Siti Ruliyati (l. 1930, Jombang)
Seri I: Perempuan Bekerja di Sawah, 1958
Seri III: Sekilas dari Jendela Taksi, 1988
Pensil di atas kertasDimensi bervariasi
Koleksi Galeri Nasional Indonesia
Tiga seri sketsa Ruliyati yang dipamerkan disini dibuat pada periode yang berbeda. Yang pertama, dari 1967, Ruliyati menggambarkan para perempuan yang sedang bekerja di sawah padi. Salah satu metode yang paling ditekankan dalam pendidikan seni ASRI adalah menggambar di tempat. Bahkan, konon, dalam setahun, mahasiswa ditugaskan untuk menggambar sampai 3000 sketsa dari hasil pengamatan langsung itu. Sketsa-sketsa dalam seri ini disikapi oleh Ruliyati sebagai karya yang berdiri sendiri daripada sebagai sebuah studi. Dengan medium sketsa, Ruliyati memperkuat objek yang ia gambarkan sebagai kenyataan yang benar-benar ia lihat. Ruliyati hadir langsung untuk mengamati, namun ia menghilangkan dirinya dengan tidak menambah atau mengurangi pemandangan yang ia amati dengan perubahan perspektif seperti dalam karya-karya lukisannya.
Seri yang kedua dan ketiga, dibuatnya pada 1988. Hadirnya pemandangan urban dengan nafas pembangunan bisa kita baca sebagai periode yang berbeda dalam hidup Ruliyati. Masa dimana ia menyusuri jalanan Jakarta untuk pergi ke rumah salah satu murid kelompok gambarnya atau mengikuti aktivitas-aktivitas lingkaran kolektor karyanya seperti Adam Malik atau Fuad Hassan. Walaupun sudah berumur lebih dari separuh abad, Ruliyati tetap sibuk dengan buku gambar dan pensilnya dalam perjalanan sehari-harinya. Selalu pergi dengan taksi, Ruliyati kerap lebih berkonsentrasi dengan gambarnya daripada tujuan perjalanannya, sampai-sampai pernah diberitakan, “untuk merampungkan satu obyek, bisa muter-muter 5-6 kali. Gara-gara itu ia pernah di tilang dan hampir kena derek.”
Tentang Seniman
Ruliyati dikenal memiliki estetika rupa yang serba kontras. Sapuan pensilnya kuat, tegang, kaku, dan keras, tapi komposisinya begitu lembut dan feminin. Alumni ASRI angkatan pertama ini menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat dalam seluruh kekaryaannya. Gambar-gambarnya diakrabi publik melalui sejumlah majalah, seperti Budaya Jaya, Indonesia, dan Zenith. Ruliyati hidup dari praktik artistiknya, mulai dari melukis, menggambar dan berjualan kartu pos serta kartu ucapan, sampai membuka kursus melukis.Informasi selengkapnya tentang: