Perpustakaan sebagai Penerbit Bukan hanya Literatur Abu-Abu

The reading room in the library of the Humboldt University in Berlin

Perpustakaan bukan lagi sekadar konsumen dan penyimpan publikasi. Semakin banyak perpustakaan, terutama perpustakaan riset, kini bertindak sebagai penerbit. Digitalisasi yang terus berkembang membuka peluang baru di bidang penerbitan.

Di kawasan Anglo-Amerika, penerbit-perpustakaan sudah lama dikenal. Contoh terkemuka adalah terbitan oleh institusi seperti Universitas Oxford atau Cambridge. Jerman tidak mempunyai sejarah serupa. Publikasi oleh perpustakaan di sini pada umumnya terbatas pada apa yang disebut literatur abu-abu – artinya, buku dan terbitan yang tidak dipasarkan melalui jaringan toko buku, melainkan dikeluarkan oleh Bibliografi Nasional Jerman dan dikhususkan untuk koleksi perpustakaan.

“Tetapi peran perpustakaan tengah berubah sementara ini.  Perpustakaan bukan lagi sekadar pelanggan yang membeli terbitan, melainkan memanfaatkan know-how yang dimiliki untuk turut terlibat di banyak tahap dalam proses penerbitan,” ujar Regina Schmolling. Ia pimpinan bidang ilmu budaya di Perpustakaan Universitas Bremen, sekaligus sekretaris panitia tetap Seksi Pengadaan dan Pengembangan Koleksi di Federasi Internasional Asosiasi Perpustakaan dan Institusi (IFLA). Kongres Dunia IFLA yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2015 di Capetown mengagendakan tema “Perpustakaan sebagai Penerbit”.
 

Pengertian Baru Penerbit
 

Fokus kegiatan penerbitan yang dimaksud bukan pemasaran monografi seperti yang biasa dilakukan.  Perpustakaan riset maupun perpustakaan umum memang sering menerbitkan edisi khusus dalam rangka peringatan atau ulang tahun, juga sebagai e-book.  Tapi pasar itu relatif kecil. “Sekarang ini pengertian penerbit perlu diperluas,” kata Schmolling. Sebagai contoh ia menyebutkan disertasi, yang oleh perpustakaan universitas disimpan dalam format digital pada server dokumen agar dapat diakses. “Kerja editorial di sini adalah penilaian suatu dokumen oleh bidang keilmuan terkait. Pihak perpustakaan melakukan kerja penerbitan dengan menyimpan karya tersebut secara permanen.”

Di pasar jurnal ilmiah pun perpustakaan semakin berperan sebagai penerbit. Pemicunya adalah apa yang disebut krisis jurnal pada akhir tahun sembilan puluhan. Sejumlah penerbit dengan posisi monopoli menaikkan harga abonemen publikasi mereka sedemikian rupa, sehingga banyak perpustakaan tidak sanggup terus berlangganan. Akibatnya, berbagai perguruan tinggi beserta perpustakaan masing-masing memilih mengeluarkan jurnal sendiri secara online. Tidak semuanya mampu bersaing dengan jurnal ilmiah yang telah mempunyai nama. Tetapi publikasi seperti German Medical Science – yang dikelola oleh 140 asosiasi medis dan diterbitkan oleh Perpustakaan Pusat Köln – berhasil mendapat tempat di pasar. “Perpustakaan yang bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan riset memiliki masa depan sebagai penerbit,” Schmolling mengutarakan keyakinannya.
 

Digitalisasi sebagai Edisi Kritis
 

Bidang lain adalah digitalisasi koleksi lama, yang sering kali juga ditangani oleh perpustakaan negara bagian. “Kerja editorial di sini adalah seleksi judul yang dianggap patut dialihkan ke format digital,” Schmolling menjelaskan. “Ini menyerupai penerbitan ulang digital sebagai edisi kritis.” Sebagai contoh ia menyebutkan digitalisasi Injil Gutenberg di Göttingen dan karya-karya Raja Prusia Friedrich II. di Perpustakaan Universitas Trier.

Judul-judul dari koleksi lama disunting dan dikaitkan satu sama lain: Dengan bantuan perangkat digital yang memungkinkan pembuatan tautan dan rujukan. “Kita berada di sebuah era di mana dokumen kertas hanya satu di antara sekian banyak varian,” Schmolling menegaskan. Pengembangan apps pun – yang antara lain dilakukan oleh Perpustakaan Negara Bagian Bavaria atas dasar koleksi digital – dapat dipandang sebagai kegiatan penerbitan dalam arti luas.
 

Menyimpan Data Penelitian

Sebagai contoh perubahan paradigma di bidang penerbitan oleh perpustakaan Schmolling menyebutkan dokumentasi data primer. Data riset yang menjadi dasar suatu publikasi disimpan di server perpustakaan agar juga dapat diakses oleh orang lain. “Di sini perpustakaan membawa serta pengalaman dalam hal standarisasi dan kategorisasi konten,” demikian penjelasan Schmolling. “Kami mencatat dan menyimpan konten sehingga dapat ditelusuri.”

Model-model yang disebut di atas bukan strategi usaha berorientasi profit bagi perpustakaan yang didukung dengan dana publik. Yang dipentingkan adalah kebebasan akses ke konten. Tentu tidak tertutup kemungkinan bahwa model yang sudah teruji diambil alih dari penerbit atau perusahaan lain. Aktivitas perusahaan Google asal AS, yang telah mengikat kontrak dengan institusi di seluruh dunia untuk mendigitalisasi koleksi mereka, ditanggapi secara kritis oleh Schmolling. “Kita tidak tahu ketentuan apa yang akan diberlakukan Google agar dapat meraih profit maksimal jika memberi akses terhadap warisan budaya kepada masyarakat,” ujar Schmolling.  Justru karena itu, perpustakaan dituntut untuk menentukan sikap: “Peran apa yang ingin kita mainkan dalam proses penerbitan elektronik? Apakah kita akan menyerahkan kepada pihak lain – atau turut serta secara aktif?”