Perkembangan Gim Sekilas Lintas Ekosistem Gim di Indonesia

Game: Tahu Bulat
Foto (Auschnitt): Game, Tahu Bulat | Foto: © Own Games

Sebagai homo ludens, pada hakikatnya manusia merupakan makhluk bermain. Permainan/game sebagai salah satu produk budaya populer sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita, demikian juga dengan perangkat pendukungnya. Kini, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi, ekosistem game di Indonesia pun bergerak menuju industrialisasi.
 

Digemari oleh semua kalangan usia, potensi bisnis game menjadi amat menjanjikan. Walaupun sejak pertengahan periode 1980-an game yang dioperasikan di console Nintendo, Sega, dan Sony mulai marak dikonsumsi masyarakat luas, namun geliat pengembang game asal Indonesia sendiri baru dirasakan pada tahun 1999. Matahari Studios menjadi pengembang game lokal pertama di Indonesia. Mempekerjakan talenta lokal dalam membuat game, Matahari Studio banyak memproduksi game pesanan dari negara lain (seperti misalnya game Need for Speed untuk perusahaan Electronic Arts). Sejak berdirinya Matahari Studios, pengembang game lokal pun mulai banyak bermunculan.
 
Selanjutnya di era tahun 2000-an, mulai dikenal game online dan game publisher. Sebagai perusahaan atau individu yang memiliki hak eksklusif untuk menerbitkan atau memasarkan judul-judul game tertentu, materi yang ada pun pada saat itu masih didominasi oleh produk buatan luar negeri. Salah satu game online yang sempat menghebohkan publik di Indonesia adalah Ragnarok Online, hasil kreasi Gravity Corporation. PT Lyto Datarindo Fortuna menjadi perusahaan Indonesia yang menerbitkan hasil karya perusahaan game yang bermarkas di Korea Selatan.
 
Di sini mulai tampak geliat cikal bakal industri game di Indonesia. Tantangan terberat pada masa itu adalah mengembangkan game dengan copyright sendiri. Walaupun terdapat sejumlah talenta mumpuni bermunculan sebagai sumber daya manusia yang mulai menggeluti dunia game secara profesional, biaya pengembangan setiap judul game masih tergolong cukup tinggi. Pertengahan tahun 2000-an sejumlah pengembang game lokal tumbuh berkembang , layaknya seperti Matahari Studios – masih tergantung akan pesanan pembuatan game dari negara lain. Pada masa ini, game-game berbasis flash-lah yang mendominasi hingga tahun 2011.
 
Foto (detail): Game, Juragan Terminal Foto (detail): Game, Juragan Terminal | © Own Games & Agate Studio
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, peluang bisnis pun semakin terbuka lebar. Pengembang game dengan copyright mereka sendiri menjadi jamak hingga sekarang, bersamaan dengan pertumbuhan penggunaan smartphone di dunia.  Pada tahun 2009, Agate Studio didirikan di Bandung dan pada tahun 2010-2015 pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyokong berbagai acara yang berkaitan dengan kegiatan pengembang game. Perhelatan akbar Indonesia Bermain digelar pada tahun 2012, yang berlanjut dengan dibentuknya Asosiasi Game Indonesia (AGI) pada tahun 2013. Menyusul dengan diberlakukannya sistem rating game Indonesia pada bulan Juni 2016 lalu, maka setiap tanggal 8 Agustus diresmikan sebagai Hari Game Indonesia.
 
Sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan akan konten (terutama konten hiburan) membuat jumlah pengembang game di Indonesia meningkat, terutama di kota-kota besar. Saat ini tercatat ada sekitar 80 pengembang game aktif yang tersebar di penjuru Indonesia, di antaranya di Bandung, Jakarta Yogyakarta, Surabaya, Salatiga dan Bali. Hampir semua pengembang game di kota-kota ini sudah meluncurkan produk secara global melalui jalur distribusi iStore dan Playstore. Adapun prestasi dari karya-karya mereka yang telah dicapai adalah:

  • 2014 : Icon Pop Quiz memperoleh Rank #1 di Google Playstore
  • 2015 : Tebak Gambar memperoleh Rank #1 di Google Playstore, sementara Dreadout berhasil menembus jajaran premium games di Steam
  • 2016 : Tahu Bulat memperoleh Rank #1 in Google Playstore 
Bersamaan dengan waktu sejumlah Institusi Pendidikan di Indonesia membentuk jurusan teknologi informasi, spesialisasi bidang Pengembang Game. Hal ini sangat menunjang keberadaan dan pertumbuhan dunia game. Dari sudut pandang pasar, potensi terbesar Indonesia dapat dikatakan terletak pada besarnya jumlah pengguna media sosial dan smartphone. Walaupun belum mencapai tingkat layaknya di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, ataupun Amerika Serikat dimana game diproduksi dan digunakan, justru ekosistem game di Indonesia tumbuh pesat dan melangkah pasti. Tak hanya komunitas-komunitas game yang bermunculan bak jamur di musim hujan, ide-ide kreatifpun selalu bermunculan. Acara-acara untuk mengapresiasi, merayakan, dan menumbuhkembangkan ekosistem game lokal pun semakin tumbuh pesat, seperti halnya Indonesia Game Show, Game Development Gathering dan Popcon Asia.
 
Semakin mendekati wujud industri, ekosistem game di Indonesia masih harus menjawab berbagai tantangan. Walaupun jumlah game kreasi lokal semakin meningkat, sejumlah game luar masih tetap mendominasi market share. Dipandang sebagai kreator dengan ciri khas konten lokal, Indonesia sendiri masih dianggap sebagai pasar potensial dan subkontraktor.  Indonesia amat berpotensi untuk mewujudkan industri game yang utuh. Dengan biaya pembuatan game yang relatif lebih ekonomis bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, kita pun memiliki sumber daya manusia dengan segala kreativitas dan kreasinya yang mumpuni. Serta banyaknya pengguna internet dan smartphone juga dapat diberdayakan sebagai casual game players.

Game: Football Saga Game: Football Saga | © Agate Studio Pada hakekatnya diperlukan kolaborasi intermedia antara game (digital) dengan media tautan lainnya seperti diantaranya komik, animasi, boardgame, cardgame, merchandise, film, e-commerce, fashion, musik dan berbagai media lainnya. Hanya dengan berkolaborasilah ekosistem game Indonesia dapat maju bersama-sama dengan lintas media lainnya, melangkah semakin dekat kepada industri game yang sesungguhnya. Bukan pekerjaan yang mudah dan juga merupakan tantangan besar, namun juga bukan pekerjaan yang tidak mungkin… dan saat ini adalah saat yang tepat untuk mulai membangun jejaring dan kolaborasi positif yang akan menunjang kemajuan serta masa depan industri game Indonesia kelak nanti.