Akses cepat:

Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

(Re)Kreasi dalam Isolasi
Pertebal Iman Perkuat Imun

Pertebal Iman Perkuat Imun
© Bani Nasution

Pada 15 Maret 2020 Walikota Surakarta (Solo) FX Hadi Rudyatmo menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kota kami setelah ada dua orang dinyatakan positif Covid19. ​Saat itu ibuku tinggal di rumah sendiri, sementara aku sedang berkegiatan di Yogyakarta. Ayahku baru saja wafat sebulan sebelumnya, sehingga aku langsung merasa cemas dan memutuskan untuk segera pulang dan menjalani karantina mandiri di rumah.

Pada minggu pertama masa karantina aku merasa seperti tinggal di kota mati. Meskipun begitu, suasana yang lebih sepi menimbulkan ketenangan tersendiri. Matahari bersinar cerah, saat hari berganti malam kita bisa mendengar suara berbagai serangga. Bila hujan datang, suhu tidak terlalu dingin. Tetapi, setiap hari aku tetap cemas. Aku takut kalau ibuku terserang flu dan batuk. Aku dicekam kecurigaan jangan-jangan ibu terserang Covid19, bukan flu biasa. Horor bagiku ketika tubuh kita sakit tapi kita tidak tahu sakit apa ini dan lebih horor lagi bila ternyata ahli medis belum punya obatnya.
 
Seorang ibu pedagang di Pasar Beringharjo Yogyakarta menjual “Empon-empon Corona”. Foto ini saya unggah di Instagram saya dan mendapat banyak respon emotikon tertawa dari teman-teman saya. Saat itu - sekitar pertengahan Maret 2020 - isu pandemi Covid19 belum semengerikan sekarang. Seorang ibu pedagang di Pasar Beringharjo Yogyakarta menjual “Empon-empon Corona”. Foto ini saya unggah di Instagram saya dan mendapat banyak respon emotikon tertawa dari teman-teman saya. Saat itu - sekitar pertengahan Maret 2020 - isu pandemi Covid19 belum semengerikan sekarang. | © Bani Nasution Di tengah ketakutan ini, aku teringat pengalamanku syuting di rumah Mas Bram (Bramantyo Prijosusilo) di dekat Ngawi. Di sana aku pernah diberi ilmu cara bikin jamu namanya Golden Paste. Salah satu bahan ramuan ini adalah kunyit yang berkhasiat memperkuat imunitas. Aku percaya, tubuh kita bisa menyembuhkan dirinya sendiri jika sistem imunitas kita bagus. Maka segeralah aku meluncur ke Pasar Beringharjo di Yogyakarta. Kenapa harus ke Yogyakarta segala? Sekalian menjenguk pacarku yang kuliah di sana (hehe). Kami belanja berbagai bahan jamu dan melihat ada pedagang menjual ramuan khusus yang diberi judul “Empon-Empon Corona”. Aku membagi pengalamanku ini sambil mengunggah fotonya ke Story di akun Instagram-ku. Banyak temanku memberi respon cepat berupa emotikon tertawa. Saat itu Covid19 sudah terkenal, tetapi tingkat terornya belum seperti hari ini (awal April 2020). Mungkin teman-temanku masih menyepelekan dan menganggap kenyataan ini komedi karena ilmu kedokteran saja belum mampu menemukan obat Covid19, kok bakul jamu justru sudah berani klaim anti-Corona!
 
Tetapi, aku tetap antusias mencoba membuat Golden Paste. Aku malah berpikir, jangan-jangan memang orang Indonesia – terutama keluarga di sekitarku – jarang sakit karena kami masih menjalani tradisi minum berbagai ramuan rempah, atau biasa juga disebut sebagai empon-empon itu. Aku dan pacarku sepakat untuk membuat Golden Paste. Ramuan jamu Golden Paste ini terdiri dari kunyit, temulawak, jahe dan cabe jawa. Keempat bahan ini dimasak menggunakan api kecil dan minyak kelapa atau minyak zaitun selama beberapa jam, diaduk dengan pelan hingga ramuan mengering dan menggumpal. Setelah aku posting soal Golden Paste di Instagram, banyak temanku mau mencoba. Aku semakin senang dan semangat mengirim ke lebih banyak teman. Yang berminat mencoba tidak kami mintai bayaran, mereka hanya menanggung ongkos kirim saja, atau bisa juga datang langsung ke rumahku.
 
Golden Paste © Bani Nasution Saat ini sektor ekonomi informal mati total. Kanan kiri tetanggaku sudah banyak yang tidak bekerja dan cemas akan kebutuhan sembako. Ibuku yang tiap hari menjahit juga sudah tidak bekerja karena tak ada pesanan. Kakakku yang terima pesanan seragam batik juga sepi pelanggan karena sekolah-sekolah sedang libur dan tidak bisa memesan seragam baru. Aku pun demikian, rencana syuting diundur sampai waktu yang aku tidak tahu sampai kapan. Beberapa jenis usaha yang sebelum krisis Covid19 sudah aku jalankan bersama teman-temanku, seperti pembuatan minuman fermentasi sejenis anggur lokal, sekarang hampir tak ada yang beli lagi. Aku dan orang-orang di sekitarku sekarang menghadapi bukan sekadar teror kesehatan, tetapi juga teror ekonomi, yang justru lebih menyeramkan.
 
Aku pikir, di masa krisis seperti ini aku lebih baik fokus ke kegiatan yang terkait soal kesehatan dan aksi-aksi sosial saja. Selain membuat Golden Paste, aku juga membuat dapur untuk umum, kecil-kecilan saja di halaman rumahku. Setiap hari aku dan ibuku memasak menu sederhana, siapa saja yang merasa perlu makan dan kebetulan berada di dekat lingkungan kami, kami persilakan makan gratis. Kami juga saling bertukar lauk antartetangga. Beberapa kawanku yang kehilangan pekerjaan karena krisis Covid19 datang ke rumah sekadar untuk menghabiskan waktu luang. Dapur kami menjadi ajang masak dan makan bersama sambil berdiskusi soal apa yang bisa kami lakukan untuk bertahan hidup selama krisis dan setelahnya.
 
Untuk di masa depan, aku bercita-cita untuk menekuni usaha pembuatan jamu dan mengokohkan merek jamuku yaitu “Perjamuan“. Aku juga masih memelihara semangat untuk membesarkan bandku - aku main drum – yang namanya ///AGAMA\\\.
 

Top