Future Perfect SENI DAUR ULANG

Alison McDonald
© Photo (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley

Ketika masih menjadi mahasiswa seni patung, Alison McDonald sering tidak mampu membeli material seperti perunggu. Kenyataan tersebut mengilhami seniman asal Australia ini untuk membina karier dengan mendaur ulang barang bekas.

Alison McDonald sering mendengar komentar bahwa karya seninya adalah sampah. Komentar itu disetujuinya dengan sepenuh hati.

Ia menggugat masyarakat pembuang (throwaway society) melalui karya-karya seninya yang beragam, mulai dari instalasi publik ukuran raksasa dari tutup botol plastik yang dibuang sampai anting-anting dari ikan-ikanan plastik yang semula berisi kecap.

Alison menyebut dirinya sebagai pematung yang memberi nilai tambah kepada material sehari-hari. Ia lebih suka menggunakan kata “daur tambah” (upcycling) daripada daur ulang (recycling). “Itu menyampaikan pesan bahwa sampah bisa diberi nyawa dan nilai baru, walaupun belum tentu nilai uang,” ia menjelaskan. “Ada orang yang berkata ‘Idih – itu cuma plastik’, tapi sebagian besar orang senang.”

Seniman asal dari Geelong itu menambahkan: “Saya lebih suka membuat karya seni yang menyoroti keseharian dan manusia daripada karya seni agung dengan material yang sangat mahal. Kalau kita bekerja dengan material mahal tersebut, kita harus hati-hati sekali, sehingga kehilangan kebebasan artistik. Kalau dengan botol plastik, kita jauh lebih bebas untuk bermain-main.”

KEBIASAAN MEMASANG TUTUP BOTOL COLA

Sekitar sepuluh tahun lalu Alison mendapat ide untuk berkarya dengan sampah. Ketika masih menjadi mahasiswa seni patung, ia sering tidak mampu membeli material seperti perunggu. Tetapi waktu itu suaminya biasa minum Cola, yang berakibat botol plastik berikut tutupnya pun menumpuk.

Daripada membuang semuanya, mahasiswi seni itu memanfaatkannya untuk membuat karya seni publik ukuran besar. Untuk Strand Ephemera, sebuah pameran patung ruang terbuka di Townsville di bagian utara Queensland, ia menciptakan beberapa ubur-ubur raksasa sepanjang lima meter dengan menggunakan botol plastik PET, senar pancing nilon, kawat, dan pengikat kabel.

Kawasan itu mempunyai reputasi buruk karena ubur-ubur atau “stinger” yang sebagian mampu membunuh manusia. Selama musim ubur-ubur kotak, yang berlangsung dari Oktober sampai Januari, orang disarankan tidak berenang. Ubur-ubur tersebut sangat cantik, tetapi berbahaya – mirip dengan plastik, yang telah menimbulkan ketergantungan dalam masyarakat, namun sekaligus menghasilkan begitu banyak sampah.  Dan sementara botol bekas digunakan oleh Alison untuk menciptakan ubur-ubur yang indah, tutup botolnya tetap menumpuk! Karena itu, ia pun mengambil langkah selanjutnya dalam perjalanan menjadi seniman sampah.
 

GO WITH THE FLOW – IKUTI ARUS

Tutup botol yang berjumlah puluhan ribu itu akhirnya dijadikan bagian dari Flow, sebuah instalasi raksasa aneka warna yang semula dipamerkan menyerupai air terjun sampah di dinding samping Umbrella Studio di Townsville.

“Flow itu ibarat sepotong kain dan menyoroti segala sesuatu yang terbawa oleh sungai ke laut,” Alison menjelaskan. “Orang biasanya memegang-megang Flow karena penasaran terbuat dari apakah karya itu. Baru kemudian mereka sadar bahwa bahannya hanya tutup botol dari plastik.”

Koleksi tutup botol sang seniman mulai tumbuh setelah kerabat, teman, dan bahkan orang asing mulai berdatangan untuk menyumbangkan tutup botol, sekalipun tidak diminta.

“Kadang-kadang kalau saya lagi di pusat kota, saya kembali ke tempat parkir mobil saya dan menemukan kantung plastik berisi tutup botol.” Alison menemukan bahwa ia bukan satu-satunya orang yang mengumpulkan tutup botol dari plastik.

Keluarga seorang perempuan yang juga gemar menyimpan tutup botol dan telah meninggal karena kanker payudara, misalnya, menyerahkan koleksi almarhumah kepada sang seniman. Alison mengadakan kegiatan bengkel yang terbuka untuk umum, di mana orang dapat berpartisipasi merakit Flow. Putri dan cucu perempuan penyumbang yang telah meninggal tadi juga datang dan ikut membantu. Pertemuan itu sangat emosional. “Pada akhirnya kami semua tentu saja menangis. Mereka sangat senang bahwa koleksi tersebut tidak perlu dibuang, dan malah menjadi bagian karya seni,” Alison bercerita.

“Flow tercipta melalui partisipasi publik yang intensif, dan menurut saya, partisipasi itu menambah bobotnya,” sang seniman menyimpulkan.
 
