Tisna Sanjaya (l. 1958, Bandung)

Teater 5 Agustus 1994

Etsa
42 x 52 cm, edisi 3/20

Koleksi Galeri Nasional Indonesia


Bagi Tisna, seni etsa adalah jalannya untuk mencari pencerahan dalam memaknai kehidupan. Torehan ujung jarum baja di permukaan pelat logam yang terpapar aspal hitam adalah upaya untuk memperoleh cahaya dalam dunia yang gelap.

Melalui etsa Teater 5 Agustus (1994), Tisna Sanjaya merujuk peristiwa bertanggal sama di Kampus ITB pada 1989. Sejumlah mahasiswa berdemonstrasi menentang kehadiran Mendagri Jenderal (Purn.) Rudini yang membuka Kursus Ideologi Pancasila, yang juga dikenal sebagai Penataran P4. Mereka mengorganisasi sejumlah aksi, dari pasang poster, bakar ban, baca petisi, hingga walk out saat penataran. Akibatnya, sore itu, sekelompok tentara masuk ke kampus dan menangkap sejumlah mahasiswa. Hasil pemeriksaan Kodim memutuskan enam mahasiswa harus menghadap pengadilan, yang berujung pada pemecatan oleh rektor ITB dengan tuduhan pencemaran citra kampus yang ‘ramah’.

Tisna meminjam citra The Last Supper karya Leonardo da Vinci untuk menggambarkan proses pengadilan yang tidak adil kala itu. Ia menyulap suasana perjamuan yang khusyuk menjadi suatu momen teatrikal yang mencekam. Di pusat bidang gambar, terdapat sesosok yang terperangkap di balik jeruji kayu, yang dihakimi oleh berbagai makhluk di sekitarnya. Sosok serupa Yesus, alih-alih sebagai juru selamat, hadir sebagai sosok berkuasa yang mengamini kekacauan di hadapannya.

 

Tentang Seniman

Tisna akrab mengkritisi situasi sosial-politik di sekitarnya. Melalui etsa-etsanya, lulusan Seni Grafis ITB ini banyak mengungkap berbagai permasalahan yang ia temui di ruang hidupnya. Perjalanan artistik Tisna sendiri terus meluas. Ia menjelajahi berbagai bentuk keterlibatan sosial melalui seni pertunjukan, lukisan, instalasi, dan sebagainya. Pada 2008, ia membangun Imah Budaya (Ibu) Cigondewah, sebuat pusat kebudayaan yang meninjau, menyelidiki, dan merawat tradisi masyarakat bantaran sungai setempat.

Informasi selengkapnya tentang: