Akses cepat:
Langsung ke konten (Alt 1)Langsung ke menu sekunder (Alt 3)Langsung ke menu utama (Alt 2)

Penanggap

Andi Achdian

Andi Achdian © Andi Achdian Achdian adalah dosen pada Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial, Universitas Nasional di Jakarta. Di samping menekuni bidang akademis, ia juga aktif sebagai anggota tingkat nasional dewan pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia, editor pengelola Jurnal Sejarah, dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta. Selain itu, Achdian juga menjabat sebagai kurator museum dan penyelia pembangunan museum hak asasi manusia Omah Munir. Minatnya terfokus pada sejarah kolonial, nasionalisme dan pergerakan antipenjajahan pada pergantian abad ke-20 di Hindia Belanda.

Ayu Utami

Utami © Ayu Utami Ayu adalah seorang penulis Indonesia peraih penghargaan yang menjadi penerima Prince Clause Award (2000) dan Penghargaan Ahmad Bakrie untuk Kesusastraan (2018). Semasa rezim militer Indonesia, Ayu berperan sebagai wartawan dan aktivis kebebasan pers. Ia salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen, yang kemudian dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh rezim militer. Ayu berpandangan bahwa radikalisme agama merupakan tantangan utama terhadap kebebasan berekspresi dalam sistem politik demokratis Indonesia. Ia juga menjadi direktur Literature & Ideas Festival di Salihara serta direktur program Komunitas Utan Kayu.

Brigitta Isabella

Isabella © Brigitta Isabella Brigitta berafiliasi dengan KUNCI Cultural Studies Center, sebuah kolektif riset berbasis di Yogyakarta yang bekerja melalui eksperimentasi kreatif dan penyelidikan spekulatif dengan fokus pada perpotongan antara teori dan praktik. Pada tahun 2014, Brigitta memprakarsai From Bandung to Berlin, sebuah platform kolaborasi artistik terbuka dan bersama yang berfokus pada ruang dan waktu historis antara Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung (1955) dan keruntuhan Tembok Berlin (1989).

Grace Samboh

Samboh © Wolfgang Bellwinkel Grace tengah menelusuri kerja kurator pada skena di sekelilingnya. Ia bergerak dengan lincah di tengah elemen-elemen skena seni yang ada di lingkungannya, karena menganggap klaim bahwa Indonesia kekurangan prasarana kesenian, khususnya yang dimiliki atau dikelola oleh negara, sebagai pandangan yang ketinggalan zaman. Ia meyakini bahwa kerja kurasi berarti memahami dan berbuat pada saat yang sama. Pada tahun 2011, ia turut mendirikan Hyphen, sebuah kelompok diskusi tertutup yang berupaya merangkai sedikit demi sedikit sejarah seni Indonesia yang terpotong-potong dengan mempelajari (ulang) praktik-praktik kontemporer Indonesia dan menempatkan semuanya ke dalam konteks historis masing-masing. Ia adalah penyusun program untuk Simposium Khatulistiwa pada Biennale Yogyakarta (2012-2022).

Hilmar Farid

Hilmar Farid © Hilmar Farid Hilmar Farid adalah seorang sejarawan, akademisi dan aktivis. Ia orang pertama tanpa latar belakang karir di bidang pemerintahan yang diangkat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (2015). Ia turut mendirikan Jaringan Kerja Budaya (1994) dan menerbitkan publikasi cetak berkala Media Kerja Budaya. Hilmar juga turut mendirikan dan sempat mengetuai Institut Sejarah Sosial Indonesia (2002-2007) dan menjabat sebagai ketua asosiasi Praxis (sejak 2012). Ia aktif dalam Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan Inter-Asia Cultural Studies Society sebagai editor.
 

Manneke Budiman

Budiman © Komunitas Salihara Manneke Budiman mengajar Kesusastraan dan Kajian Budaya di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ia kini menjadi wakil dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan. Minatnya di bidang riset meliputi kajian Asia Tenggara, kajian gender, budaya anak muda dan budaya populer, sastra Indonesia kontemporer dan kajian literasi. Riset yang tengah dilakukannya menyoroti globalisasi dan tanggapan lokal dalam kaitan dengan pembentukan identitas dan kebangsaan. Bersama Abidin Kusno, ia sedang menggarap publikasi berikutnya, Time, Power and Mobility in Urban Spatial Politics in Indonesia (Palgrave).
 

