WAKIL JERMAN DALAM LOMBA “24 Wochen” karya Anne Zohra Berrached

“24 Weeks” by Anne Zohra Berrached
Photo (detail): © Friede Clausz

Tahun ini memang hanya ada satu film yang mewakili Jerman dalam lomba di Berlinale, tetapi film itu sangat patut ditonton. Dan dengan demikian Anne Zohra Berrached pun mulai sekarang menjadi salah satu pembawa harapan baru film arthouse Jerman.

Astrid adalah komedian sukses di televisi yang menjadikan kehamilannya sebagai topik lawakannya. Adegan-adegan pertama dalam film menyiratkan suasana yang penuh kasih sayang, hangat, bahagia, dan bebas masalah. Tetapi kesan itu tidak bertahan lama: Berita mengejutkan bahwa calon bayinya mengidap sindrom Down menghantam keluarganya bagaikan palu godam.

Dunia berhenti berputar

Para petugas paramedis asyik mengobrol tentang resep kue dadar, sementara dunia pasangan yang berbahagia itu seakan-akan runtuh. Pembawa kabar buruk tersebut tidak diperlihatkan – kita hanya menyaksikan bagaimana beritanya tercermin pada raut wajah kedua calon orang tua. Namun pasangan yang dikaruniai rasa humor yang tidak tergoyahkan itu enggan menyerah, dan dalam sekejap sudah terjadi diskusi mengenai istilah mana yang benar secara politis untuk anak penyandang cacat. Dan ketika sang ayah berkata, “Aku penasaran seperti siapa tampangnya nanti,” sang ibu menjawab: “Pasti seperti kamu, hanya saja dengan Down.”

Reaksi orang-orang di sekeliling mereka berkisar antara “Ya, ampun!” bernada terpukul sampai “Mungkin ada hikmahnya,” yang berkesan pasrah. Sesuai dengan pesan dalam kue keberuntungan di atas meja – “Mereka yang tangguh takkan bertekuk lutut menghadapi cobaan apapun” – kedua calon orang tua mengumumkan mereka sepakat akan mempertahankan kehamilan. Kita baru mulai gugup ketika dokter tampak gelisah pada pemeriksaan berikut. Kabar mengenai kelainan jantung bawaan sang bayi tidak disampaikan di depan kamera. Pertanyaan “Apa yang bisa kita lakukan?” mendapat jawaban yang lugas, tetapi tidak terelakkan: “Tidak ada. Kita harus menghormati kekuasaan alam. Ini sudah takdir.”

Sebuah film yang tidak menghakimi

Film ini secara mengesankan mengangkat beragam pertanyaan mudah maupun sukar yang muncul ketika Astrid dan Markus memikirkan kemungkinan menggugurkan kandungan menjelang akhir masa kehamilan: Masih bisakah aku menjadi ibu seperti yang kucita-citakan? Mampukah aku melakukan itu semua? Tidak ada jawaban yang pasti. Setiap protagonis menghadapi kebingungan dan gejolak perasaan tersendiri. Dilihat dari kacamata hukum, yang akan menjadi dasar bagi keputusan besar untuk mengaborsi janin berusia 24 minggu yang mampu bertahan hidup bukanlah diagnosis sang bayi, melainkan keraguan apakah sang ibu secara fisik dan psikis sanggup mengurus anak penyandang cacat berat.

Terasa jelas bahwa tema ini dekat di hati Anne Zohra Berrached. Pemicu awal film ini, menurut keterangan sang sutradara, adalah fakta bahwa 90 persen perempuan di Jerman memilih menggugurkan kandungan dalam situasi seperti itu. Para penonton mendapat kesempatan menjadi saksi kegalauan yang mengiringi berita mengenai suatu cacat genetik: Pandangan pribadi dan rasa kemanusiaan setiap orang akan menghadapi batu ujian. Namun film ini tidak menghakimi, dan selain mendukung hak menggugurkan kandungan juga tidak mengambil sikap tertentu. Meskipun sutradara Anne Zohra Berrached mengungkapkan emosi para protagonisnya kepada penonton, melalui film ini ia memperlihatkan dengan sangat jelas: Kita tidak pernah tahu betapa orang lain menderita akibat keputusan mereka sendiri.