Presentasi ini menciptakan ruang tersendiri yang mengundang pengunjung untuk menghabiskan waktu, mendengarkan, dan mencermati detail-detailnya. Karya hand to hand, a conversation oleh Bridie Gillman dan Mashara Wachjudy terbentang melingkar mengitari ruang, membentuk keintiman selayaknya pelukan lengan seorang sahabat atau anggota keluarga, merangkul pengunjung untuk menyimak komposisi suara Hello From Pakem karya Kartika dan Kyati Suharto-Martin. Dengan demikian, tercipta sebuah ruang untuk menelusuri ingatan—membayangkan pertemuan-pertemuan beserta percakapan yang menyertainya.
Tur pameran akan diadakan di Masa Masa pada Sabtu, 24 Januari 2026, pukul 16.30 WITA.
Informasi Pameran:
CushCush Gallery
Jl. Teuku Umar Gang Rajawali no. 1A, Denpasar
22–25 Januari 2025
10.00–21.00 WITA
Made in Rice
Seniman: Thu Hiền Hoàng
Instalasi video multi-kanal, full HD, warna, stereo, 2021, durasi 21 menit
Made in Rice merupakan video performans multi-kanal karya Hiền Hoàng yang berangkat dari pengalamannya menghadapi diskriminasi rasial di Stasiun sentral Hamburg. Dengan menggunakan beras sebagai metafora, karya ini menantang citra Barat terhadap tubuh-tubuh Asia serta mitos yang berkepanjangan tentang “imigran yang baik”.
Penampil: Soon-Hwoa Jeong, Kuoko, Moe Gotoda
Sinematografer & Kamera Utama: Rike Malottke
Kamera Kedua: Robert Thomann
Tata Cahaya: Peter Würzer
Perekaman & Instalasi Suara: Marcela Leon Espinoza
Komposer Musik: Tam Thi Pham
Kostum: Sanja Philipp, Cecile de Buc
Tata Rias: Sanja Philipp
Penyunting & Pascaproduksi: Oona Braaker
Desain & Mastering Suara: Max Gausepohl
Asisten: Hani Wibowo, Ivan Lüt, Camilo Bueno
Dukungan Khusus: Jasmin Luu
Proyeksi: Patric Pappenberg, Sören Koswig
Konstruksi Instalasi: Daniel Pietschmann
Naskah, Desain Set, Sutradara & Produser: Hiền Hoàng
Didanai oleh Hamburg Ministry for Culture and Media, 2021
Fountains of a High Mountain, a Sweet Dream
Seniman: Phạm Minh Đức
Didukung oleh Haus der Kulturen der Welt, Berlin
Satu meja, dua kursi, air mancur porselen, taplak meja, aroma bunga lili, air, suara, anggrek keramik, 2024
Durasi 25 menit (karya suara)
Fountains of a High Mountain, a Sweet Dream mengundang perenungan kolektif atas impunitas di tengah penghapusan sejarah. Dengan menelusuri kerapuhan dan perlawanan, karya ini menyinggung ketidakadilan reproduktif yang dialami para buruh kontrak Vietnam di Jerman Timur—perempuan-perempuan yang memikul duka seorang diri, jauh dari kampung halaman dan orang-orang yang mereka cintai.
“Willst du mit uns gehen?” (“Would you come with us?”)
Seniman: Zelin Seah
Media campuran pada sarung duvet, tandan kosong kelapa sawit, fotografi, 2017/2025
Karya ini merefleksikan pengalaman sebagai migran Asia Tenggara di Jerman—tampak dalam pekerjaan, namun tak terlihat dalam tatanan sosial. Berangkat dari selimut yang menutupi tubuh-tubuh tunawisma, seniman mengumpulkan dan mengolah ulang material tersebut menjadi instalasi yang menggemakan pengalaman ketercerabutan. Diisi dengan limbah kelapa sawit dan materi-materi yang ditemukan, selimut-selimut ini mencerminkan pekerja Asia Tenggara yang kerap terabaikan namun sangat penting, sekaligus menyingkap ketegangan antara kebijakan ekologi UE dan realitas yang dialami.