Marco Kusumawijaya

Kusumawijaya © Salzburg Global Seminar Marco adalah seorang arsitek dan pakar perkotaan. Selama 30 tahun terakhir, ia menekuni bidang arsitektur, seni, kelestarian perkotaan serta perumahan di berbagai lokasi di Indonesia dan Asia Tenggara dan Timur. Ia sempat menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (2006-2010). Ia juga pernah menjadi kurator sejumlah pameran dan program residensi seniman serta penasihat untuk berbagai organisasi seni di beberapa negara. Ia ikut mendirikan Rujak Center for Urban Studies (2010) dan sempat menjadi direktur eksekutifnya. Sejak 2018, ia diangkat sebagai ketua Tim Gubernur untuk Pencepatan Pembangunan Bidang Pengelolaan Pesisir DKI Jakarta. Ia terlibat dalam banyak konferensi mengenai seni dan urbanisme berkelanjutan di kota-kota di Indonesia dan di luar negeri.

Simon Soon

Simon Soon © Simon Soon Soon adalah dosen senior Sejarah Seni di Cultural Centre, University of Malaya. Bidang minatnya meliputi studi perbandingan modernitas dalam seni, sejarah perkotaan, dan historiografi seni. Ia menulis tentang berbagai topik seputar seni abad ke-20 di Asia dan sesekali menjadi kurator pameran. Ia direktur lapangan di Penang untuk Site and Space in Southeast Asia sebuah proyek riset yang didanai oleh prakarsa Connecting Art Histories dari Getty Foundation. Ia juga anggota redaksi Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia dan anggota tim Malaysia Design Archive.


Moderator

Bambang Harymurti

Harimurti © Bambang Harymurti Sejak awal tahun 1980-an, Harymurti bekerja sebagai wartawan yang meliput berita regional dan internasional untuk sejumlah media, termasuk majalah TIME, harian Media Indonesia dan majalah Tempo Weekly News. Harymurti sempat menjadi chief executive officer dan corporate chief editor Tempo International Media. Ia telah menerima banyak beasiswa, termasuk Fulbright Fellowship dan New Generation Fellowship di East West Center. Ia pun meraih berbagai penghargaan, termasuk penghargaan Excellence in Journalism dari harian Indonesian Observer (1997) dan Pena Award dari PWI Jawa Timur (2006).
 

Kwartarini Wahyu Yuniarti

Kwartarini © Kwartarini Wahyu Yuniarti Yuniarti mengabdi pada Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada sejak 1990, mulai dari profesor muda (associate professor) hingga wakil dekan untuk Bidang Penelitian, Kerja sama dan Alumni. Di bidang profesi, ia tergabung dalam International Network of Clinical Epidemiology and Biostatistics, Network of Humanitarian Action, Indonesian Psychological Association, dan Asian Association of Social Psychology. Setelah meraih gelar doktor dari Fakultas Psikologi, Universitas Hamburg, Jerman (2004), Yuniarti tetap sangat aktif melakukan riset, presentasi dan penerbitan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Minat utamanya di bidang riset adalah psikologi kesehatan, psikologi penduduk asli, dan psikologi lintas budaya.

Melani Budianta

Budianta © Jakarta Post Budianta dikenal luas sebagai kritikus sastra, khususnya terkait kajian gender, budaya dan pascakolonial. Ia telah menerbitkan banyak makalah ilmiah, yang dijadikan bab dalam buku-buku terbitan internasional. Ia memegang sejumlah jabatan, antara lain editor jurnal internasional Inter-Asia Cultural Studies, Routledge; anggota dewan editor untuk antologi pada PALA (Project of American Literature in Asia), dan menjadi fellow pada Asian Regional Exchange for New Alternative (ARENA). Saat ini, Budianta mengajar di Fakultas Ilmu Budaya pada Universitas Indonesia.

Philippe Pirotte

Pirotte © Jakarta Biennale 2017 Pirotte adalah ahli sejarah seni dan kurator. Ia dekan Staatliche Hochschule für Bildende Künste Städelschule dan direktur Portikus di Frankfurt am Main. Di samping itu, ia menjadi ajun kurator senior di UC Berkeley Art Museum and Pacific Film Archive, dan profesor tamu pada Nanyang Technological University di Singapura. Ia turut mendirikan pusat seni kontemporer Objectif-Exhibitions di Antwerpen (1999) dan menjadi direktur Kunsthalle Bern di Swiss (2005-2011). Pirotte pernah menjabat sebagai penasihat senior pada Rijksakademie for Visual Arts di Amsterdam (2004-2013). Ia kurator La Biennale de Montréal (2016) dan anggota tim kurator Jakarta Biennale (2017).
 

Top