  • Flow: Upgecyclete Plastikdeckel und Kabelbiner, 12 x 7 Meter, 2010-2013 © Foto (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
  • Alison in her studio with Ball and other work in the background © Foto (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
    Alison in her studio with Ball and other work in the background
  • Trickle: Individually hand cast and reduced recycled plastic lids and wire, 100 x 60 x 1cm, 2013 © Foto (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
    Trickle: Individually hand cast and reduced recycled plastic lids and wire, 100 x 60 x 1cm, 2013
  • R.R.R.: Recycled hand cut and coloured PET plastic, silver coated wire, 68 x 20 x 38 cm, 2012-2015 © Foto (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
    R.R.R.: Recycled hand cut and coloured PET plastic, silver coated wire, 68 x 20 x 38 cm, 2012-2015
  • Fractal 2: Recycled hand cut PET plastic bottle, Triptych 100 x 32 cm, 2008 © Foto (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
    Fractal 2: Recycled hand cut PET plastic bottle, Triptych 100 x 32 cm, 2008
  • Fractal 3: Recyclete und handgeschnittene PET-Flasche, Triptychon 100 x 32 cm, 2008 © Photo (CC BY-ND 4.0): Aaron Ashley
    Fractal 3: Recyclete und handgeschnittene PET-Flasche, Triptychon 100 x 32 cm, 2008
 

BERPIKIR SECARA GLOBAL, MEMANFAATKAN ULANG IKAN SECARA LOKAL

Demi menggambarkan dampak tutup botol plastik, Alison menciptakan Global – sebuah struktur berbentuk bola dengan ukuran 1,2 meter, yang juga terbuat dari tutup botol yang “didaur tambah”, tetapi memiliki nuansa internasional.  Setiap kali teman-temannya kembali dari luar negeri, mereka membawakan tutup botol dengan tulisan dalam berbagai bahasa. “Saya tidak ingat lagi dari berapa banyak negara,” ujar Alison sambil tertawa.

Ia berharap bahwa karya-karyanya merangsang orang untuk merenungkan keberlanjutan dan pemanfaatan bahan bekas dengan memberi nilai tambah: “Cara berpikir kita perlu diubah. Hanya karena orang menganggap sesuatu sebagai sampah tidak berarti bahwa barang tersebut sudah tidak berguna.”

Dan Alison merasa bahwa pendekatannya berhasil. Di stan-stan bazar tempat ia kadang-kadang memamerkan perhiasan hasil karyanya, para pembeli menanyakan asal-usul materialnya. “Orang-orang senang bahwa ada cerita di balik setiap perhiasan dan bahwa sebuah benda mendapatkan kegunaan baru.” Anting-anting ikan sushinya – sejatinya kemasan plastik bekas bungkus kecap yang dililit kabel telepon lama – sangat digemari. Alison menyadari keabsurdan ikan-ikan kecil yang kini ada di mana-mana: “Beberapa ratus tahun ke depan akan ada tim ahli arkeologi yang menemukan seekor ikan sushi saat menggali, lalu berusaha menelusuri kegunaannya. Bayangkan wajah mereka ketika menyadari bahwa benda itu dulu diisi kecap, dipakai, kemudian dibuang. Sesuatu yang hanya ada beberapa detik saja di tangan kita.”

PESAN YANG BERKILAUAN

Alison senang membuat benda indah dari barang yang oleh orang lain dibuang tanpa pikir panjang. Tapi kadang-kadang diperlukan waktu cukup lama sampai ia tahu apa yang akan dilakukannya dengan objek-objek simpanannya.

Selama lima tahun ia menimbun lebih dari 7000 keping identifikasi sisa inspeksi tiang listrik sambil memikirkan hendak diapakan koleksinya itu. Keping-keping aluminium berukuran kecil itu mencantumkan jenis kayu yang digunakan untuk tiang listrik tertentu dan menyebutkan kerusakan apa saja yang ditemukan. Masing-masing keping digunakan selama empat tahun saja, dan selanjutnya dibuang.

Akhirnya Alison menciptakan Shimmer, yaitu dengan membungkus menara penjaga pantai dengan keping-keping yang bergerak mengikuti embusan angin sehingga memperlihatkan sisi yang berwarna merah atau kuning.  Menara yang berbentuk pelataran yang diangkat itu digunakan oleh para petugas untuk mengawasi para perenang di laut sambil memantau keberadaan hiu, arus balik, serta bahaya lainnya.  Merah dan kuning adalah warna khas penjaga pantai Australia yang tersohor di seluruh dunia. “Saya berusaha mengaitkan objek dengan pesan yang ingin disampaikan. Kemilau ombak berkesan mengundang dan menarik orang untuk masuk ke air. Kemilau itu indah sekali, namun sekaligus berbahaya, dan karena itu diperlukan penjaga pantai di latar belakang.”

MASYARAKAT PEMBUANG

Alison McDonald berharap orang akan memanfaatkan kembali barang bekas. Dan ia mempunyai pesan khusus untuk para orang tua: “Anda tidak perlu uang banyak untuk membuat karya seni bersama anak-anak Anda – cukup menengok ke keranjang sampah Anda.” Ia juga ingin agar orang berpikir dua kali sebelum membuang sesuatu. “Buang… Apa itu?” sang seniman bertanya.