—Disusun dan diringkas dari paparan seniman
What remains, reminds
Seniman: Nindya Nareswari
Instalasi cahaya berdurasi menggunakan kertas beras sianotipe dan beras mentah, 2026
What remains, reminds memanfaatkan pangan dan cahaya untuk menjembatani jarak antara dua rumah. Kertas beras menjadi wadah ingatan yang rapuh sekaligus tangguh, menyimpan jejak-jejak sinar matahari. Cahaya yang terus berubah mengisyaratkaan kehadiran yang absen melalui apa yang tersisa; gerakannya yang halus mengubah ketidak-kefanaan menjadi ritme, sekaligus undangan untuk merangkul kefanaan hidup.
Masa Masa
Jl. Subak Telaga I No.9, Gianyar
22–25 Januari 2025
09.00–22.00 WITA
Distant Memories of the Void
Seniman: Bilawa Ade Respati & Ernese Csornai
Saron Pelog, Demung Pelog, Peking Pelog, solenoid, papan Arduino, proyektor dan layar, 2024
Durasi ±30 menit, loop
Distant Memories of the Void merupakan sebuah automaton gamelan dan instalasi visual wayang, sebuah pertunjukan tanpa penampil. Melalui bebunyian, video, dan cahaya, karya ini membangkitkan ingatan akan “One Great Void”, yang hanya dapat dijangkau melalui metafora, seraya membayangkan sebuah ritual simbolik tempat spiritualitas hadir tanpa tubuh manusia.
Konsep umum dan musik: Bilawa Ade Respati
Konsep visual dan video: Emese Csornai
Teknologi: Adrian Benigno Latupeirissa
Diciptakan dengan dukungan dana proyek dari Initiative Neue Musik (2024) serta dukungan Haus der Indonesischen Kulturen di Berlin.
Muyas (Inheritance)
Seniman: Jules Leaño
Video mp4, film 16mm hasil pemindaian, 2024
Durasi 6 menit 52 detik
Muyas menggunakan alih-emulsi film dari budaya populer, foto keluarga, makanan, serta benda-benda kecil untuk membangun Filipina imajiner versi sang seniman, sebuah citra yang dibentuk oleh kisah-kisah keluarga dan media Barat dengan perspektif orientalis. Narasi suara bergulat dengan bahasa ibunya, menggema pencarian seniman akan bahasa serta pengalaman diaspora yang terpencar.
Film ini telah dipresentasikan di berbagai festival, antara lain Jihlava International Documentary Festival 2024 dan Alchemy Film and Moving Image Festival 2025, serta diputar di berbagai kota di Eropa dan Asia Tenggara.
“Iba yon dagat” ("on the other side of that sea")
Seniman: Jules Leaño
Instalasi — rekaman temuan Super 8 hasil pemindaian, telepon yang dimodifikasi, furnitur, 2026
Loop / durasi 20 menit
Iba yon dagat merefleksikan migrasi Filipina yang dibentuk oleh warisan kolonial serta kebijakan ekonomi pada masa rezim Marcos, di mana menjadi OFW (Overseas Filipino Worker) kerap dipandang sebagai satu-satunya jalan. Melalui narasi keluarga, film yang mengalami pelapukan, serta citra perjalanan ke Amerika Serikat yang perlahan dihancurkan oleh bakteri, karya ini merenungkan cinta, pengorbanan, dan emosi-emosi sunyi yang dibawa melintasi samudra.
hand to hand, a conversation
Seniman: Woven Kolektif (Mashara Wachjudy dan Bridie Gillman)
Kain terkumpul, baja, rantai, 2021
Hello From Pakem
Seniman: Woven Kolektif (Kartika Suharto-Martin dan Kyati Suharto-Martin)
Komposisi suara, batu bata, tikar anyaman, pengeras suara, 2021
Dikembangkan melalui pertukaran kolaboratif antaranggota, karya-karya taktil dan audio ini membentuk garis-garis keterhubungan dalam praktik kolektif mereka. Presentasi ini menciptakan ruang tersendiri yang mengundang pengunjung untuk menghabiskan waktu, mendengarkan, dan mencermati detail-detailnya. Karya hand to hand, a conversation oleh Bridie Gillman dan Mashara Wachjudy terbentang melingkar mengitari ruang, membentuk keintiman selayaknya pelukan lengan seorang sahabat atau anggota keluarga, merangkul pengunjung untuk menyimak komposisi suara Hello From Pakem karya Kartika dan Kyati Suharto-Martin. Dengan demikian, tercipta sebuah ruang untuk menelusuri ingatan—membayangkan pertemuan-pertemuan beserta percakapan yang menyertainya.