Danarto (l. 1940, Sragen; m. 2018, Jakarta)
Membangun Keluarga, 1962
Cat minyak di atas kanvas87 x 119 cm
Koleksi Galeri Nasional Indonesia
Dalam tradisi Jawa, ungkapan sedulur papat limo pancer dekat hubungannya dengan keluarga dan kelahiran. Dipercayai secara turun-temurun, ungkapan itu diyakini sebagai pedoman hidup, yang menggambarkan empat sedulur atau saudara (kakang kawah/air ketuban, ade ari-ari/plasenta, getih/darah, puser/tali pusar) yang melengkapi pancer atau diri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.
Tradisi ini digodok Danarto bersama bekal pengalamannya menjadi penata artistik dalam film adaptasi lakon wayang, Lahirnya Gatotkaca (D. Djajakusuma, 1960). Di sisi kiri kanvas, terlihat dua sosok hitam serupa bayi di antara dua sosok merah dan jambon yang lebih besar —orangtua mereka. Tepat di perut keduanya, tergambar pusaran dengan saluran di bawahnya —simbol kelahiran. Bersama, mereka menggenapi kehadiran ikon-ikon dalam lakon wayang Jawa, yakni boneka gunungan dan naga, di sisi kanan kanvas.
Pengolahan lakon yang kerap dianggap tradisi yang baku, kaku, dan jauh dari semangat zaman dengan kerja-kerja yang menggunakan medium teknologi mutakhir —dalam hal ini film— adalah salah satu kekhasan praktik artistik Danarto. Kompleksitas pengolahan bahan, rujukan, dan medium ini melatari kecenderungan kata kunci 'aneh-aneh', bahkan kadang bertentangan, yang dikenakan pada praktik artistik Danarto, yaitu sufisme, realisme magis, surrealisme, dan absurdisme. Walaupun kekaryaannya berawal dalam periode yang kerap disebut sebagai masa keemasan kebudayaan Indonesia, Danarto memilih untuk tidak terlibat dalam polarisasi ‘seni untuk rakyat dan seni bukan untuk rakyat.’
Tentang Seniman
Danarto dikenal khalayak luas sebagai sastrawan, meski rekam jejak artistiknya sejatinya beragam. Alumnus Jurusan Seni Lukis di ASRI ini juga melakoni monolog, menulis naskah, menyutradarai teater, menjadi pengarah artistik untuk produksi film, dan, juga terus akrab dengan gambar, dan instalasi. Pada 1959, ia turut membidani pendirian Sanggarbambu sebagai wadah berkesenian lintas disiplin di Yogyakarta. Dalam bermacam karyanya, Danarto mengedepankan proses serta peleburan jarak antara pemirsa dan pencipta.Informasi selengkapnya tentang: